Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Nabi Muhammad saw salat di atas mimbar, sujudnya di mana?

Posted by infosyiah pada 0, Mei 18, 2007

Nabi Muhammad saw salat di atas mimbar, sujudnya di mana?

Ketika yang pertama kalinya mimbar dibikin untuk Rasulullah saw, beliau salat di atasnya. Setelah membaca surat al-Fatihah dan surat, beliau mundur ke bawah mimbar untuk bersujud. Kemudian naik lagi untuk rakat kedua…begitu seterusnya sampai salat selesai. Setelah selesai salat, beliau menghadap ke arah para sahabat seraya berkata: “Saya salat demikian agar kalian mengikuti dan mempelajarinya dari saya”.

1. Sahih Bukhari, jilid 1, hal 106, Kitab Ash-Shalat, bab Shalat Fi As-Sathuh wa Al-Mimbar wa Al-Hasyb. Dan jilid 2, hal 11, Kitab Al-Jum’ah, bab Al-Khutbah ‘Ala Al-Mimbar.

2. Sahih Muslim, jilid 1, hal 386, Kitab al-Masajid wa al-Mawadhi’u al-Shalat, bab Jawaz Al-Khothwah wa al-Khothwatain Fi al-Shalat.

3. Sunan Ibnu Majjah, jilid 1, hal 455, Kitab al-Shalat wa al-Sunnah Fiha, bab 199 (Ma Ja’a Fi Bad’i Sya’ni al-Mimbar).

4. Sunan Abi Daud, jilid 1, hal 283, Kitab al-Shalat, bab Fi Ittikhadz al-Mimbar.

5. Sunan Nasa’i, jilid 2, hal 64, Kitab Al-Masajid, bab al-Shalat ‘Ala al-Mimbar.

Hal yang cukup mengundang pertanyaan adalah, mengapa sampai saat ini, para imam salat jamaah di masjidil Haram dan masjid Nabawi tidak pernah sama sekali melakukan salat semacam ini, padahal Rasulullah saw memerintahkan untuk mengikutinya? Bukankah dalam hadis tersebut dianjurkan untuk mempelajari dan mengamalkannya? Apa yang menyebabkan sampai saat ini tidak pernah ada yang melakukannya? Apakah ada kekhawatiran akan dianggap sebagai orang tolol?

Bisa dibayangkan apa sebenarnya yang terjadi. Apa yang menjadi alasan Nabi Muhammad saw harus memilih salat di atas mimbar yang nyata-nyata tidak ada tempat untuk melakukan sujud? Sehingga ketika tiba waktu sujud, beliau harus turun perlahan-lahan dari mimbar untuk melakukan sujud. Dan setelah turun melakukan sujud ke bawah mimbar Nabi Muhammad saw harus naik lagi ke atas mimbar untuk melanjutkan salatnya dan begitu seterusnya ketika hendak melakukan sujud. Apakah tidak cukup untuk menjelaskan setiap perbuatan yang diperbolehkan dengan ucapan, sehingga Nabi harus melakukan sebuah perbuatan yang sulit dipercaya seperti itu?

Sekarang mari kita perhatikan dua hadis dari Sunan Ibnu Daud berikut ini:

1. Hudzaifah berada di tempat yang lebih tinggi dari tempat para makmum berada, Abu Mas’ud menarik bajunya supaya turun dari tempatnya, dan setelah selesai salat Abu Mas’ud berkata kepadanya: “Tidakkah kamu tahu bahwa perbuatan ini dilarang?” ia menjawab: “Ya, aku ingat ketika kamu menarik bajuku”.

2. Ammar bin Yasir berada di tempat yang lebih tinggi dari tempat para makmum berada, Abu Mas’ud menarik tangannya dan Ammar mengikutinya untuk turun ke bawah. Setelah selesai salat Abu Mas’ud berkata kepadanya: “Tidakkah kamu mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda: “Imam jamaah tidak boleh berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat para makmum berada”? Ammar berkata: “Makanya ketika kamu menarik tanganku aku mengikutimu!”

Kandungan hadis ini, bahwa tempat imam jamaah tidak boleh lebih tinggi dari tempat makmum berada. Ini sesuai dengan hadis-hadis yang diriwayatkan melalui Ahlul Bait as.

Bukankah lebih baik, bila kita sedikit agak teliti tentang hadis-hadis yang ada dalam Shihah Sittah?!

Bila kita dihadapkan pada hadis-hadis seperti ini, apa sikap kita? Jawabannya kembali pada diri kita.[infosyiah]

10 Tanggapan to “Nabi Muhammad saw salat di atas mimbar, sujudnya di mana?”

  1. Geddoe said

    Hohoho, kelihatannya hegemoni beberapa hadits memang mesti dipertanyakan. Sayang tidak semua setuju. Berani melawan ulama? Tentunya diancam dengan neraka 😆

  2. udienz said

    hm… baru pertama comment nih….
    usul kalo menafsirkan ayat/hadits tolong jangan memakai logika doang, pelajari tata bahasa arab/Sastra Arabnya jg, kebudayaannya, n selalu bertanya…..dan jangan mau di doktrin (coz kita punya otak)

  3. tuh,, dimarain gara gara nafsirin ayat atau hadist pake logika,, 😛 jadi pake apaan yah?? cinta kasih??

    siapapun perawinya,, harus tetap diteliti ya,, 🙂

  4. Teguh said

    bertanya boleh-boleh saja. itu tanda penasaran. dan itu bisa baik juga.

    mungkin bisa digambarkan dahulu bagaimana ukuran dan posisi mimbar Nai SAW saat itu. jadi bisa berdiskusi berdasar gambaran yang jelas. bukan hanya dugaan buta saja.

    dan berhubung blog ini berjudul “infosyiah”, saya agak bingung ternyata tulisan-tulisan disini tidak menampilkan rujukan utama syiah sendiri seperti alkaafy.

    kenapa neeh tidak menampilkan jatidiri sendiri. takut ketahuan belangnya ya?

    kalau bingung mikir Nabi SAW solat, tidak mikir bahwa syiah istnaasyariyyah berkeyakinan Tuhan bisa ragu dan lupa ya? ( BAda’)

    let’s read ourselves the alkaafy….seberapa “seru” alkaafy itu ya?

  5. abdulsomad said

    Assalamualaikum wr wb
    Rasulullah ndak pernah meninggalkan sholat, tapi sekarang banyak ummat islam meninggalkan sholat.
    Saya rasa perkara ini lebih penting jadi bahan pemikiran bersama.

    Buat Ummat Islam sekarang buat Sholat baik di rumah atau di mesjid aja masih berraaat, apa lagi mau solat diatas mimbar segala..?!@

    Lebih baik carikan solusi bagaimana agar sholat menjadi mudah

  6. riad said

    Mudah itu bukan perkara yang sulit, kalau anda niat menjadikan sholat sebagai kebutuhan anda maka tanpa adzan pun, anda tahu kalau waktu shalat telah tiba, yang menjadikannya berat karena anda membiasakan menunda waktu sholat yg berujung pada tidak dikerjakan sholat tsb, dan mungkin sholat sengaja dilupakan untuk hal yg lain.

    oleh sebab itu alangkah baiknya kalau sholat di awal waktu karena kenikmatan sholat terletak diawal waktu. namun apabila masih mengalami kesulitan memohon dan berdoalah agar Dimudahkan urusannya. Karena hanya Dia-lah yg Maha Menguasai seluruh alam semesta beserta isinya ini. insya Allah

  7. Risma said

    iya nih, infosyiah kayaknya seperti salesman yang nawarin produk. bukannya mempresentasikan value produknya sendiri, malah cerita kesana kemari tentang kejelekan produk lain.

    lepas dari bener ngga nya cerita itu, sikap tersebut menandakan adanya rasa inferior pada diri si salesman. rendah diri. yang sangat mungkin disebabkan karena produk miliknya sangat jelek.

    itu commonsense nya.

    ayo insyiah. tunjukkin jatidirimu sendiri. dont worry about other product.

    buka aja alkaafynya, jelasin aja bada’nya, pede aja. betul mas Teguh, ideologi bisa dibangun diatas fanatisme.
    bisa saja yang syiah tetap syiah meskipun tahu yang aneh-aneh dalam ushulnya.

  8. emang ada yang bilang Allah bisa ragu dan lupa,,??

    @ Teguh

    kalo ga salah, saya pernah dikasi tau sama guru agama saya, kalo orang syi’ah itu walaupun kitab Al Kaafi itu notabene-nya punya syi’ah, tapi sama aja kaya kumpulan hadist yang lain,, ga semuanya tsiqah,, jadi ga semuanya dipake jadi pedoman,,

    untungnya, kita bisa belajar ushul fiqh ya,, 🙂

  9. eagle said

    Mas teguh ini sepertinya punya definisi Bada’ sendiri yg di paksakan harus di anut oleh org syiah.
    harusnya baca pendapat org syiah…

    satu lagi, jgn samakan kedudukan Al kafy seperti Bukhori muslim yg tdk bisa/boleh dikritik. posisi mereka di org syiah bukan rujukan utama selain Imam yg 12.

  10. Abu Aqli said

    @Teguh

    sudahkah antum membaca al kafi tuntas…?
    dan mengkajinya dengan Teliti (Tabbayun)..?

    ataukah antum hanya mendengar kabar burung saja..

    salam persaudaraan wahai saudara mahzab Ahlu sunnah…
    kindly answer my Q please…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: