Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Tiga tahun lalu terjadi perang pertama di Sa’dah

Posted by infosyiah pada 0, Juni 25, 2007

Tiga tahun lalu terjadi perang pertama di Sa’dah

Tiga tahun lalu pada hari-hari seperti ini, sebuah pasukan dikirim oleh pemerintah Yaman untuk menangkap Husein Badruddin al-Hautsi di pegunungan Maran, berada di bawah kawasan Haidan Barat Daya propinsi Sa’dah, dengan tujuan untuk membungkam slogan-slogan “Allahu Akbar!”, “mampus Amerika!” dan “mampus Israel!” sebagai bentuk kebencian terhadap hegemoni atas dunia dari dua negara kafir Amerika dan Israel. Yel-yel ini disuarakan sebagai tindakan protes dari masyarakat Yaman atas kehadiran militer Amerika dan Israel di tanah Yaman.

Ketika gerakan ini mulai menyebar ke seluruh tanah Yaman pemerintah lewat tentaranya berusaha untuk membungkam Husein Badruddin dan pengikutnya. Selama setahun Husein Badruddin setiap Minggu ia mengirimkan sekitar 20 orang anak-anak muda untuk ikut salat Jumat masjid-masjid besar di San’a dan Sa’dah. Mereka diminta oleh Badruddin untuk menyuarakan yel-yel anti Amerika dan Israel setiap kali mereka mengikuti salat Jumat. Namun, pemerintah mengirimkan pasukan untuk setiap Jumat menangkap mereka. Karena itu dilakukan setiap Minggu, maka jumlah mereka yang tertangkap mencapai angka 800 orang. Husein Badruddin tidak pernah rela untuk berdiam diri. Ia menganggap bahwa menyuarakan yel-yel anti Amerika dan Israel merupakan kewajiban syariat yang harus dilakukannya.

Pada waktu itu, Yaman baru saja merayakan bulan madunya dengan Amerika dan Barat. Yaman tidak dapat menerima gerakan yang ditunjukkan oleh Husein Badruddin dan orang-orang yang seide dengannya. Apa lagi di tengah-tengah masyarakat miskin seperti Yaman hal ini akan berubah menjadi sebuah gerakan nasional. Untuk membungkam Husein Badruddin, pemerintah mengirim unit tentara ke pegunungan Maran. Mereka ditugaskan untuk menangkapnya. Namun, yang terjadi adalah murid-murid dan pengikut Husein Badruddin memblokir tempat jalannya pasukan pemerintah itu. Ini adalah titik mulanya konflik antara orang-orang pasukan pemerintah dengan kelompok “Pemuda Mukmin”.

Perlawanan yang ditunjukkan oleh murid-murid dan pengikut Husein Badruddin selama tiga bulan berakibat jatuhnya ribuan korban; baik yang tewas maupun luka-luka, dari pihak pasukan pemerintah. Akhirnya, pemerintah melakukan sebuah tindakan pengecut dengan mengajak Husein Badruddin bertemu dan berunding dengan ulama, mereka membunuh Husein Badruddin dan 216 pengikutnya. Dengan diumumkan tewasnya Husein Badruddin bukan saja gerakan Pemuda Mukmin terhenti, melainkan gerakan itu menjadi meluas menjadi gerakan orang-orang Syiah Yaman.

Media-media Massa yang dekat dengan pemerintah memberitakan beberapa tuduhan terhadap Husein Badruddin. Mereka menyebutkannya sebagai kaki tangan Iran dan Hizbullah di Yaman. Ia dituduh berusaha untuk menggulingkan pemerintah dan mendirikan pemerintah berlandaskan keimamahan Zaid dan berbagai tuduhan bohong lainnya yang dialamatkan kepadanya. Sebagian menuliskan bahwa Husein Badruddin sebagai orang yang memasukkan mazhab Syiah Itsna ‘Asyariah ke Yaman. Sekaitan dengan mazhab Husein Badruddin dapat dikatakan bahwa ia sebagai pembaharu dalam mazhab Zaidiyah. Ia melontarkan ide-ide baru dalam mazhab Zaidiyah yang lebih dekat dengan mazhab Syiah Itsna ‘Asyariyah. Karena itulah, banyak dari ulama Zaidiyah konservatif menentang sikap dan pendapatnya.

Terlepas dari itu semua, apa hasil dari perang pertama Sa’dah?

Jelas, bahwa gerakan yang dimulai oleh Husein Badruddin menyadarkan dan membangkitkan semangat juang orang-orang Syiah Yaman baik yang bermazhab Zaidiyah maupun Itsna ‘Asyariyah. Setelah bertahun-tahun mereka tertekan baik dari sisi politik dan ekonomi, orang-orang Syiah Yaman kembali menemukan dirinya. Dengan terilhami ajaran-ajaran Ahlul Bait dan Revolusi Islam Iran serta menjadikan Hizbullah sebagai model pergerakan, mereka tengah berusaha untuk keluar dari tekanan dan keterasingan sejarah, geografis dan sistem politik yang dipaksakan kepada mereka.

Mereka selama tiga tahun terakhir mengalami tiga perang berdarah. Dan dengan pengalaman ini, mereka yakin dapat berdiri di atas kaki sendiri, mandiri. Selama lima bulan mereka mampu bertahan di hadapan mesin-mesin perang pemerintah ditambah pasukan dari kabilah-kabilah Yaman merupakan sebuah capaian yang sangat luar biasa. Sekalipun mereka punya harapan untuk dibantu oleh orang-orang Syiah di kawasan Timur Tengah seperti Iran, namun di lima bulan terakhir ini, hanya Muqtada Shadr yang secara terbuka mengeluarkan pernyataan mendukung perjuangan mereka. Akhirnya, setelah putus asa dari dukungan Iran, mereka akhirnya menerima gencatan senjata yang itu berarti mereka setara dengan pasukan Yaman, setelah dalam perang pertama dan kedua mereka mengalami kekalahan.

Republik Islam Iran dengan alasan mencermati peta politik dunia, Hizbullah Lebanon yang tidak ingin dicap sebagai ikut campur dalam urusan dalam negeri Yaman dan orang-orang Syiah dunia yang tidak mengetahui perjuangan orang-orang Syiah Yaman tidak memberikan bantuan kepada mereka. Namun, itu tidak berarti bahwa tidak ada yang membantu sama sekali. Dalam beberapa laporan disebutkan bagaimana orang-orang Syiah Kuwait, Bahrain dan Arab Saudi membantu mereka. Sayangnya, karena sumber-sumber berita ini berasal dari media yang dekat dengan pemerintah Yaman, maka sulit untuk dapat mempercayainya.

Coba bayangkan! Bila yang mengalami kasus seperti ini adalah kelompok Wahabi/Salafi di sebuah sudut dunia, apakah semua pemerintah Ahli Sunah, partai politik, kelompok-kelompok dan tokoh-tokoh Ahli Sunah tidak akan membantu mereka?

Sangat disayangkan bagaimana orang-orang Syiah yang belum menemukan bentuk terbaiknya dalam persatuan dan solidaritas di antara mereka masih harus menyaksikan kezaliman, pengungsian dan keterasingan orang-orang Syiah di dunia. Kita membutuhkan manusia-manusia yang dapat mengikat dan menguatkan rasa solidaritas di antara kita. Belum lagi kita temukan orang-orang seperti Imam musa Shadr yang berjuang di Lebanon atas dasar kemanusiaan dan solidaritas umat Islam begitu juga sahabatnya Sayyid Mushtafa Chamran. Lebanon masih beruntung memiliki Sayyid Hasan Nasrullah sebagai tokoh pemersatu Lebanon. Saat ini kita masih dapat menyaksikan Ayatullah Sayyid Ali Sistani yang sampai saat ini memegang paspor Iran dan sebagai warga negara Iran memperjuangkan persatuan di Irak dan sebagai tokoh pemersatu menghadapi tentara pendudukan Amerika dan Inggris.

Tapi siapa yang akan menjadi tokoh pemersatu dan pendukung orang-orang Syiah di Yaman?

Satu-satunya jalan yang berada di depan orang-orang Syiah Yaman adalah memperkuat dan membangun kembali diri mereka di Yaman. Mereka harus menjalin hubungannya dengan orang-orang Syiah selain orang-orang Iran di Kawasan Timur Tengah. Mereka tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan Iran. Posisi Iran sendiri cukup sulit untuk membantu secara terang-terangan. Namun, yang paling penting adalah orang-orang Syiah Yaman yang telah mengenal dengan baik diri mereka sendiri dan potensi yang mereka miliki serta pengalaman baru yang didapat mereka dapat menatap masa depan dengan lebih baik sampai muncul masa pemberian panji-panji kepada mereka. Insya Allah[infosyiah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: