Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Jelaskan pandangan al-Quran mengenai hubungan pemimpin dan rakyat?

Posted by infosyiah pada 0, Mei 22, 2007

Soal: Jelaskan pandangan al-Quran mengenai hubungan pemimpin dan rakyat?

Jawab: Ada dua bentuk ketaatan. Terkadang orang menaati orang lain karena ketakutan, ketamakan dan rendah diri. Ketaatan yang ditunjukkan oleh masyarakat yang hidup di zaman Firaun di zamannya: “Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya” (Zukhruf: 54). Terkadang ketaatan muncul berdasarkan keimanan dan kecintaan. Sebagaimana al-Quran berkata kepada Nabi Muhammad saw: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali Imran: 159).

Dalam Islam, hubungan antara rakyat dan pemimpinnya diistilahkan dengan kata “Wilayah”, kepemimpinan. Kata Wilayah bermakna mengikuti yang dibarengi dengan kecintaan. Pemimpin ilahi tidak pernah memaksa: “Bukanlah Aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan” (Shad: 86). Pemimpin ilahi tidak mementingkan dirinya sendiri: “Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu” (Kahfi: 110). Pemimpin ilahi tidak melihat dirinya lebih berhak dari orang lain. Ketika menghadapi bahaya ia tidak membiarkan rakyatnya. Imam Ali as berkata: “Di setiap peperangan, Nabi Muhammad saw lebih dekat dengan musuh dari pada kami. Ia diperintahkan oleh Allah swt agar mengucapkan shalawat dan doa kepada masyarakat: “Sesungguhnya salawat dan doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka” (Taubah: 103). Pada saat yang sama masyarakat diperintahkan untuk bersalawat dan berdoa kepadanya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Dengan demikian, hubungan antara rakyat dan pemimpin adalah hubungan cinta dan keselamatan, bukan ketakutan dan kekhawatiran.[infosyiah]

5 Tanggapan to “Jelaskan pandangan al-Quran mengenai hubungan pemimpin dan rakyat?”

  1. Haji Muhammad Abdullah said

    Kepada para pembaca yang pintar dan yang terhormat

    BAGAIAN PERTAMA

    Kita dapat membagi 3 kelompok negara, yaitu negara Totaliter (Thogut), negara Olkirasi dan negara Demokrasi.

    Negara Totaliter (Thogut) yang 100% dikuasai oleh seorang manusia; sehingga kekuasaan penuh berada di tangan seorang manusia. Seorang Pemimpin Negara di dalam negara Totaliter dapat berubah dengan cepat menjadi Diktaktor (Thogut) misalnya President Saddam Husain dari Iraq, Raja Reza Pahlevi dari Iran, Khalifah Muawiyah Ibn Abu Sufyan, Khalifah Yazid Ibn Muawiyah dll.

    Negara Olikrasi yang 100% dikuasai oleh Partai2 Politik atau orang2 tertentu di dalam kelompok tertentu; sehingga kekuasaan penuh di dalam negara Olikrasi berada di tanggan kelompok tertentu atau Partai Politik tertentu misalnya Partai Komunis berkuasa di China dan di Russia; atau Partai Golkar dan PDIP berkuasa penuh di Indonesia; atau Khalifah Abu Bakr & Khalifah Umar Ibn Khattab yang didukung oleh Partai Politik Muhajirun.

    Negara Demokrasi atau Imamah yang dikuasai 100% oleh Khulafa (masyarakat, ummat, Kaum, rakyat, bangsa dll) misalnya Kasus Nabi Muhammad dan juga Kasus Imam Ali Ibn Tholib

  2. Haji Muhammad Abdullah said

    BAGIAN KEDUA

    Penduduk Madinah adalah ummat Yahudi dan ummat Nasrani sebelum Hijrah. Ummat Yahudi percaya bahwa mereka adalah anak anak Tuhan; baca Bible Perjanjian Lama, Keluaran 4:22. Ummat Yahudi juga percaya bahwa Yesus adalah anak Setan; baca Bible Perjanjian Baru, Markus 3:22. Ummat Yahudi berkewajiban membunuh anak anak Setan; karena ummat Yahudi adalah anak anak Tuhan.

    Ummat Nasrani percaya bahwa ummat Yahudi bertanggung jawab atas pembunuhan Tuhannya ummat Nasrani di tiang salib; baca Bible Perjanjian Baru, Matius 27:25. Agama telah menyebabkan permusuhan dan kebencian di antara penduduk Madinah. Perbedaan suku juga memperparah situasi politik di Madinah.

    Nabi Muhammad diundang dan dipilih langsung sebagai Pemimpin Negara oleh penduduk Madinah untuk menjaga perdamaian di Madinah; atau untuk mencegah perang saudara di Madinah; bukan berarti ummat Yahudi dan ummat Nasrani mengakui Muhammad sebagai Rasul/Nabi; tetapi penduduk Madinah memilih langsung Muhammad di dalam PEMILU untuk mengabadikan perdamaian. PEMILU adalah SUNNAH.

    Para sahabat yang mengungsi ke Madinah hanya 72 orang; sehingga ummat Islam tidak memiliki kekuatan politik untuk mengangkat Muhammad untuk menjadi Pemimpin Negara di Madinah; mengingat agama Islam masih di dalam awal pertumbuhan.; sehingga ummat Islam di Madinah merupakan minoritas dari minoritas.

    ALQURAN 42:38
    dan mereka yang mematuhi perintah Tuhan; dan mendirikan sholat; urusan mereka ditentukan melalui musyawarah…

    Nabi Muhammad tidak hanya terlibat di dalam PEMILU di Madinah; tetapi juga terlibat di dalam musyawarah untuk membuat Undang Undang Dasar Madinah yang bernama Piagam Madinah. Nabi Muhammad dan ummat Yahudi dan ummat Nasrani melakukan musyawarah untuk membuat Piagam Madinah.

    Beberapa suku Yahudi menghianati Piagam Madinah misalnya Banu Nadir, Banu Quraizah dll; sehingga mereka diusir keluar dari Madinah oleh Nabi Muhammad. Banu Nadir pindah ke daerah yang bernama Khaibar. Banu Nadir dan masyarakat Jahiliyah di Khaibar melakukan pemberontakan terhadap kepemimpinan Nabi Muhammad di Madinah; sehingga Ali Ibn Tholib dipilih langsung oleh Nabi Muhammad untuk menyerang Khaibar.

    Imamah adalah bagian dari Rukun Iman Madhab Ahlul Bait (Syi’ah); sehingga PEMILU dan MUSYAWRAH merupakan bagian dari Imamah. Aqidah Imamah dilaksanakan oleh pengikut2 madhab Ahlul Bait (Syi’ah) untuk beragama, berbangsa dan bernegara.

  3. Haji Muhammad Abdullah said

    BAGIAN KETIGA

    Shohih Bukhari, Kitab As sahabah vol 5 buku 57 no 19

    Ketika Nabi Muhammad wafat; mayoritas sahabat sedang sibuk mengurus pemakaman Nabi Muhammad; tetapi minoritas sahabat merasa negara di dalam keadaan bahaya atau darurat. Minoritas sahabat tersebut berkumpul di rumah Bani Saida untuk menentukan pengganti Nabi Muhammad (Khalifah Rasul Allah) tanpa PEMILU dan tanpa MUSYAWARAH.

    Partai Politik Muhajirun (Makkah) mencalonkan Abu Bakr sebagai Khalifah Rasul Allah (pengganti Nabi Muhammad); tetapi Partai Politik Anshor (Madinah) mencalonkan Sa’d Ibn Ubada. Partai Politik Muhajirun (Makkah) melakukan KOLUSI dengan Partai Politik Anshor (Madinah).

    Kasus Abu Bakr sama dengan Kasus Soeharto. President Soeharto didukung oleh ABRI; terutama didukung oleh beberapa Jendral Angkatan Darat melakukan KOLUSI dengan Ketua MPR; tanpa PEMILU dan juga tampa MUSYAWARAH; sehingga mereka mengangkat Soeharto menjadi President RI ke dua tanpa PEMILU dan tanpa MUSYAWARAH.

    Kasus Umar Ibn Khattab sama dengan Kasus Burhanudin Yusuf Habibi. Umar Ibn Khattab diangkat langsung oleh Khalifah Abu Bakr tanpa PEMILU dan tanpa MUSYAWARAH. President Soeharto digantikan langsung oleh BJ Habibi. Umar Ibn Khattab adalah pengganti Khalifah (Khalifah Khalifah). BJ Habibie adalah President RI ke tiga.

    Kasus Uthman Ibn Affan sama dengan Kasus Abdurrahman Wahid. Umar Ibn Khattab membentuk Partai Politik (Majlish Shuro) untuk mengangkat. Uthman Ibn Affan diangkat oleh Partai Politik tanpa PEMILU dan tanpa MUSYAWARAH. Prof DR Amien Rais menjadi pelopor Partai2 Politik Islam di parlement. Partai2 Politik Islam melakukan KOLUSI dengan Golkar untuk mengangkat Abdurahman Wahid sebagai President RI ke empat.

    Kasus Nabi Muhammad dan Kasus Ali Ibn Tholib sama dengan kasus President SBY. Mereka dipilih langsung oleh Khulafa (masyarakat, ummat, kaum, rakyat, bangsa) tanpa melalui Partai Politik tertentu. Mereka mendapatkan suara terbanyak di dalam PEMILU.

    Kasus Muawiyah ibn Abu Sufyan sama dengan Kasus Megawati. UUD 45 mengatakan bahwa President RI berkuasa selama 5 tahun. Anggota2 Partai Politik (anggota2 DPR) yang berkuasa di parlement membuat KETETAPAN MPR untuk menggantikan President Abdurrahman Wahid dengan Megawati sebelum 5 tahun. Anggota2 Parlement yang wajib membantu President Abdurrahman Wahid telah melakukan keduta terhadap President RI. Ketetapan yang dibuat oleh anggota2 DPR bukan hukum yang berlaku di tanah air. UUD 45 adalah hukum tertinggi yang berlaku di tanah air. Ketetapan MPR bertentangan dengan UUD 45.

    Indonesia adalah negara Olikrasi sehingga kekausan tertinggi berada di tanggan Partai2 Politik; bukan berada di tanggan Khulafa (masyarakat, ummat, kaum, rakyat, bangsa).

    Muawiyah ibn Abu Sufyan juga melakukan kesalahan yang sama dengan anggota2 DPR. Mereka menggulingkan Pemimpin Negara (Ulil Amri) yang sedang berkuasa. Muawiyah ibn Abu Sufyan melakukan kudeta dengan cara memberotak kepada negara; sehingga perang Siffin tidak dapat dihindarkan.

    ALQURAN 4:59
    Hai orang orang yang beriman; taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri (Pemimpin Negara) di antara kamu.

    Beberapa negara muslim mencontoh Khalifah Abu Bakr dan Khalifah Umar ibn Khattab sehingga Partai Politik menguasai negara misalnya Indonesia, Pakistan, Malaysia, Bangladesh, Mesir dll.

    Negara2 muslim yang lain mencontoh Khalifah Muawiyah Ibn Abu Sufyan, Khalifah Yazid ibn Muawiyah; sehigga seorang Khalifah berkuasa penuh. Khalifah adalah seorang Raja yang beragama Islam; atau seorang Pemimpin Negara yang menjadi diktaktor (Thogut) di dalam ILMU FIQIH. Khulafa (masyarakat, ummat, kaum, rakyat, bangsa) harus berbakti untuk Diktaktor (Thogut) misalnya President Saddam Husian, President Soekarno, Raja Reza Pahlevi dan juga raja Arab sekarang yang masih hidub.

    Negara2 barat misalnya USA, Canada, Perancis, Jerman, Belanda dll mencontoh Nabi Muhammad dan Imam Ali Ibn Tholib. Negara2 barat tersebut menegakan sistem negara Demokrasi (Imamah); sehingga negara2 barat tersebut maju dengan cepat dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM).

  4. Haji Muhammad Abdullah said

    Kepada para pembaca yang pintar dan yang terhormat

    Ketika President Saddam Husain berkuasa PEMILU dilaksanakan dengan cara Pemerintah Iraq memaksa masyarakat Iraq untuk memilih kembali President Saddam Husain untuk berkuasa kembali. Calon President hanya satu orang yaitu President Saddam Husain sendiri. Masyarakat Iraq diberikan kartu untuk SETUJU atau untuk TIDAK SETUJU dengan calon tunggal yang bernama President Saddam Husain.

    Mereka yang tidak setuju President Saddam Husian dipilih kembali untuk berkuasa sebagai President Iraq; akan ditangkap dan disiksa di dalam penjara2 atau dibunuh. Mayoritas yang tidak setuju adalah muslim & muslimah yang mengikuti madhab Ahlul Bait (Syi’ah) di Selatan. Kuburan2 masal ditemukan oleh tentara2 USA di selatan; setelah President Saddam Husain digulingkan oleh tentara USA.

    Setelah President Saddam Husain ditangkap oleh tentara USA; Pemerintah USA memberikan bantuan dana kepada masyarakat Iraq untuk melaksanakan PEMILU yang pertama yang bebas, rahasia dan adil.

    Ayatullah Ali Sistani mengeluarkan FATWA untuk muslim & muslimah yang mengikuti madhab Ahlul Bait (Syi’ah). Pengikut2 madhab Ahlul Bait (Syi’ah) diwajibkan mengikuti Pemilu dan meninggalkan kejahatan terorism, untuk membangun kembali Iraq yang telah hancur akibat President Saddam Husain.

    KASUS PEMILU PERTAMA
    Pemilu pertama dilaksanakan oleh Pemerintah USA di Iraq; supaya masyarakat Iraq dapat memilih pakar pakar yang ditugakan untuk membuat Undang Undang Dasar Iraq yang baru. Pengikut2 madhab Ahlul Bait (Syi’ah) dan suku Kurdi di Utara memenangkan Pemilihan Umum Pertama.

    100% pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) di Iraq melakukan boikot terhadap Pemilu yang pertama. Tidak ada seorang pengikut madhab Ahlul Sunnah (Sunni) di Iraq yang memilih di dalam PEMILU yang pertama

    Pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) lebih suka mengambil jalan melalui kejahatan terorism yang dipimpin oleh organisasi Al Qaidah, organisasi Anshor Assunnah dan organsasi2 terorism yang lain; sehingga terjadi perang antara tentara USA dengan anggota2 organisasi yang dimiliki dan yang dikelola oleh pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) di Iraq. Tentara USA berusaha melindungi pengikut2 madhab Ahlul Bait (Syi’ah) di dalam partisipasi melaksanakan Pemilu yang pertama.

    KASUS PEMILU KE DUA
    Pemilu ke dua dilaksanakan untuk memilih anggota2 Parlement (DPR & MPR). Pemerintah USA tidak hanya memberikan dana yang besar kepada bangsa Iraq untuk melaksanakan Pemilu ke dua; tetapi juga mengirimkan pasukan tempur yang lebih besar untuk menjaga keamanan di dalam Pemilu kedua; karena Pemilu pertama banyak tentara USA yang wafat akibat kejahatan2 terorism yang dilakukan oleh pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) di Iraq untuk membatalkan Pemilu.

    85% pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) melakukan boikot terhadap Pemilu ke dua; sehingga mayoritas anggota2 parlement (DPR & MPR) dimonopoly oleh muslim & musimah yang mengikuti madhab Ahlul Bait (Syi’ah). Pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) lebih suka melakukan kejahatan terorism dengan cara bom bunuh diri untuk membatalkan Pemilu; sehingga organisasi terorism AlQaida yang dipimpin oleh Abu Musa Al Zarqowi sangat populer di kalangan pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) di Fallujah Iraq.

    KASUS PEMILU KE TIGA
    Pemilu ke tiga di Iraq dilaksanakan untuk memilih President, Ketua MPR dan Mentri Kehakiman di Iraq. Masyarakat Iraq dapat memilih langsung President Iraq, Ketua MPR Iraq dan Mentri Kehakiman Iraq; tanpa melalui Partai Politik tertentu; atau tanpa diwakili oleh Partai Politik tertentu. Pemerintah USA mendukung 100% PEMILU ke tiga di Iraq.

    70% pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) terus menerus menolak Pemilu dan terus menerus mendukung organisasi2 kejahatan terorism di Iraq; sehingga bom bunuh diri terus berlangsung; walaupun pasukan tempur USA berusaha keras menghancurkan organisasi2 kejahatan terorism yang dimiliki dan yang dikelolah oleh pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) di Iraq.

    Pengikut2 madhab Ahlul Sunnah (Sunni) di dunia atau di laur Iraq terus menerus menuduh Ayatullah Ali Sistani bekerjasama dengan President Bush; sehingga mereka rajin menghina, mencela, mengejek Ayatullah Ali Sistani.

    Ayatullah Ali Sistani mengajak masyarakat Iraq untuk menjaga perdamaian; sehingga pembangunan kembali Iraq dapat segera dilaksanakan; mengingat Iraq telah hancur lebur dan mundur ke belakang akibat perang yang berkepanjangan.

    Ayatullah Ali Sistani juga mengatakan bahwa masyarakat Iraq membutuhkan bantuan Technology dari Pemerintah USA untuk mengejar ketertinggalan mereka; sehingga masyarakat Iraq yang akan datang dapat hidub makmur dan sejahterah.

  5. Agung.Adhitia said

    Allahu a’lam.Mengenai kasus umat Islam yang bercerai berai dalam segi mazhab, aqidah, syariah, aliran, sekte, keyakinan, pemahaman adalah wajar, alami. Rosul bersabda:”bahwa umatku akan terbagi menjadi 70 golongan atau lebih… Yang masuk surga adalah “Allah swt juga yang memutuskannya dengan rahmatNYA,bukan karena vonis manusia yang bersifat hamba,mutakalifin,mualifin. Kita ini kan manusia bersifat segudang sifat buruk, lemah dan kecil. Sangat saya sayangkan banyak umat islam(personal maupun kolektif)yang suka memvonis kafir, buruk, salah dan menjatuhkan hukuman yang menyakiti saudaranya sendiri. Masya allah….. Bukanlah mereka itu saudara kita sendiri. Semuslim, seiman, setaqwa. Sedangkan kepada orang yang tidak seiman saja, kita harus santun,mengakui bahwa mereka itu bukan milik kita, tapi milik Allah mahluk Allah swt. Maaf saya belum akan menulis. Ini hanya celotehan komentar sepintas kilas saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: