Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Jawaban Ayatullah Ja’far Subhani atas fatwa seorang mufti Mesir

Posted by infosyiah pada 0, Juni 16, 2007

Jawaban Ayatullah Ja’far Subhani atas fatwa seorang mufti Mesir

Bismillahirrahmanirrahim

Akhir bulan Mei 2007 D.R. Izzat Athiyah Dekan Fakultas Hadis Universitas al-Azhar dalam sebuah program televisi Mesir mengumumkan, “Bila ada seorang laki-laki dan wanita dalam sebuah ruangan kantor pemerintah atau swasta dan kondisi mereka menunjukkan duduk dengan orang asing hukumnya adalah haram. Agar tidak terjerumus dalam keharaman, wanita itu bisa menyusui sebanyak lima kali sang pria. Bila itu dilakukan keduanya bisa menjadi muhrim. Keduanya menjadi muhrim untuk keluar dari kondisi keharaman akibat berdua di tempat sepi. Setelah melakukan hal itu, keduanya dapat menikah dan tidak haram”.

Fatwa yang dikeluarkan ini menjadi hangat dibincangkan di media-media Arab. Sebagian anggota parlemen Mesir bersama para pakar hukum dan ulama dalam sebuah pertemuan mengeluarkan pernyataan akan ketidakbenaran fatwa ini. Kondisinya semakin memburuk ketika mereka ingin mengajukan masalah ini ke pengadilan. Akhirnya, Dewan Tinggi al-Azhar mengeluarkan keputusan untuk menangguhkan kerja sama dengan Izzat Athiyah. Untuk sementara ia tidak diperkenankan mengajar. Dewan ini mengusulkan agar Athiyah di hadirkan di komite disiplin Universitas.

Berikut ini analisa terhadap fatwa dan akar permasalahannya:

Setiap ahli fiqih di seluruh mazhab yang ada, kecuali Daud al-Zhahiri, sepakat bahwa menyusui pada masa bayi dapat menjadi sebab kemuhriman antara si wanita yang menyusui dan bayi yang menyusu. Periode di mana bayi tersebut mendapatkan makanannya dari susu atau sebagian besar dari makanannya adalah susu, bayi tersebut belum diberi makan selain susu ibu. Sebagian ahli fiqih Ahli Sunah meyakini membatasi umur bayi tersebut sampai dua tahun satu bulan atau dua bulan dan yang lain berpendapat sampai 6 bulan. Mereka berpendapat ini umur yang dapat menjadi penyebab kemuhriman. Masa kanak-kanak, remaja dan setelahnya bukan masa yang dapat menjadi penyebab kemuhriman.[1]

Selain hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para Imam as yang membicarakan masalah ini, hadis-hadis dari Sihhah Sittah juga membicarakan masalah ini. Seperti hadis dari Aisyah yang berkata, “Nabi masuk dan di sisiku ada seorang laki-laki sedang duduk. Wajah Nabi terlihat marah. Serentak saya berkata, “Wahai Nabi Allah, ini adalah saudara sesusuanku”. Nabi berkata, “Lihat yang benar, siapa saudara sesusuanmu?”. Setelah itu beliau bersabda, “Mereka yang menjadi saudara sesusuanmu ketika dalam masa menyusu dan hanya kenyang dengan susu dari mereka yang menyusuinya (Innama al-Radha’ah Mina al-Maja’ah)”.

Pengertian dari ucapan ini adalah bila seorang anak telah melewati masa menyusui, di mana susu dengan sendirinya tidak dapat menghilangkan rasa laparnya, maka dalam kondisi ini tidak ada maknanya saudara sesusuan. Sekaitan dengan hadis ini, Ibnu Hajar membawakan penjelasan darinya dan dari ulama yang lain. Ringkasnya seperti yang telah dijelaskan di atas.[2]

Berdasarkan penjelasan ini, fatwa Izzat Athiyah selain bertentangan dengan kesepakatan ulama, pendapatnya bertentangan dengan hadis yang telah disebutkan.

Hal yang perlu dikaji secara serius adalah argumentasi Izzat Athiyah itu sendiri. Mengingat ia adalah Dekan Fakultas Hadis di Universitas al-Azhar, maka tentu ia bukan orang sembarangan. Ia tidak mungkin mengeluarkan fatwa tanpa alasan, sekalipun dari hadis dha’if untuk menjelaskan fatwanya di depan televisi. Fatwa Izzat Athiyah berdasarkan sebuah hadis yang dinukilnya setelah turunnya ayat yang berbunyi, “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak- bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (al-Ahzab: 5). Ayat ini menunjukkan dihapusnya anak angkat yang diterima selama ini di masa jahiliah. Setiap anak angkat tidak dapat menjadi muhrim dengan wanita yang ada di keluarga itu.

Di masa jahiliah, Abu Hudzaifah pernah mengangkat Salim sebagai anaknya ketika masih kecil. Saat ayat ini turun Salim telah memasuki usia remaja. Ia telah mengetahui benar mengenai masalah seks. Suatu hari Sahlah istri Abu Hudzaifah pergi menemui Rasulullah saw dan berkata, “Sampai saat ini saya masih menganggap Salim sebagai anak sendiri. Ia berada di rumah kami dan kami tidak memakai hijab. Saat ini, apa yang harus kami lakukan agar ia tidak menjadi orang asing?”

Muslim dalam hadisnya menukil bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Susuilah dia sebanyak lima kali. Dengan melakukan ini, engkau dan dia akan menjadi muhrim”. Sahlah istri Abu Hudzaifah berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimana caranya saya menyusuinya padahal ia telah dewasa dan tumbuh janggut?” Rasulullah saw bersabda, “Susuilah sampai hilang keraguan yang ada di dalam hati suamimu”.[3]

Hadis ini yang menjadi landasan fatwa doktor Izzat Athiyah. Menurut saya, akan sangat terpuji mengkaji argumentasinya ketimbang mengkritik pribadinya. Namun, mengapa yang terjadi tidak demikian, karena hadis ini disebutkan dalam hadis Muslim, buku kumpulan hadis yang dianggap paling sahih kedua setelah Sahih Bukhari dalam Ahli Sunah. Sedemikian tingginya ulama memberikan nilai yang tinggi atas dua buku kumpulan hadis ini, sehingga tidak ada yang memiliki keberanian untuk melakukan kritik atas keduanya. Apa lagi ada ucapan yang berbunyi demikian, “Setiap yang diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim adalah sahih”.

Untungnya, kami tidak dipengaruhi oleh ucapan seperti ini. Sebagaimana kami mengetahui kelemahan dua buku ini, kami juga mengakui kelebihannya. Hadis ini menurut kami adalah hadis maj’ul dan buatan dengan beberapa alasan:

1. Buah dada wanita memiliki daya tarik yang dapat menggerakkan para pemuda. Menurut istilah para ahli fiqih ia dikategorikan aurat yang ghalizh (padat dan tebal). Setiap persentuhan dengan buah dada wanita, khususnya bagi mereka yang muda-muda, selain menggerakkan hawa nafsu, perbuatan menyentuh itu sendiri haram, apa lagi bila menyusu. Mungkinkah seseorang dapat menggambarkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan perbuatan haram hanya untuk mendapatkan yang halal?

Para ahli fiqih Islam memiliki sebuah kaidah yang disebut Sad al-Dzara’i. Kaidah ini dapat digambarkan dengan sebuah pertanyaan seperti ini. Apakah diperbolehkan melakukan sebuah perbuatan halal yang menjadi perantara sampai pada sesuatu yang haram? Dengan ungkapan yang lebih mudah, apakah boleh melakukan perbuatan halal yang ujung-ujungnya haram? Sebagian ulama mengharamkan hal yang demikian. Mereka digolongkan sebagai kelompok Sad al-Dzara’i dan sebagian lainnya yang memperbolehkan dimasukkan dalam kelompok Cat al-Dzara’i. Sekalipun ada perbedaan dalam masalah ini, namun semua sepakat bahwa sebuah perbuatan haram bisa menghasilkan sesuatu yang halal. Masalah yang dibahas sebelum ini, termasuk hal yang disepakati oleh ulama. Menyentuh seorang wanita asing dan menyusu dari buah dadanya termasuk hal yang disepakati oleh para ulama akan ketidakbolehannya.

2. Nabi Muhammad saw sendiri mengajarkan tolok ukur kemuhriman lewat menyusu. Beliau bersabda, “Innama al-Radha’ah Mina al-Maja’ah”. Penyusuan yang dapat menjadikan hubungan kemuhriman ketika susu itu dapat menghilangkan rasa lapar. Apakah dapat dibayangkan bagaimana Nabi Muhammad saw ucapannya terhadap istrinya bertentangan dengan ucapannya kepada istri Abu Hudzifah?

3. Diriwayatkan dari istri-istri Nabi Muhammad saw bahwa perintah yang diberikan oleh Rasulullah saw kepada istri Abu Hudzaifah merupakan pengecualian dan bukan sebuah aturan yang umum.[4] Justifikasi ini terlihat meragukan seperti asal masalahnya. Karena isi dari pengecualian itu demikian bahwa Nabi Muhammad saw karena sebuah kasus yang parsial membolehkan sesuatu yang haram. Ini lebih berat lagi karena seperti cara pandang orang-orang musyrik yang juga menisbatkan hal yang seperti ini kepada Allah. Allah berfirman, “Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada- adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (al-‘Araf: 28).

Dengan melihat pada prinsip-prinsip Islam, kami tidak dapat menerima asal cerita dan justifikasi lewat istri-istri Nabi dalam masalah ini.

Model fatwa yang semacam ini dengan berlandaskan pada hadis yang seperti ini hanya akan menunjukkan kelemahan Islam dan menjauhkan para pemuda dari Islam. Begitulah ketika fatwa ini tersebar di tengah masyarakat di Mesir, sebagian laki-laki di sana ketika berpapasan dengan wanita, mereka mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh yang tidak patut untuk disebutkan di sini.

Dalam masalah ini, akan sangat terpuji bila para ahli fiqih dan ahli hadis Ahli Sunah dengan menghormati upaya tak kenal lelah dalam mentashih sanad-sanad hadis yang ada, juga memberikan upaya yang maksimal untuk mengkaji matan dan muatan hadis-hadis. Dengan tolok ukur yang benar kita dapat memilih dan memilah emas dari kuningan. Kami telah menulis buku yang berjudul “al-Hadits al-Nabawi Bina al-Riwayah wa al-Dirayah”. Dalam buku itu kami tidak banyak melakukan kritik sanad, melainkan banyak melakukan kritik matan atas riwayat-riwayat sahih dan dengan kasus-kasus seperti ini kami menjelaskan tentang kesahihan dan ketidaksahihannya. Bagi siapa yang ingin mengetahui lebih banyak dapat merujuk dalam buku itu.[infosyiah]


[1] . Bidayah al-Tamhid, jilid 4, hal 365. Khilaf, Syaikh Thusi, jilid 5, hal 98. Tafsir al-Qurthubi, jilid 3, hal 162 dan jilid 5, hal 109.

[2] . Fath al-Bari, jilid 9, hal 146, syarah hadis ke 5102. Sahih Muslim, hadis ke 1455.

[3] . Sahih Muslim, Kitab al-Radha’, hadis ke 1453.

[4] . Muwattha’ Malik, jilid 2, hal 5-6. Ibnu Majah, jilid 1, hal 625. Sunan Nasa’i, jilid 6, hal 104. Sunan Baihaqi, jilid 7, hal 459, Bab Radha’ al-Kabir (bab ini pada semua sumber yang telah disebutkan di atas).

12 Tanggapan to “Jawaban Ayatullah Ja’far Subhani atas fatwa seorang mufti Mesir”

  1. Fajar Junaedi ep said

    Subhanallah. Inilah pandangan jernih dalam khasanah Ahlul Bayt, Bahtera Nabi Nuh dan Imam seluruh manusia. Betapa gamblangnya persoalan yang membuat terkecoh seorang pakar hadist dari kalangan ahlus sunnah.

  2. luthfis said

    sungguh pemahan yang jernih, yang berasal dari pemahaman Ahlulbaty Nabi.

  3. DEWI said

    BENAR ! Rasullulah saw, tidak mungkin mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan AL-QUR’AN. Aduh berhati2lah memberikan fatwa bapak2 ulama jangan sampai kita menjadi golongan musyrikin karena fatwa ulama bagi sebaian umat dijadikan sebagai acuan. Masyaallah ! hati2 adalah kuncinya.

  4. ali said

    yang menjadi keanehan tidak ada yang memiliki keberanian untuk melakukan kritik terhadap hadis ini, padahal dalam hati dan pemikiran mereka sudah jelas hadis ini benar2 kacau, gila!! tapi karena diriwaytkan Muslim, ya mau gakmau mereka percaya, mau dibilang pinter tapi bodoh, mau dibilang bodoh tapi dosen, al-azhar lagi……jelas2 menyusui sama2 dewasa itu zina!!!kan itu tmasuk forelay, meningkatkan hasrat or libido wanita…kok dibilang malah jadimuhrim???

  5. Bagir said

    Salam

    gini nih, klo hadis aspal kebuka ga ada satupun Ahlu Nyunah yg komen..ktnya kitab2 mrk shahih ssemua hadisnya ??? ko ada “hadis” yg ga Rasional bgt gt loooh…GA MUTU.

    Wassalam

  6. neilhoja said

    afwan…

    @ ali

    muslim yang baik adalah yang muslim lain terjaga dari lidah dan tangannya..

    sebenernya ini situs penjelek2-an orang ato gimana, tolong moderator lebih arif dalam menerima komentar…

    saya sendiri belum tahu apa benar hadits tersebut ada atau tidak dalam kitab sahih muslim. karena kebetulan, saya belum memiliki kitab tersebut. so, sebaiknya, sebelum memberi komentar, kita rechek dulu dari sumber tertuduh….

    baik itu dari mesir, dari al-Azhar, ataupun dari kitab2 yang disebutkan ayt. Ja’far di atas…

    tabayun, mas… jangan sampai kita makan daging bangkai saudara kita sendiri karena kita berghibah. dan lebih jauh, yang kita ghibah-i adalah ulama besar, yang arif, dekat dengan Allah, pewaris para nabi, mujtahid, dan kekasih Allah, hafidz Qur’an, mencintai nabi lebih dari keluarga beliau sendiri, yang berjihad melakukan perjalanan beratus kilometer dengan perjalanan darat, di tengah panasnya gurun pasir, hanya demi mendapatkan satu riwayat hadits beserta sanadnya???

    sudahkah kita sekelas beliau, sehingga wajar menjelek2kan beliau ketika beliau telah meninggal? dengan mengatakan beliau menerima hadits yang dhoif dan gak rasional? apakah ini juga rasional?

    Astaghfirullah….yuk, kita tabayun dulu.

  7. Bagir said

    Salam..

    @ neilhoja

    1.Apakah akal bisa menerima hadis spt itu..? (mungkinkah nabi mengucap spt itu)

    2.apakah mungkin aurat wanita diperbolehkan oleh Rasul untuk diperlihatkan kpd bukan muhrim..?

    3. apakah D.R. Izzat Athiyah tidak bisa menyeleksi mana hadis palsu dan mana hadis shahih..? bukankah dia seorang DR..? kenapa ketika sebuah hadis bertentangan dg dalil Aqli dan Naqli ttp dia pake..? Rasionalkah..?

    4. Bukankah hadis yg bertentangan dg al Qur’an hrs disingkirkan? (jelas buah dada adalah aurat, al Qur’an memerintahkan kita menutup aurat)

    5. Bukankah Rasul saww melaknat orang2 yg membuat hadis2 palsu yg di nisbatkan kepada Beliau saww?

    6. Ulama memang pewaris Nabi..tapi ga semua ulama..! hanya mereka yg bersifat ‘Adalah yg pantas disebut pewaris nabi(anda pasti tau itu.)

    anda benar bahwa kita tidak blh menghibah..
    Maaf mas..dalam kebenaran tidak ada kelas2an…bahkan ucapan anak kecil jika benar kita harus mengikutinya..dan ini bukan menghibah..Jika membuka kebenaran apa itu menghibah..? jika kita menutupi (misal dg alasan/ucapan “hati2 ini ghibah lhoo..” ) maka sejarah yg haq ga akan terbuka.

    Wassalam

  8. teeway said

    Satu lagi, kalo udah kepojok, tabayunnn yuukkk…

    Tapi kalo diatas angin (masih punya dalil…), peraangg yuukkk… (kafirin orang, bodohin orang dll…dsb…)

    lihat comment2 yang ada dalam situs ini *)

    Afwan ya… cuman ngingetin aja… tabayuunnn yuuukkk

  9. neilhoja said

    @bagir…

    bukankah tabayun itu perlu… mas bagir dah liat haditsnya lum???

    oya, satu lagi… liat hadits gak cukup.. liat juga syarahnya ….

    udah pada liat…???

    nah sekarang baru dianalisa…

  10. neilhoja said

    berikut ini adalah haditsnya.. dari kitab sahih muslim, hadits no. 1453:

    ( 1453 ) حدثنا عمرو الناقد وابن أبي عمر قالا حدثنا سفيان بن عيينة عن عبدالرحمن بن القاسم عن أبيه عن عائشة قالت جاءت سهلة بنت سهيل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقالت يا رسول الله إني أرى في وجه أبي حذيفة من دخول سالم ( وهو حليفه ) فقال النبي صلى الله عليه و سلم
    : أرضعيه قالت وكيف أرضع ؟ وهو رجل كبير فتبسم رسول الله صلى الله عليه و سلم وقال
    : قد علمت أنه رجل كبير
    زاد عمرو في حديثه وكان قد شهد بدرا وفي رواية ابن أبي عمر فضحك رسول الله صلى الله عليه و سلم

    nah, begitulah memang haditsnya… tapi, ingat.. memahami sesuatu yang kita tidak tahu, harus pake syarh… siapa yang bisa mensyarahnya? tentu para ulama yang sudah sampai darajat pakar.. (bukan orang yang sok tau) berikut ini adalah syarhanya:

    [ ش ( سهلة بنت سهيل ) اختلف العلماء في هذه المسألة فقالت عائشة وداود تثبت حرمة الرضاع برضاع البالغ كما تثبت برضاع الطفل لهذا الحديث وقال سائر العلماء من الصحابة والتابعين وعلماء الأمصار إلى الأن لا يثبت إلا بإرضاع من له دون سنتين إلا أبا حنيفة فقال سنتين ونصف واحتج الجمهور بقوله تعالى والوالدات يرضعن أولادهن حولين كاملين لمن أراد أن يتم الرضاع وبالحديث الذي ذكره مسلم بعد هذا إنما الرضاعة من المجاعة وحملوا حديث سهلة على أنه مختص بها وبسالم وقد روى مسلم عن أم سلمة وسائر أزواج رسول الله صلى الله عليه و سلم أنهن خالفن عائشة في هذا ( أرضعيه ) قال القاضي لعلها حلبته ثم شربه من غير أن يمس ثديها ولا التقت بشرتاهما وهذا الذي قاله القاضي حسن ويحتمل أنه عفي عن مسه للحاجة كما خص بالرضاعة مع الكبر ]

    jadi, sekarang dah jelas kan?
    ada 3 poin penting:
    1. Para Ulama berkata, bahwa hadits tersebut khusus bagi sahlah dan salim.
    إنما الرضاعة من المجاعة وحملوا حديث سهلة على أنه مختص بها وبسالم

    2. Imam Muslim juga meriwayatkan dari ummi salamah dan seluruh isteri2 nabi, bahwa isteri2 nabi berbeda riwayat dengan apa yang disampaikan aisyah ra (dalam kalimat “susuilah dia”)

    وقد روى مسلم عن أم سلمة وسائر أزواج رسول الله صلى الله عليه و سلم أنهن خالفن عائشة في هذا ( أرضعيه

    3. al-Qodhi Hasan, berkata, mungkin saja sahlah memeras dulu air susunya, baru kemudian salim meminumnya, tanpa menyentuh buah dadanya dan bersentuhan kulit antar keduanya. pun bisa juga, menyentuhnya, namun dibolehkan, sebagaimana dibolehkan bagi sahlah (secara khusus, dan tidak boleh selainnya) memberi susuan pada orang baligh (salim).

    قال القاضي لعلها حلبته ثم شربه من غير أن يمس ثديها ولا التقت بشرتاهما وهذا الذي قاله القاضي حسن ويحتمل أنه عفي عن مسه للحاجة كما خص بالرضاعة مع الكبر ]

    nah, sekarang jelas bukan… hadits beserta syarhnya… jadi jangan asbun….

    rujukan: Kitab sahih Muslim

    Penulis: Muslim bin al-Hajj abu al-Husayn al-Qusyari an-Naisaburiy
    Penerbit: Daru Ihya at-Turats al-‘Araby Beirut
    Tahqiq: Muhammad Fuad abdul Baqiy
    Jumlah Juz: 5
    Bersama Kitab: Ta’liq Muhammad Fuad Abdul Baqiy

    Wallahu a’lam bishshowab.
    Wabillahittaufiq wal Hidayah.

  11. Jafar Shadiq said

    Iya, klu dari logika saya juga ga mungkin yang disodorin payudaranya dari hadis tersebut (jika memang ada), tapi pernah denger diperas dahulu dalam gelas yang diminumkan. tapi, ya namanya juga orang awwam, ga mu repot urusan payudara, hehehe, yang jelas2 saja, nanti klu ada yang ga jelas ya tinggal tanya bahror dan guru…

    Saya cuma orang awwam…

  12. Khairun Fajri said

    Saya fikir tidak bijak untuk menjadikan kesalahan fatwa yang dilakukan oleh DR. Izzat Atthiyah sebagai kesalahan Ahlu SUnnah secara keseluruhan dan kemudian menjadikan kesalahan itu sebagai “amunisi” untuk menyerang pendapat keberagamaan saudara-saudara kita ahlu sunnah.

    1) Dari banyaknya pendapat yang kontra terhadap fatwa tersebut, kita dapat kok melihat bahwa dikalangan ahlu sunnah sekalipun telah ada kesadaran yang cukup masif untuk melakukan kritik matan terhadap sebuah hadits yang tidak masuk akal yang sekalipun secara sanad dikatakan shahih.Karena bila kesadaran itu tidak ada, bagaimana mungkin bisa terjadi kontra pendapat dan teguran dari al azhar dengan begitu serius??
    2) Pendapat DR Izzat Atthiya tersebut bukanlah satu-satunya pendapat Ahlu Sunnah ketika memahami hadits sahih muslim itu.So, gak sportif tampaknya kalau kita menjadikan salah satu pendapat saja sebagai kesempatan untuk menjatuhkan judge secara keseluruhan..Bukankah persoalannya bukan hanya ada atau tidak adanya sebuah hadits sahih, tapi dengan cara apakah sebuah hadits shahih dipahami oleh segolongan orang atau ulama? Bukankah, kitab-kitab hadits syiah yang paling otoritatif sekalipun ( Al Kaafi misalnya) tak juga lepas dari hadits-hadits yang harus dinalar terlebih dahulu sebelum diaplikasikan?
    3) Akhi..setiap hadits harus dibawa kepada medan kontestasi dihadapan hadits lain terlebih dahulu baru kemudian dapat diaplikasikan.Lebih dari itu, sudah seharusnya kita melihat hadits apapun dari sudut pandang Quran? Nah, dalam kasus ini , cukuplah kita mengatakan bahwa pendapat DR Izzat Atthiya itu sebagai sebuah kesalahan dan tidak malah melebarkan argumen kita kepada hal-hal yang tidak akan membawa kemaslahatan dan persatuan sesama muslim. Marillah kita meniru sopan santun ayatullah ja’far subhani dalam melontarkan kritik.Insya Allah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: