Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Derita tahanan wanita di Afghanistan

Posted by infosyiah pada 0, Juni 10, 2007

Derita tahanan wanita di Afghanistan

Samira harus mendekam di penjara selama 10 tahun. Kesalahannya hanya dikarenakan ia mencintai seorang pria, sementara keluarganya tidak setuju dengan hubungan mereka.

Demokrasi di atas kertas

Sekitar 6 tahun di Afghanistan demokrasi dicoba dan mereka saat ini memiliki UUD. Demikian juga, selama 6 tahun ini jutaan dolar dana dikucurkan ke negara ini. Kebanyakan orang beranggapan dengan kucuran dana dan demokrasi Afghanistan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Namun ini hanya khayalan mereka. Lebih dari 25 tahun rakyat Afghanistan hanya mengenal perang, kekerasan dan kebencian. Rakyat Afghanistan asing dengan idiom-idiom seperti demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Tradisi yang berkuasa di Afghanistan. Tradisi yang menjadikan wanita sebagai korban. Sebagai contoh, sampai saat ini kasus-kasus kekerasan yang dilakukan di rumah tangga wanita yang menjadi korban selama ini. Penjara di kota Kondoz merupakan contoh bagaimana wanita tidak memiliki hak sedikit pun. Mereka menjadi korban tradisi dan tidak adanya demokrasi.

Proyek-proyek wanita

Ada dua proyek yang sedang dilaksanakan di Afghanistan. Salah satu proyek itu terkait dengan wanita dan masalah yang mereka hadapi. Proyek ini tidak berhasil. Ketidakberhasilan itu disebabkan tidak mampunya organisasi-organisasi baik pemerintah maupun non pemerintah tidak mampu bekerja sama. Bukannya mereka harus bekerja sama, mereka malah bersaing satu dengan lainnya. Setiap badan yang ada ingin menguasai seluruh dana yang ada. Di samping itu, mereka tidak punya pengalaman menangani kasus-kasus semacam ini.

Pendidikan wanita

Periode Taliban telah lewat. Kebanyakan wanita Afghanistan telah kembali ke sekolah. Mereka sudah dapat sekolah di universitas dan bekerja di kantor-kantor. Namun, tetap saja pendidikan yang ada hanya bisa dirasakan oleh mereka yang hidup di kota-kota besar seperti Kabul. Pertanyaannya adalah apa yang dipelajari para wanita di sekolah dan bagaimana mereka dapat bekerja.

Derita Samira

Samira gadis berusia 14, 15 atau 16 tahun. Ia penghuni penjara kota Kondoz. Samira sendiri tidak ingat berapa usianya. Tentang kondisinya ia mengatakan: “Saya tidak tahu apa yang saya kerjakan sehingga dipandang begitu buruk. Saya harus melewatkan 10 tahun dari umur saya di penjara ini. Kekasihku seorang pemuda dan saya seorang gadis. Kami hanya dua orang anak muda. Kami tidak berbuat kesalahan. Kami hanya ingin menikah”.

Samira harus mendekam di penjara selama 10 tahun. Kesalahannya hanya dikarenakan ia mencintai seorang pria, sementara keluarganya tidak setuju dengan hubungan mereka. Kesalahan pemuda itu hanya dikarenakan ia seorang buruh sederhana yang tidak kaya. Ia tidak mampu mengadakan acara perkawinan seperti yang diharapkan oleh keluarga Samira. Akhirnya kedua kekasih ini melarikan diri dari rumah. Setelah dua hari melarikan diri, polisi berhasil menangkap mereka. Ayah Samira mengadukan mereka dan meminta kepada polisi agar memenjarakan mereka. Pengadilan kota Kondoz mengeluarkan putusan 10 tahun penjara untuk keduanya. Tembok tinggi penjara Kondoz memisahkan Samira dan kekasihnya.

Doktor Kabir Ranjbar seorang anggota parlemen dan ketua Asosiasi Pengacara Afghanistan menganggap putusan hakim tidak benar. Ia mengatakan: “Dalam syariat Islam masalah ini jelas. Ijab dan kabul harus jelas dan dilakukan secara langsung. Calon wanita mengucapkannya dengan tanpa ada paksaan. Tidak benar syariat Silam ditafsirkan secara tidak benar dan zalim. Sesuai dengan UUD dan hukum yang berlaku, seorang wanita yang memilih calon suaminya tidak punya kesalahan apapun. Hukum yang dijatuhkan muncul dari kondisi masyarakat dan adat istiadat yang sangat terkebelakang dan sisa-sisa budaya abad pertengahan yang masih menguasai negara Afghanistan”.

Undang-undang dan problem penerapan

Sebuah undang-undang hanya dapat diterapkan bila pemerintah kuat. Namun yang terjadi di Afghanistan tidak demikian. Pusat kekuasaan di Afghanistan berbilang dan pelaksanaan undang-undang menjadi sangat sulit di sana. Hukum yang dijatuhkan ke atas Samira tidak sesuai dengan UUD Afghanistan, bahkan tidak sesuai dengan hukum Islam. Jelas, hukum yang semacam ini juga pasti melanggar hak-hak asasi manusia.

Penjara wanita di Kondoz

Saat ini di penjara wanita Kondoz ada 10 wanita dan 8 anak-anak berusia antara 6 bulan sampai 10 tahun. Di penjara wanita itu ada dua sel dengan halaman kecil yang telah diaspal. Hanya terdapat sebuah toilet dan sebuah kolam air kecil. Para tahanan wanita hanya dapat memanfaatkan halaman besar penjara setelah para tahanan pria tidak ada. Dapat dibayangkan kesempatan itu hanya didapatkan sekali dalam seminggu, itupun hanya satu jam. Sekali dalam seminggu ada pelajaran bagi mereka dan tentunya hanya satu atau dua wanita yang secara teratur mengikut pelajaran yang disediakan. Kebanyakan dari mereka tidak mengerti apa untungnya bisa baca tulis. Dalam pemahaman mereka, wanita tidak punya banyak masalah yang harus diselesaikannya. Dan masalah mereka tidak dapat diselesaikan dengan bisa baca tulis.

Salimah salah satu penghuni penjara wanita Kondoz. 5 tahun sudah ia menghabiskan umurnya di sana. Menurutnya: “Siapa saja yang punya uang dengan mudah dapat membunuh 5 orang dan dengan uangnya ia dapat membebaskan dirinya. Namun, ketika seseorang tidak memiliki uang, maka kemungkinan besar ia harus mendekam selamanya di penjara tanpa tahu apa yang dilakukannya. Tidak hanya polisi tapi juga para pengacara semua meminta uang. Bila Anda tidak punya uang, maka tempatmu yang lebih tepat adalah penjara”.

Salah seorang tahanan lain bernama Adilah. Ia dulunya seorang guru dan memiliki 9 orang anak. Anak tertuanya berumur 22 tahun, sementara yang paling kecil berusia setahun bersamanya di penjara. Ia dituduh membunuh suaminya. Yang menuduhnya adalah saudara-saudara suaminya. Adilah mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Suaminya dibunuh karena sebab-sebab politik dan saudara-saudaranya ikut dalam pembunuhan itu. Ia dituduh membunuh suaminya dan dilemparkan ke penjara agar pembunuh suaminya yang sebenarnya tidak terbongkar. Tanpa persetujuannya, anak-anaknya dibawa ke rumah paman-paman mereka sehingga suatu saat mereka berhasil melarikan diri dan tinggal bersama kakek dan nenek mereka dari Adilah.

Adilah mengatakan bahwa tidak ada orang yang mau memperhatikan kondisinya. Mereka mengatakan siapa yang punya uang dan pengaruh dapat melakukan apa saja. Kondisinya sama seperti rekannya Salimah yang tidak punya pengacara. Anak perempuan tertuanya yang selama ini mengusahakan pembebasannya. Adilah menyebutkan bahwa sebelum ia dijebloskan ke dalam penjara mereka memukulnya sampai babak belur agar ia mengakui perbuatannya. Beberapa tempat di badannya menunjukkan bekas-bekas siksaan yang dideritanya. Ia mempertanyakan hak-haknya selama ini. Katanya: “Sampai saat ini saya tidak pernah diberikan seorang pengacara.  Hak-hak saya telah dirampas dan diinjak-injak. Pemerintah telah berkhianat. Saya punya hak kebebasan menyuarakan pendapat. Bilah presiden Hamid Karzai ada di sini, saya akan menyampaikan ketidakadilan ini. Seseorang dituduh sebagai pembunuh padahal dia yang paling menderita akibat tuduhan ini. Saya sudah tidak punya harapan lagi dengan badan-badan pemerintah. Di sini tidak ada hak-hak asasi manusia. Mereka memperlakukan kami seperti binatang”.

Penjara Pol Charkhi di Kabul

Penjara wanita Pol Charkhi di Kabul tidak berbeda dengan di tempat-tempat lain bahkan sangat mengenaskan. Wartawan tidak diperbolehkan untuk melaporkan keadaan di sana. Nadiah Hanifi ketua pusat pendidikan bagian kewanitaan adalah pembela hak-hak wanita yang dipenjara. Ia menyebutkan bahwa di penjara Pol Charkhi ada 80 wanita dan 60 anak-anak. Mereka yang dipenjara biasanya karena tuduhan lari dari rumah atau hubungan seks di luar nikah. Setiap 6 wanita dan anak-anaknya berada dalam sebuah sel. Tidak ada orang yang membela mereka tidak juga ada yang memberikan harapan, mereka tidak punya masa depan.

Nadiah Hanifi menjelaskan kondisi di penjara: “Tidak ada kemudahan di sana. Sarapannya cukup teh manis, makan siangnya ada roti dan untuk malamnya terkadang dengan roti atau nasi campur sayur buncis. Kebanyakan dari mereka yang ditahan ini tidak memiliki pengacara. Sesuai dengan keputusan yang dikeluarkan oleh presiden, sebagian dari mereka sudah harus dibebaskan namun tidak ada orang yang mau membantu menguruskan pembebasan mereka. Satu-satunya badan lokal yang berusaha membantu mereka bernama Qanun Raweshtungki. Sebuah LSM Jerman juga bekerja di sana. LSM untuk membantu para wanita itu bernama Medica Mondiale. Sistem peradilan Afghanistan sangat birokrat sekali dan organisasi yang ada tidak mampu melayani seluruh wanita yang ada”.

Kehidupan di Penjara

Para wanita tahanan di penjara Afghanistan sehari-harinya mereka tertawa, saling mengata-ngatai dan bercanda. Namun, pandangan mata mereka menunjukkan kegelisahan. Masa depan mereka juga suram. Secara lahiriah mereka lebih aman, karena bila di tinggal di rumah mereka perang dan kemiskinan akan senantiasa menghantui mereka. Samira harus menjalani masa tahanannya sepuluh tahun di penjara. Kegelisahan Samira tampak di wajahnya. Ia berakta: “Siapa yang dapat merasakan kegembiraan hidup di penjara. Menurut pepetah, “Air yang melalui kepala tidak ada bedanya banyak atau sediki”! Tidak beda tertawa dan menangis! Musuh kami merasa gembira mengetahui keberadaan kami di penjara. Mereka akan mengatakan baguslah mereka berdua akan mati di penjara. Namun, tidak ada yang tahu apa yang bergejolak dalam hati kami.[infosyiah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: