Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

40 tahun kemudian…

Posted by infosyiah pada 0, Juni 12, 2007

40 tahun kemudian…

Beberapa hari lalu dalam memperingati perang 6 hari antara Negara-negara Arab dengan Rezim Zionis Israel, anggota kongres Amerika mengeluarkan surat kepada Rezim zionis Israel. Isi surat itu mengingatkan bahwa perang itu membuat Rezim Israel berhasil menguasai dan menduduki hampir seluruh tanah air Palestina dan sebagian kawasan dari negara-negara tetangga. Surat itu berisikan ucapan selamat kepada para pemimpin Israel atas kemenangan dalam perang 6 hari melawan negara-negara Arab.

Pada hal, di saat yang sama Rezim Israel sendiri tidak mengadakan acara memperingati kemenangannya sekaligus pendudukannya atas negara Palestina. Hal ini karena pengaruh kekalahan mereka dari Hizbullah dan ketakutan mereka atas gaya perang pejuang Palestina yang memakai model Hizbullah menghadapi Rezim Israel. Setiap serangan Rezim Israel mereka jawab dengan serangan rudal-rudal mereka. Kebalikannya, Rakyat Palestina yang semakin pasti bahwa jalan kemenangan bagi mereka hanya akan didapat lewat perjuangan.

Dalam perang 6 hari yang terjadi di bulan Mei tahun 1967 antara Rezim Israel di satu sisi, tentunya dengan dukungan langsung negara-negara Barat dan secara tidak langsung dari Uni Soviet dan di sisi lain negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Syria dengan mendapat dukungan negara-negara Arab. Perang ini begitu penting karena setelah itu, kawasan Timur Tengah mengalami perubahan drastis. Karena teritorial Rezim Israel setelah perang ini bertambah luas dengan menguasai dataran tinggi Golan milik Syiria, Gurun Sinai milik Mesir, Tepi sungai Yordan milik Yordania dan akhirnya Rezim Israel menguasai Jalur Gaza. Itulah mengapa upaya perdamaian yang dilakukan antara Rezim Izrael dan negara-negara Arab sekarang ini selalu menjadikan batas teritorial tahun 1967 sebagai salah satu syarat terwujudnya perdamaian. Mesir telah mengambil tanahnya yang dikuasai oleh Rezim Israel setelah Anwar Sadat ikut dalam perjanjian Kamp David. Anwar Sadat menandatangani perjanjian damai dengan Israel dengan syarat bisa mendapatkan kembali kawasan Sinai yang diduduki Rezim Israel.

Setelah kemenangan ini, Israel tanpa malu di hadapan dunia dan Liga Bangsa-Bangsa mengumumkan bahwa batas teritorialnya dari sungai Nil hingga sungai Furat.

Perang 6 hari antara Israel dan negara-negara Arab merupakan perang yang ketiga kalinya. Pada tanggal 29 November 1947 Liga Bangsa-Bangsa membagi tanah Palestina menjadi dua; satu bagian dikuasai oleh Rezim Israel dan sebagian ainnya milik penduduk Palestina. Pada tanggal 15 Mei 1948 negara-negara Arab menentang keputusan Liga Bangsa-Bangsa membagi tanah Palestina. Mereka mengirimkan pasukannya ke tanah Palestina, namun mereka kalah menghadapi tentara Zionis Israel. Ini mengukuhkan identitas Rezim Zionis Israel. Hasil dari perang pertama ini selain diakuinya Rezim Israel, teritorialnya menjadi semakin luas tidak terbatas pada pembagian yang dilakukan oleh Liga Bangsa-Bangsa, tapi juga meliputi tanah Palestina. Dari sini pendudukan Palestina dimulai.

Dalam perang itu, Gamal Abdel Nasser masih berpangkat komandan batalion tentara Mesir di Teluk Aqabah. Pada tahun 1952 ia berkuasa di Mesir. Tanggal 26 Juli 1956 ia menasionalisasikan terusan Suai. Keputusan ini ditentang keras oleh Inggris yang berakibat pada perang kedua Arab dan Rezim Israel. Dalam perang ini, Rezim Israel dengan dibantu oleh Inggris dan Prancis menghadapi Mesir yang berakibat pada kekalahan Mesir.

Perang keempat negara-negara Arab menghadapi Rezim Israel terjadi pada tahun 1973. Negara-negara Arab dipimpin oleh Mesir dan Syria. Perang ini juga dikenal dengan perang Ramadhan karena terjadinya di bulan Ramadhan. Pada awal-awal perang, pasukan Arab berhasil menunjukkan kemenangannya, namun setelah pasukan Ariel Sharon melakukan penetrasi sampai ke terusan Suez dan berhasil memutuskan hubungan pasukan Mesir dengan induk pasukannya di Mesir, Rezim Israel untuk keempat kalinya memenangkan perangnya dengan negara-negara Arab. Akhirnya, dengan usulan PBB kedua belah pihak menerima untuk menghentikan perang.

Setelah perang 6 hari terdapat upaya-upaya dari sebagian negara-negara Arab untuk melakukan perdamaian dengan Israel. Perang Ramadhan adalah perang dan upaya terakhir negara-negara Arab untuk mengambil kembali tanahnya yang diduduki Rezim Israel. Anwar Sadat adalah pemimpin pertama dari negara-negara Arab yang masuk melakukan perundingan damai dengan Israel. Setelah kekalahan negara-negara Arab dalam perang Ramadhan, pada tahun 1977 Anwar Sadat dalam perundingan Kamp David berhasil mengambil kembali Gurun Sinai dengan syarat tidak menyerang Rezim Israel.

Semenjak itu, para pemimpin negara-negara Arab satu persatu mulai mengadakan pendekatan untuk berdamai dengan Rezim Israel. Semua upaya ini gagal setelah kemenangan Revolusi Islam Iran. Republik Islam Iran tidak mengakui secara resmi negara bernama Israel. Imam Khomeini dalam ungkapan-ungkapannya menyebutkan Rezim Israel sebagai tumor dan rezim haram yang dibentuk oleh kekuatan-kekuatan imperialis. Imam Khomeini mengajak kembali negara-negara tidak saja Arab tapi juga Islam untuk menghadapi Rezim Israel.

Henry Kissinger mengatakan, “Di Timur Tengah perang tanpa Mesir dan perdamaian tanpa Syria tidak akan mungkin tercapai”. Perjanjian damai Kamp David telah mewujudkan satu sisi dari ucapan Kissinger dan tinggal yang kedua yaitu Syria. Para analis beranggapan Syria bakal bertekuk lutut di hadapan Rezim Israel, namun semua menjadi terbalik ketika Syria mengikuti kebijakan Iran untuk tidak berdamai dengan Rezim Israel. Sementara pada saat yang sama, Irak di bawah pimpinan Saddam Husein mencoba menggantikan tempat Gamal Abdel Naser, namun ia juga gagal. Pilihan Syria membuat posisinya lebih kuat dalam menghadapi Rezim Israel ketimbang pilihan Irak di bawah Saddam Husein. Upaya menjegal keberlangsungan Revolusi Islam Iran lewat Saddam Husein untuk melanjutkan proses perdamaian antara negara-negara Arab dan Rezim Israel tidak berhasil. Perjuangan Iran dalam perang 8 tahun memberikan contoh dan semangat baru perjuangan bangsa Arab melawan Rezim Israel. Rakyat Palestina dan Lebanon mendapat semangat baru untuk berjuang menghadapi Rezim Israel. Dan untuk pertama kalinya dalam perang 33 hari keperkasaan pasukan Rezim Israel runtuh ketika menghadapi Hizbullah. Hizbullah yang menurut data memiliki kurang dari 5 ribu anggota berhasil menghadapi pasukan Rezim Israel yang diakui sebagai pasukan nomor 4 terhebat di dunia.

Di Palestina kondisi juga berubah. Selama ini Rezim Israel dengan mudah mendikte PLO dan mengarahkan segala usahanya agar terjadi perdamaian. Dalam kondisi yang paling sulit dialami oleh rakyat Palestina, ternyata mereka memilih Hamas. Semua tahun Hamas punya prinsip untuk tidak berdamai dengan Rezim Israel. Bahkan secara resmi tidak mengakui keberadaan Rezim Israel. Dalam kondisi yang sulit, rakyat siap bersama pemerintah menghadapi embargo ekonomi dunia. Perlawanan yang ditunjukkan oleh Palestina dengan nama Intifadhah merupakan model perlawanan yang diambil dari model perjuangan Hizbullah yang juga mendapat ilham dari perjuangan Iran dalam menghadapi dunia.

Pemboman tanpa henti yang dilakukan oleh Rezim Israel terhadap Lebanon dengan tujuan, yang katanya, untuk menghancurkan titik-titik kekuatan Hizbullah tidak pernah menyurutkan semangat Hizbullah dan rakyat yang mendukungnya. Apa yang terjadi di Palestina juga demikian. Pembunuhan, aksi-aksi teror terhadap para pemimpin Hamas, pemboman, perusakan dan berbagai macam aksi lainnya, tidak pernah menyurutkan rakyat Palestina untuk mendukung Hamas dan perjuangan demi pembebasan Palestina.

Kekalahan Rezim Israel dan kegagalan diplomasi Amerika di sisi Rezim Israel telah mengubah peta politik Timur Tengah. Ini membuat setiap orang mengingat kembali peristiwa perang 6 hari. Apa lagi, sebulan ke depan tepat setahun perang 33 hari antara Rezim Israel dan Hizbullah yang dimenangkan oleh Hizbullah. Dalam laporan Winograd, secara jelas dicantumkan kata “kalah”. Rezim Israel mengakui kekalahannya dalam perang 33 hari menghadapi Hizbullah.

Sangat ironis sekali ketika negara-negara Arab menyaksikan kemenangan Hizbullah yang nota bene adalah Arab tidak menunjukkan sikap senang dan gembira. Bahkan pada minggu pertama sebagian dari pemimpin-pemimpin negara Arab mengharapkan agar Hizbullah mengalami kekalahan. Perang yang selama 4 kali mereka lakukan, tapi tidak pernah berhasil mengalahkan Rezim Israel. Tentu saja mereka menginginkan kekalahan Hizbullah ketika tujuan mereka selama ini adalah berdamai dengan Rezim Israel yang telah menduduki sebagian tanah Arab.

Menarik sekali sikap Sayyid Hasan Nasrullah terhadap para pemimpin negara-negara Arab, “Kami tidak menginginkan pedang kalian. Berikan saja hati kalian kepada kami”.

Bila perang 6 hati membuat Gamal Abdul Naser sebagai tumbalnya, mengapa kemenangan Hizbullah tidak juga membuat kepala-kepala negara Arab sadar dari sikapnya selama ini dan tidak mengkhianati perjuangan bangsa Palestina?[infosyiah]

Satu Tanggapan to “40 tahun kemudian…”

  1. Kheroole said

    interesting article….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: