Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Fatwa dan pembelaan Syekh al-Azhar atas sahabat

Posted by infosyiah pada 0, Mei 4, 2007

Fatwa dan pembelaan Syekh al-Azhar atas sahabat

Alarabiyah memberitakan fatwa Syekh al-Azhar sebagai reaksi pemberitaan harian Mesir Alfajr tentang Abu Hurairah seorang sahabat Nabi dan salah satu periwayat hadis yang paling diandalkan dan Imam Bukhari , penulis buku hadis paling sahih setelah al-Quran.

Fatwa itu berbunyi: “Membeli dan membaca setiap media yang menurunkan posisi para sahabat Nabi adalah haram hukumnya”.

Menanggapi fatwa itu, Menteri Wakaf dan Urusan Islam Mesir, Hamdi Zaqzuq mengusulkan adanya undang-undang yang melarang kritikan dan penghinaan atas sahabat Nabi, ulama dan para perawi hadis.[infosyiah]

10 Tanggapan to “Fatwa dan pembelaan Syekh al-Azhar atas sahabat”

  1. Demi menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam, yang semakin hari semakin memprihatinkan ini.

    Kita harus menatap masa depan… kalau kita cuma sibuk mengkritisi orang lain yang sudah meninggal, waktu kita buang sia-sia. Banyak urusan kemanusiaan yang kita lalaikan… lihatlah saudara-saudara kita yang di Irak, Libanon, Afganistan, Palestina…

    Daripada sibuk mengungkit-ungkit kejelekan orang yang telah meninggal…buang-buang energi dan sumberdaya… lebih baik bertindak nyata menolong saudara-saudara kita yang tertindas dengan segala cara.

    Kritisi saja Amerika dan antek-antek Zionis, blow up kebiadapan mereka biar dunia tahu betapa rendahnya akhlak mereka. Kesimpulannya, menurut hemat saya…. Fatwa tersebut bagus.

  2. Demi kemajuan intelektual kita, fatwa tersebut… tidak produktif. Karena, kondisi Islam pada saat sekarang tidak lepas dari kelakuan para pendahulu…. kalau yang tidak baik tidak boleh di kritisi, yang haq dan yang batil akan menjadi samar.

    Bagusnya, boleh mengkritisi asal jangan memaksakan pemahaman kita kepada orang lain. Bersikap seperti ilmuwan sejati lah….

  3. T Mulya said

    Wah fatwa seperti itu tambah menyulitkan usaha dalam rangka penelitian hadis2 untuk memisahkan mana yang sahih dan mana yang dhaif khususnya di kalangan Sunni. Bagaimana mungkin para sahabat yang manusia biasa tidak boleh disalahkan dan apabila berbuat salahpun kita harus “berbaik sangka” sehingga terkesan disejajarkan dengan Nabi ?

    Bagaimana sikap kita ketika menemukan suatu hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat dan ternyata maknanya bertentangan dengan AlQuran ? Apakah demi membela/menjaga kehormatan sahabat tsb hadis yang diriwayatkannya tetap dianggap sahih ?

  4. eurekamal said

    penghinaan dan degradasi kedudukan Nabi seperti yang termaktub dalam Bukhari tetap boleh, namun penghinaan dan degradasi martabat para sahabat nabi, haram hukumnya…(Ajib)

  5. abu fadl said

    Pengkultusan sahabat (menganggap sahabat adalah suci dan tidak punya kesalahan) meredam kemajuan ilmu pengetahuan Islam di masyarakat. Mengkritisi sahabat bukan dengan semangat menjatuhkan karakter (penghinaan), tapi untuk mendapatkan intisari ajaran Islam yang benar dari Rasulullah saww.

  6. http://Www.12-imam.com

  7. H Muhammad Abdullah said

    Assalamualaikum

    Pepatah Melayu

    BINATANG TIDAK AKAN JATUH KE DALAM LUBANG YANG SAMA UNTUK KE DUA KALINYA.

    Tidak ada manusia yang sempurna; karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh Allah. Kita harus mempelajari kesalahan2 yang pernah dilakukan oleh para sahabat; supaya ummat Islam tidak melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya, ke tiga kalinya ke empat kalinya; sehingga ummat Islam terus menerus menderita.

    Jika kita membaca Hadith (Kitab Nahjul Balaghoh); kita akan dapat melihat bahwa Imam Ali Ibn Tholib memperingati Muawiyah Ibn Abu Sufyan untuk tidak melakukan kesalahan2 dan perbuatan2 yang bertentangan dengan AlQuran; tetapi Imam Ali Ibn Tholib melarang pengikut pengikutnya untuk menghina, mencela, mengejek Muawiyah Ibn Abu Sufyan dan musuh musuh Islam yang lain.

    Kitab Nahjul Balagho Surat no 69 yang ditulis untuk Gubernur Al Harith Ibn Abdullah Al Hamdani.

    Bunuhlah kemarahanmu dan maafkan mereka yang bersalah; ketika kamu dapat menghukum mereka.

    Kita semua wajib mempelajari kesalahan2 yang pernah dilakukan oleh para sahabat dan para tabiin; untuk dijadikan pelajaran yang berharga; tanpa harus menghina, mengejek, melaknat, mencela para sahabat dan para tabiin; supaya semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh para sahabat dan para tabiin, tidak diulangi oleh ummat Islam sekarang.

  8. Abu Afkar said

    Bukan masalah haram atau halalnya. Tetapi upaya mencela shahabat Nabi SAW yang dalam ajaran Suni merupakan salah satu pilar ajaran Islam (bukan berarti mereka tidak salah) adalah upaya yang tidak produktif dan memancing di air keruh dan mempersulit persatuan Islam.

    Kalau di sampaikan untuk keperluan internal, sih silakan saja. namun jika dimaksudkan untuk propaganda, sungguh merupakan upaya yang tidak terpuji.

    Mulailah dengan PEMAHAMAN dan PENGHARGAAN atas pendapat masing-masing, dan carilah persamaan. Insya Allah persatuan Islam akan lebih mudah…

    Namun kalau temen2 Syiah berlebih-lebihan dan menonjolkan celaan terhadap sahabat, sangat sulit kerja sama, kasih sayang antar sesama muslim ini bertambah erat. Di saat yang sama temen2 Suni juga menahan diri dari prasangka yang berlebihan dan menyerang kaum Suni.

    Perdamaian hanya bisa dengan TAKE AND GIVE, RESPECT KEPADA PENDAPAT ORANG LAIN dan KOMPROMI. Tanpa itu… Impossible!!

    Karena yang terjadi adalah konfrontasi:
    – Dalil dibalas dalil
    – Tuduhan dibalas tuduhan
    – celaan dibalas celaan

    NEVER ENDING STORY!

  9. Acep Ahmad said

    salam,

    Terlepas dari kondisi kepribadian para sahabat yang memang berbeda-beda, tetap saja soal “keadilan” mereka di dalam meriwayatkan hadits-hadits itu adalah Benar. bagi saya, jelas tak ada kaitannya antara anda yang -misalnya- melakukan kesalahan dengan anda yang pada dasarnya adalah shaleh. kelihatannya, analogi ini memang perlu saya kemukakan. sebab, mereka ini adalah orang-orang yang terdekat dengan nabi, yang meskipun memiliki watak yang berbeda tetapi komitmen keislaman mereka begitu tinggi. intinya adalah, soal periwayatan hadits-hadits itu -Insya Allah- benar adanya dan tak mungkin mereka dengan kesengajaan yang dungu telah membohongkan perkataan-perkataan suci sang nabi.

    Saat ini, saya melihat sering terjadinya pencampur-adukann antara kedua hal tersebut. seolah-olah, kesalahan itu lalu boleh menutupi kejujuran apapun. masing-masing, memiliki unsur emosionalitas yang tinggi. jika kita memandangnya dengan kaca mata yang emosional, maka jelas sekali kebenaran itu akan menjadi kabur atau bahkan samasekali hilang. apapun dan siapapun, pelakunya!

    soal keterkaitan dengan masa lalu, hal itu memang benar adanya. tetapi memilah yang terbaik dari yang baik, tentu saja tak mesti dengan lemparan cacian atau pelaknatan. saya melihatnya justru kontra-produktif. terlebih jika dikaitkan dengan usaha-usaha pendekatan yang selama ini diusung oleh ulama-ulama suni dan syiah. jika persatuan, adalah peleburan yang satu ke dalam yang lainnya maka itu adalah bukan persatuan. biarkan saja berbeda dan masing-masing harus mencampakkan perasaan egosentrisnya ke dalam tong sampah sejarah. lagi-lagi, harus saya katakan, saya bukan sedang menghujat sejarah masa lalu yang kelam itu, tetapi pada intinya kitalah yang harus mengambil hikmah dan pelajaran agar hal itu tak pernah terjadi lagi pada masa yang akan datang.

    apakan anda boleh membayangkan, bagaimana jadinya bila kita saling menghujat pada apa yang pada keyakinan bawah sadarnya, adalah sakral? tentu saja, masing-masing memiliki kadar sakralitas yang berbeda. dan hal itu sebenarnya, harus kita akui sebagai bagian dari tradisi Islam yang maha kaya.

    wahai mereka yang menganggap dirinya sebagai ulama.. atau kaum intelek.. atau apa sajalah!

    Coba lihat dengan mata Kebenaran

    dan Bunuhlah kemarahanmu, maafkan mereka yang bersalah; ketika kamu dapat menghukum mereka (IMAM ALI RA)

    salam,

  10. Heri Setiawan said

    Ndak usah terlalu banyak diungkit2… satukan misi, hancurkan yahudi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: