Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Peringatan Haul Imam Khomeini di ICC Jakarta

Posted by infosyiah pada 0, Juni 9, 2007

Peringatan Haul Imam Khomeini di ICC Jakarta

3 Juni 2007, jam 3 sore. Panas Jakarta yang semakin menyengat tak mengurangi antusiasme lebih dari dua ribu orang yang memadati Islamic Cultural Center, Buncit Raya Kavling 35. Massa datang bukan saja dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, melainkan juga dari berbagai daerah, seperti Bandung, Purwakarta, Bogor, Pekalongan, dan dari wilayah lain. Mereka datang untuk menghadiri acara yang rutin dilaksanakan oleh ICC Jakarta setiap tahunnya, yaitu “Peringatan Wafat (Haul) Imam Khomeini yang Ke-18”.

Tampak di tempat acara banner besar bergambar Imam Khomeini dengan tulisan “Mengenang Wafat Imam Khomeini: Tak Pernah Mati dalam Dada Para Pejuang”. Satu slogan yang menunjukkan semangat perjuangan Imam Khomeini yang masih terus dikenang oleh para pencinta kebenaran dan para pejuang Islam.

Pada tahun ini, peringatan Haul Imam Khomeini menghadirkan pembicara langsung dari negeri Iran, Ayatullah Muhsin Qara’ati, seorang ulama ahli tafsir terkemuka yang sengaja hadir untuk memberikan pencerahan mengenai jasa-jasa Imam Khomeini, yang bukan saja bagi negeri Iran tetapi bagi umat Muslim dunia.

Dalam ceramahnya, Ayatullah Muhsin Qara’ati berbicara dalam bahasa Parsi dan diterjemahkan oleh Ustadz Abdullah Beik ke dalam bahasa Indonesia. Beliau di antaranya mengutarakan: “Di antara tugas para Nabi adalah mencegah kezaliman dan menyelamatkan masyarakat, dan hal itu adalah apa yang diajarkan oleh al-Quran, di antaranya apa yang difirmankan oleh Allah mengenai kisah Nabi Musa yang diutus Allah kepada Bani Israil. Dalam salah satu ayat, digambarkan mengenai Fir’aun sebagai raja yang selalu memaksakan kehendaknya pada masyarakat, di antaranya melakukan kedzaliman terhadap orang-orang beriman dengan memotong kaki dan tangan mereka secara silang, potong kaki kanan dan tangan kiri, sebagai akibat bagi siapa saja yang mengikuti Nabi Musa As. Namun pengikut Nabi Musa, seperti diceritakan pula oleh Al-Quran, mengatakan mereka tidak memiliki pilihan lain selain meneruskan pilihan kebenaran yang telah mereka pilih.”

Qara’ati memberikan penjelasan mengenai sikap orang beriman tadi, bahwa pilihan hidup yang benar bukan pilihan hidup untuk makan, sebab jika pilihan hidup untuk makan, maka tidak ada bedanya dengan sapi yang makan lebih banyak daripada manusia. Bukan hanya itu, sapi juga selain makan banyak, juga tidak perlu dimasak, tidak perlu dicuci dan tidak takut keracunan makanan. Begitu juga halnya, jika manusia hidupnya mempunyai pilihan hanya untuk memuaskan nafsu, maka tidak ada bedanya dengan ayam. Ayam dalam memuaskan nafsunya hanya perlu adanya pasangan, tidak perlu kamar, bisa dilakukan di mana saja, dan frekuensinya bisa lebih banyak dari manusia.

Kehidupan sejati, menurut Qara’ati, bukan hanya menuruti nasfu makan atau memuaskan nafsu syahwat, tetapi mengikuti pikiran kita. Artinya, dengan pikiran itu kita mencari kebenaran dan dengan kebenaran itulah kita mati syahid. Seperti yang dikemukakan oleh Imam Husein As, bahwa “Aku akan pergi walaupun kematian akan menghadangku. Boleh saja kepalaku mungkin ditebas, tetapi aku tidak akan menundukkan kepalaku kepada pemimpin yang dzalim”.  Hal itu pula yang dilakukan oleh Fir’aun yang mengatakan dia akan membunuh siapa saja yang mengikuti Nabi Musa as, tetapi mereka tetap teguh memegang keimanannya.

Ayatullah Muhsin Qara’ati selanjutnya memberikan penjelasan mengenai “Apa tujuan Imam Khomeini?” Menurut Qara’ati, Imam Khomeini melakukan perjuangannya dalam melawan kedzaliman sesuai dengan apa yang diyakini oleh para orang-orang beriman kepada Nabi Musa. Imam Khomeini tetap berpegang teguh pada keyakinannya dan tidak akan surut pejuangannya, baik menang ataupun kalah. Seperti halnya seorang muadzin, yang tetap mengumandangkan adzan, baik orang mau shalat ataupun tidak mau shalat. Atau seperti mobil pemadam kebakaran yang harus selalu siap, baik ada kebakaran ataupun tidak ada kebakaran.

Qara’ati menambahkan, “Tujuan pergerakan Imam Khomeini adalah revolusi budaya. Beliau ingin mengubah paradigma dan pemikiran yang ada pada saat itu, yaitu adanya asumsi yang salah bahwa tidak mungkin sekuntum bunga akan memberikan sejuknya musim semi. Tetapi al-Quran mengatakan, Nabi Ibrahim berjuang hanya sendirian. Begitu juga Imam Khomeini. Ia berjuang sendirian, yang dengannya seorang Muslim yang awalnya takut terhadap penguasa menjadi berani karena melihat sosok Imam Khomeini.”

Pernyataan Qara’ati tersebut disambut dengan gegap gempita dari para hadirin sambil menyerukan “Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad” sebagai ungkapan emosi takjub dan ikut merasakan apa yang diperjuangkan oleh Imam Khomeini.

Qara’ati melanjutkan ceramahnya tentang bagaimana Imam Khomeini melakukan sebuah revolusi. Pertama, yang beliau lakukan adalah niat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Imam Khomeini adalah sosok yang penuh keikhlasan. Beliau tidak pernah memikirkan sesuatu selain Allah Swt. Seorang yang ikhlas adalah yang selalu berpikir ketika Allah ridho maka ia akan menuju ke arah yang diridhoi-Nya, bukan ke arah apa yang disukai oleh manusia atau apa yang dilihat oleh manusia. Sebagaimana halnya benang emas dalam uang kertas yang memberi nilai pada uang kertas itu. Benang itu seperti keikhlasan, yang akan memberikan nilai bagi manusia, dan berkat keikhlasan itu hati orang-orang akan terpikat untuk mengikuti jejaknya.

Dalam sebuah ungkapan disebutkan, “Datanglah kepada seorang Kepala Desa di satu wilayah dan berikan apa yang diinginkannya, niscaya kalian akan bisa berbuat apa saja termasuk mencuri dari rumah-rumah yang ada di wilayah itu. Namun, datanglah kepada Tuhan dan ikhlaskan apa yang kita perbuat hanya untuk Tuhan, niscaya kita bisa mengambil hati-hati manusia yang menjadi milik-Nya”.

Qara’ati memberikan contoh bagus mengenai perjuangan Imam Khomeini. Beliau berkata, “Jika Anda menyukai saya, dan saya pun menyukai Anda. Namun ketika Anda melemparkan sorban saya ke jalan, atau saya menyiramkan air ke muka Anda, persahabatan kita mungkin akan lenyap hanya dengan tindakan yang kecil itu. Ketika Imam Khomeini meminta para pengikutnya untuk turun ke jalan, banyak dari mereka yang syahid atau cedera berat. Namun tetap saja orang masih banyak yang mencintai Imam Khomeini.

Banyak media di berbagai negara yang menjelek-jelekkan perjuangan Imam, tetapi Allah menggunting lidah-lidah mereka dan orang masih tetap cinta pada Imam Khomeini. Sebagaimana perjuangan Rasulullah pada masa lalu. Ketika kafir Quraisy mencaci maki beliau dengan sebutan penyair, tukang sihir, bahkan gila. Namun Allah Swt berjanji dalam salah satu firman-Nya akan menghentikan semua caci maki tersebut.

Kini Nabi Muhammad Saw dan musuh-musuhnya telah tiada. Namun, kita bisa melihat akibat akhir dari semua itu, kubur Nabi Muhammad banyak ditangisi oleh jutaan orang sementara musuh-musunya tidak sama sekali. Saddam dan Imam Khomeini saat ini pun telah tiada, namun bisa dilihat di atas kuburan Saddam saat ini tidak ada yang berdiri di atasnya sekalipun seekor kucing, tetapi di sekitar kuburan Imam Khomeini jutaan orang menangisi beliau dan semua ceramah-ceramah Imam disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Inilah bukti apa yang dijanjikan Tuhan sebagai akibat akhir dari orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang ikhlas dan menyerahkan dirinya pada Allah SWT dalam setiap perjuangannya. ”

Contoh lainnya, “Bayangkan Anda sekarang memiliki 1000 meter tanah. Namun ketika Anda naik pesawat terbang dan berada di atasnya, tanah yang luas itu terlihat hanya beberapa meter saja. Lebih tinggi pesawat itu, maka tanah itu pun terlihat hanya sejengkal, lebih tinggi lagi pesawat itu, maka tanah itu pun terlihat seperti sabun, bahkan semakin tinggi pesawat itu tanah itu pun terlihat sangat kecil seperti jarum. Itulah contoh semakin tinggi kita mendekatkan diri pada Allah SWT, maka semua yang ada di dunia ini akan terlihat semakin kecil dan tidak ada artinya.” Qara’ati lalu mengutip sebuah doa, “Sangat besar dan agung nama Tuhan di dalam diri-diri mereka, maka sangat kecil segala sesuatu selain Allah Swt.” Semakin dekat kita memahami Allah Swt, maka semakin kecil kita melihat Amerika.

Imam Khomeini dalam perjuangannya dipenjara oleh Syah dan diasingkan ke Perancis. Setelah dari pengasingan Imam Khomeini kembali ke Iran. Seperti kisah Nabi Musa yang dilahirkan dan disusui oleh ibunya, lalu dilepaskan di sungai dan jauh pergi. Namun, kemudian Allah Swt mengembalikan Nabi Musa as kepada ibunya. Imam Khomeini juga demikian. Setelah beliau diasingkan dari satu tempat ke tempat lain, ke Turki, Irak, dan Paris, namun kemudian Allah Swt mengembalikan Imam Khomeini ke negaranya.

Ayatullah Qara’ati lalu memberikan penjelasan mengapa Imam Khomeini dicintai oleh orang lain. Seperti diungkapkan dalam al-Quran, bahwasanya barangsiapa yang beriman dan beramal saleh, maka Allah Swt akan memberikan kecintaan di hati setiap manusia kepadanya.

Setelah kembali ke Iran, lalu Imam Khomeini pergi ke Irak dan menziarahi kuburan para syuhada. Beliau berkata, “Dengan tangan ini aku akan memukul Syah”. Ini sama dengan perkataan Nabi Ibrahim as yang berujar, “Demi Allah, aku akan menghancurkan berhala-berhala itu!” Dan apa yang dilakukan oleh Imam Khomeini merupakan percikan dan jejak dari apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as.

Imam Khomeini menulis banyak surat di antaranya kepada Presiden uni Soviet saat itu Mikail Gorbachev. Sebagaimana Nabi Sulaiman as yang mengirim surat kepada Ratu Balqis. Dengan ibadah-ibadah Imam Khomeini, kecintaan, gigihnya perjuangan beliau, lalu revolusi Islam Iran menjadi menang.

Imam Khomeini mengatakan, “Syi’ah dan Sunnah kedua-duanya sama-sama Islam. Kita punya 5 jari dalam satu lengan. Ja’fari, Syafi’I, Hambali, Maliki, Hanafi. Jari-jari kita tidak menjadi satu tetapi berpisah sendiri-sendiri tetapi di hadapan musuh jari-jari itu menyatu untuk memukul musuh.”

Imam Khomeini juga berpendapat bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Antara anak kecil dan orang tua pun sama. Imam di antaranya pernah berkata, “Aku akan mencium tangan orang tua yang menjual sayur di pasar”. Di lain kesempatan, Imam berkata ketika ada seorang anak yang ikut perang dan berhasil membom musuhnya, “Ini adalah tangan Imam saya. Saya adalah pengikutnya. ” Imam Khomeini betul seorang pemimpin (rahbar), tetapi beliau mengatakan, “Jangan sebut saya Imam, saya adalah pelayan kalian”.

Dalam penutup ceramahnya, Ayatullah Qara’ati berpesan bahwa, di sini kita berkumpul untuk mengenang wafatnya Imam Khomeini, maka kita harus mengikuti jejak beliau, mengikuti al-Quran dan apa yang ditunjukkan oleh para Nabi dan para Imam suci. Qara’ati juga berpesan untuk tidak usah takut dalam mengemban misi suci tersebut, karena seperti dikatakan dalam al-Quran, walaupun semua kekuatan dikumpulkan niscaya tidak akan mampu untuk menciptakan seekor lalat yang kecil sekalipun. Hari ini Hasan Nasrullah maju dengan nafas Imam Khomeini. Ahmadinejad adalah anak didik Imam Khomeini. Kemana pun nafas Imam Khomeini pergi maka ia akan menjadikannya sebagai pemberani.

Qara’ati juga mengajak agar semua umat Muslim lebih bersatu sebagaimana juga saat ini umat Yahudi dan Nasrani sama-sama bersatu, Israel dan Amerika pun bersatu. Oleh karena itu, Syi’ah dan Sunnah harus bersatu. Antara Syi’ah dan Sunnah memiliki banyak persamaan, Tuhan kita adalah satu, Nabi kita adalah satu, al-Quran kita satu, kiblat kita satu, bulan Ramadhan kita sama, haji dan jihad kita sama, dan sebagainya.[infosyiah]

2 Tanggapan to “Peringatan Haul Imam Khomeini di ICC Jakarta”

  1. saya pengagum khomeini dengan segala tulsannya hanya saja saya heran kenapa MUI mengklaim aliran syiah sesat. acara di jagakarsa di yayasann Nuriyah . agustus 2007
    sebaiknya kita berdamai semua menyatukan dengan diskusi yang damai walaupun islam tidak mungkin bersatu namun kenapa tidak kita mengupayakan persatua islam dengan tidak terpecah belah. sehingga dalam dialog kita memberikan argumen dengan dalil2nya sehingga semua itu berpulang kepada masyarakat mana yang akan masyarakat pilih dan tidak memaksakan kehendak kaum tertentu saja yang paling benar, yang lain masuk neraka. padahal islam adalah rahmatan lilalamin. mari bersatu jangan ekstrim dalam satu ajaran.
    nama: ahmad djumadi
    tel hp: 0817875190
    semboyan : mari kita bersatu melawan kekafiran
    untuk mujhid: saya siap mengorbankan nyawa apabila Aerika menyerang Iran karena tentara amerika sudah disiapkan di wilayah IRAK.

  2. Sesungguhnya, yang Mahatahu tentang kebenaran hanyalah ALLAH sendiri, sekarang ini banyak pihak yang mengambil peran-peran Tuhan, termasuk menganggab yang tidak sealiran dengan dirinya adalah sesat atau yang lebih halus adalah tidak sempurna.

    Kenapa, sering terjadi klaim itu sesat, ini tidak?
    Ini semua diakibatkan karena urusan ibadah dengan Tuhan, diwadahi dalam bentuk organisasi/nama, padahal urusan hubungan kita dengan Tuhan adalah sangat rahasia, melebihi rahasianya hubungan suami-istri, dengan demikian sesungguhnya tidak bisa diwadahi, hanya urusan duniawi dan sesuatu yang belum sempurnalah yang dapat diwadahi.

    Seandainya kita tahu, orang lain salah, tentunya bukan mengadili, menghakimi, tetapi tugas kita ingat mengingatkan, itu saja kalau salah, jangan-jangan karena prasangka saja.

    Kita harus bijaksana dalam memandang perbedaan dan masalah, kepakainya dokter, kalau ada orang sakit. Nah sekarang ini, banyak orang yang merasa jadi dokter, tetapi kalau ada orang sakit, malah dimarah-marahi, bahkan kalau perlu disuntik mati.

    Apa ini, peradaban yang diperjuangkan para Nabi dan orang-orang suci termasuk Nabi Muhammad?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: