Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

50 Ribu Dolar Untuk Merusak Islamic Center Syiah di Nigeria

Posted by infosyiah pada 0, Agustus 6, 2007

50 Ribu Dolar Untuk Merusak Islamic Center Syiah di Nigeria

Islamic Center Syiah di Nigeria yang terdiri dari masjid, huseiniyah, sekolah dan sebuah bangunan untuk aksi-aksi sosial secara tiba-tiba dirusak dan tanpa pemberitahuan pihak pengadilan terlebih dahulu.

Para pejabat daerah kota Sokoto yang terletak di sebelah Barat Laut Nigeria memerintahkan untuk menghancurkan bangungan-bangunan milik Islamic Center milik orang-orang Syiah.

Kantor Berita Isna melaporkan bahwa perusakan ini mencakup masjid, huseiniyah, sekolah dan sebuah yayasan sosial. Hal ini dilakukan tiga hari sebelum ada peringatan dari pihak pengadilan. Tindakan perusakan ini membuat munculnya demonstrasi di kota Sokoto.

Pada saat yang sama situs Nahrain  memberitakan protes keras orang-orang Syiah terhadap klaim-klaim dan serangan-serangan Wahabi/Salafi yang muncul dari fatwa ulama Wahabi.

Di Nigeria, pengikut Wahabi/Salafi menyuarakan isu-isu bohong mengenai ajaran Syiah. Dimulai dari acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, para Imam as. Kemarahan pengikut Wahabi/Salafi di Nigeria dan negara-negara Afrika lainnya karena diadakannya peringatan hari Asyura secara besar-besaran di sana.

Pemerintah daerah Sokoto mendapat kritik keras dari masyarakat di sana. Untuk itu, mereka berupaya untuk mengetahui apa alasan dibalik sikap itu.

Sementara itu, seorang pejabat Nigeria mengeluarkan pernyataan bahwa pelaku perusakan itu mendapat bayaran sebesar 50 juta dolar dari sebuah organisasi Wahabi/Salafi. Namun, sampai saat ini belum diketahui nama organisasi Wahabi/Salafi tersebut. Saat ini, pihak berwajib di Nigeria terus melakukan penyelidikan.[infosyiah]

52 Tanggapan to “50 Ribu Dolar Untuk Merusak Islamic Center Syiah di Nigeria”

  1. Wah, gimana nih kok ribut – ribut melulu.

  2. Memang Wahabi/Salafi dimana-mana selalu menyerang syiah karena mereka tahu persis bahwa selama syiah ada wahabi/salafi tidak dapat berkembang leluasa, namun mereka lupa bahwa penyerangan terhadap sesama muslim bukan ajaran Islam yang penuh dengan kedamaian.

  3. T Mulya said

    Di tengah upaya penciptaan hidup berdampingan secara damai antara Sunni dan Syiah di seluruh dunia, kejadian di Nigeria tsb patut disesalkan.
    Heran orang Wahabi kok cenderung ingin ribut terus ! Apa karena ada pengaruh dari dari Khawarij dan Muawiyah ?

  4. Quito Riantori said

    Biasalah, orang-orang Syiah males ribut, tapi kaum Wahabi itulah yang senang melakukan pengrusakan dan menyebarkan kebencian terhadap mereka yg berbeda paham.

  5. muhibbin said

    masyallah..inilah ujian yang perlu dihadapi para pengikut syiah…selagi dia teguh iman bersama al-mahdi semakin kuat ujiannya..tetapi akhirnya nanti insyallah kita akan mendapat nikmat yang tiada terbayang..solawat

  6. THOHIR said

    Jangan jangan ulamak Saudi yang ngasih fatwah bunuh ummat Islam yg Syiah di Iraq itu ponakannya Dajjal….

    Menurut sekilas info, Jin Ifrid itu kepokannya Dajjal

    TOHIRALKAF@YAHOO.COM

  7. bahlul said

    Inilah karakteristik NEO KHAWARIJ, berlaku keras kepada saudara muslim dan berlaku lembut kepada kaum kafir.

  8. darikata said

    Gile, cuma gara-gara materi. duh… spiritualitas yang patut dipertanyakan.

  9. darussalam said

    hhhhmmmmmm…..berita yang sangat menghasut….dan kumpulan komentar yang terhasut…!!! Naudzubillah…

  10. shehab said

    PROPAGANDA SYI’AH YANG MURAHAN.
    MINTA SIMPATI YAAA ?

    SYI’AH = SESAT = BUKAN ISLAM
    WAHABI = SETENGAH SESAT = POTENSIAL MENJADI BUKAN ISLAM

    FAHAMI KEDUA AJARAN (HAKEKAT) TERSEBUT SECARA SEKSAMA, JANGAN PAKAI HAWA NAFSU DAN JUGA JANGAN MENUHANKAN AKAL.

  11. hasan dalil said

    Ahlussunnah (Aswaja) termasuk wahaby/salafy bukan islam karena Al Qur’an yang dibacanya palsu yaitu telah diubah total oleh yang mengaku sahabat Rasulullah kecuali Imam Ali Krw. Untuk lebih jelasnya baca terutama kitab Al Kaafy susunan Kulayni, yang telah ditahkiq oleh ulama-ulama yang mumpuni bahkan oleh Imam Mahdi

  12. husseng said

    Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyah (Rafidhah) jelas-jelas telah keluar dari Islam. Para ulama kita terdahulu, oleh karena mereka tidak mengetahui hakikat Madzhab ini dengan sebenarnya karena disebabkan orang Syiah menyembunyikan Madzhabnya dengan rapi dan buku-buku mereka juga sangat sulit didapat. Maka oleh karena itulah sebagian ulama kita atas dasar kehati-hatian tidak mengkafirkan mereka. Tapi sekarang, buku-buku mereka dapat ditemukan dengan mudah dan hakekat Madzhab ini telah terbuka, oleh karena itu para ulama sepakat mengkafirkannya. Sebab mengingkari ushul-ushul agama, secara terang-terangan adalah kafir. Dan Alquran termasuk salah satu ushul agama yang mempunyai derajat dan maqam yang paling tinggi.

    Dan Syiah tanpa ikhtilaf (sepakat) baik itu ulama mutaqaddimin dan mutaakhhirin mereka semuanya mengakui aqidah tahrif Quran (ketidak aslian Al Quran). Dan di dalam buku-buku mu’tabar mereka terdapat lebih dari 2000 riwayat tahrif Quran. Yang mana di dalamnya disebutkan lima macam bentuk tahrif Quran. I. Tambahan dan pengurangan. II. Perubahan kata. III. Perubahan huruf. IV. Kerusakan susunannya. V. Dan juga kerusakan susunan surat, ayat dan kalimat.

    Dengan kelima macam riwayat ini, para ulama mereka mengatakan “Bahwa riwayat-riwayat tersebut adalah riwayat mutawatir dan dengan sharih (terang dan jelas) menunjukkan kepada maksud tahrif Quran. Dan sesuai riwayat-riwayat ini mereka ber’itiqad (tahrif Quran). Sejak para pencetus Madzhab ini meletakkan dasar Madzhab ini sampai sekarang telah berlalu tiga generasi / priode.

    Dalam priode pertama tidak ada satu ulama Syiah-pun yang mengatakan kesempurnaan Alquran dan tidak adanya tahrif di dalam Alquran. Kecuali dalam priode kedua, hanya ada empat orang ulama saja yang dengan kedok taqiah (dusta) mengakui kesempurnaan dan keaslian Alquran. Pertama Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Musa bin Babawaih 381 H. Kedua Syarif Murtadha Abul Qasim Ali bin Husain bin Musa Baghdadi 436 H. Ketiga Syaikh Thaifah Abu Ja’far Muhamad bin Ali Thusi 460 H. Keempat Abu Ali Tibrisi Aminudin Fadhl bin Husain bin Fadhl 548H.

    Yakni, dari kurun kedua 381 H sampai 548 H hanya empat orang saja yang mengakui tidak adanya tahrif di dalam Alquran. Oleh karena ucapan mereka tidak didasari oleh dalil dan bertentangan dengan riwayat-riwayat mutawatir, maka ulama ulama Syiah yang berada dalam kurun kedua telah menentang dan menolak pendapat mereka. Untuk mengetahui permasalahan ini dengan mendalam, silahkan rujuk buku saya “Tanbihul Haairin” dan “Alawalu minal Ma’tiin”.

    Allamah Bahrul Ulum Faranggi pada awalnya memfatwakan keIslaman Syiah. Tapi setelah beliau membaca Tafsir Majma’ul Bayan, beliau sadar bahwa Syiah mengakui aqidah tahrif Alquran. Maka dari itu di dalam bukunya Fawatihul Ramhat syarah Muslim beliau memberi fatwa kafir bagi Syiah. Beliau menulis “Barang siapa yang mengakui di dalam Alquran terdapat tahri (perubahan)f, maka ia telah kafir. Kesimpulannya kekufuran Syiah bukan hanya disebabkan aqidah tahri sajaf, tetapi didasari oleh sebab-sebab kufur lainnya. Seperti aqidah Bada’,memfitnah sayidah Aisyah dan lain-lain.

    Oleh sebab itu, tidak dibolehkan melakukan pernikahan dengan Syiah, sembelihan mereka haram dimakan, sumbangan mereka tidak boleh diambil. Secara syar’i tidak dibolehkan menyolati jenazah mereka dan mengikut sertakan mereka dalam menyolati jenazah umat Islam. Kalau anda mau tahu, mereka ini sebenarnya di dalam shalat jenazah muslim berdoa buruk bagi si mayyit

  13. husseng said

    Dengan mengingkari ke-shahabah-an Abu Bakar ra, memfitnah Aisyah ra. serta mengkafirkannya, Syiah telah kafir. Allamah Ibnu Abidin rah. menulis “Tidak diragukan lagi pengkafiran bagi orang yang memfitnah Aisyah ra. dan mengingkari Abu Bakar ra. sebagai sahabat.” (Syamii 3:294). Di tempat lain beliau juga menulis di dalam kitabnya ini bahwa Syiah murtad dan wajib dibunuh. (Syamii 2:683). Barang siapa yang mengakui bahwa terdapat tahrif di dalam Kalamullah, maka orang tersebut telah murtad dan kafir. Haram melakukan pernikahan dan berhubungan dengan mereka. Sebagaimana Allah berfirman “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”(Almujadalah 22). Oleh karna itu, tidak dibolehkan mengikut sertakan mereka dalam jenazah kita dan dalam selamat maupun ta’ziyah. Dengan beraqidah seperti ini, Syiah bukan saja kafir tapi Akfar (Lebih kafir dari golongan kafir lainnya).

  14. husseng said

    Sesungguhnya Rawafidh bukanlah termasuk golongan muslimin. (Alfashl jilid : 2 halaman : 78. Ibnu Hazm). Tidak ada hak bagi Syiah di dalam kelompok Islam. (Syifa Qadhi Iyadh). Secara ijma’ mereka kafir. Tidak ada pertentangan di dalamnya. (Mazahir Haq jilid : 4, halaman : 84). Syaikh Muhammad bin Yusuf, Syaikh Ahmad bin Yunus, Imam Abdullah bin Idris wafat 192 H. Semuanya sepakat di dalam pengkafiran Syiah. (Sharimul Maslul Halaman : 575. Ibnu Taimiyah).

    Rasulullah saw. bersabda “Akan muncul di akhir zaman nanti suatu kaum, yang menamai golongan mereka dengan Rafdhah.” (Musnad Ahmad 1:103). “Akan datang setelahku nanti satu kaum yang menyebut diri mereka dengan Rafdhah. Jika kalian menjumpainya bunuhlah. Karena mereka musyrik. Dan mereka menghina Abu bakar ra. dan Umar ra. Dan barang siapa yang menghina Sahabatku, baginyalah laknat Allah Swt., malaikat dan seluruh manusia. (Daruquthni). “Akan datang satu kaum yang menghina dan merendahkan para Sahabat ra. Janganlah duduk dengan mereka, memberi makan dan minum mereka. Dan janganlah menikahkan mereka dan menikah dengan mereka. Janganlah shalat bersama mereka, dan janganlah menyolati mereka. Dibolehkan melaknat mereka. (Ghaniyatut Thalibin. Halaman : 179. mukaddimatul Awashim Halaman : 24.)

  15. husseng said

    Sekarang kita lihat bagaimana ajaran – ajaran Syi’ah , apakah bertentangan dengan Al qur’an dan Hadist apa tidak bertentangan. Bagaimana sikap Syi’ah terhadap para Sahabat, terhadap istri istri Rosululloh serta bagaimana sikap dan keyakinan mereka terhadap Al qur’an itu sendiri.

    Dalam Al qur’an banyak sekali ayat ayat yang memuji dan menerangkan keutamaan para Sahabat, serta janji Alloh untuk memasukkan mereka dalam Surganya. Sedang dalam ajaran Syi’ah diterangkan bahwa para Sahabat yang dipuji oleh Alloh tsb, setelah Rosululloh Saw.wafat, mereka menjadi MURTAD (baca Al kafi 8-345).Alasan mereka karena para Sahabat membaiat Sayyidina Abubakar r.a sebagai Kholifah dan tidak membaiat Sayyidina Ali k.w. Kemudian mereka juga mencaci maki dan memfitnah istri istri Rosululloh Saw. Mereka mengatakan bahwa Siti Aisyah telah melakukan perbuatan serong. Padahal Alloh dalam Al qur’an telah menurunkan beberapa ayat dalam Surat An Nur yang isinya menerangkan kesucian Siti Aisyah, serta menolak tuduhan tuduhan yang dialamatkan kepada istri Rosululloh tersebut.

    Dengan demikian jelas sekali, berarti ajaran Syi’ah bertentangan dengan

    Al qur’an, atau jelasnya mereka menolak Kalamulloh (Al qur’an). Sedang orang yang menolak Kalamulloh , tidak diragukan lagi kekufurannya.. Dalam Al qur’an juga, Alloh telah menjamin keaslian Al qur’an ( Q.S. Al-Hijr : 9 ), tapi dalam ajaran Syi’ah, mereka berkeyakinan bahwa Al qur’an yang ada sekarang ini sudah tidak asli lagi ( Muharrof ). Ini berarti mereka menolak Kalamulloh. Mereka lebih percaya kata kata ulama mereka dari pada firman Alloh. Itulah sebabnya para ulama dengan tegas mengatakan bahwa Syi’ah Imamiyyah Itsnaasyariyyah atau yang sekarang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait, telah keluar dari islam (orangnya menjadi MURTAD karena asalnya beragama islam ). Ketentuan ini tidak hanya berlaku bagi orang orang Syi’ah saja, tapi siapa saja yang berkeyakinan seperti itu,telah keluar dari islam ( Kafir Murtad )

    Disamping ajaran Syi’ah bertentangan dengan Al qur’an, juga perbedaan kita umat islam dengan Syi’ah Imamiyyah Itsnaasyariyyah, disamping dalam Furu’ (cabang), juga dalam Ushul (pokok). Rukun iman kita berbeda dengan rukun iman mereka, juga rukun islam kita juga berbeda dengan rukun islam mereka. Oleh karena rukun iman kita berbeda dengan rukun iman mereka, maka konsekwensinya mereka mengkafirkan kita umat islam dan sebaliknya kita juga mengkafirkan mereka.

    Disamping itu masih banyak lagi hal hal yang dapat mengeluarkan mereka dari islam, seperti sikap dan keyakinan mereka terhadap Imam Imam mereka. Dimana mereka mendudukkan imam imam mereka diatas para Rosul dan para Malaikat Al-Mugorrobin (baca Al Hukumah Al Islamiah – 52 , karangan Khumaini).

    Hal hal semacam inilah yang dipakai rujukan oleh para ulama dalam menghukum KAFIR golongan Syi’ah Imamiyyah Itsnaasyariyyah

  16. gundala said

    nah kalo saudara husseng mau memberantas syiah, gimana caranya? sendirian atau bersama-sama. oleh sebab itu sebaiknya anda menghubungi ulama-ulama anda di timur tengah sekarang. kemudian diajak bicara (mungkin untuk menyadarkan mereka?). setelah itu terserah anda, anda mau ajak mereka untuk memerangi syiah atau gimana. nanti mereka setuju atau tidak? atau anda merasa cukup sendirian? kalo itu yang terjadi mungkin anda harus berfatwa, dan memiliki kemampuan untuk menarik umat. dan pada akhirnya mungkin anda harus membentuk mazhab yang termodern lagi.

  17. Haji Muhammad Abdullah said

    Assalamualaikum

    Rasulullah mengajarkan Islam kepada para sahabat berbeda-beda; sesaui dengan kecerdasan dan Iman yang ada di dalam masing2 sahabat.

    Mereka yang memiliki Taqwa & Ilmu yang tinggi diajarkan Islam yang lengkap dan keseluruhan oleh Rasulullah; tetapi mereka yang memili Ilmu dan Iman yang rendah diajarkan dasar dasar ajaran agama Islam.

    Anggota2 keluarga Rasulullah (Ali Ibn Tholib, Fatimah, Hasan, Husain dan Zainab) mendapatkan pelajaran Islam yang lengkap & keseluruhan; begitu juga para sahabat tertentu misalnya Salman Al Farsi, Ammar Ibn Yasir, Abu Dzarr Al Ghifari, Khobab Al Arrat, Bilal dll mendapatkan pelajaran Islam yang lengkap & keseluruhan. Mereka memiliki kecerdasan dan Taqwa yang sangat tinggi.

    Para sahabat yang lain dan juga anggota2 keluarga besar Banu Hasyim mendapatkan dasar dasar ajaran agama Islam; karena mereka memiliki kecerdasan yang rendah dan kurang bertaqwa.

    Madhab Ahlul Bait (Syi’ah) adalah ajaran Islam yang lengkap. Madhab Ahlul Sunnah (Sunni) adalah dasar dasar ajaran agama Islam.

    ALQURAN 2:208
    Hai orang orang yang beriman; masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu mengikuti langkah langkah Setan; karena Setan sesungguhnya adalah musuh kamu yang nyata.

  18. Kedamaian said

    Ass Wr Wb,
    Aku senang baca-baca blog umat muslim karena dapat tambah wawasan…cuma satu yang bikin hati sedih…selalu ada perdebatan dan ujung-ujungnya saling caci maki, selalu merasa ada yang paling benar. Aku gak melihat blognya umat yang lain (kristen, katolik, budha, hindu dll), apakah mereka juga saling menyerang atau saling caci maki, kalo jawabannya tidak, kenapa ngga kita rubah perdebatan tadi menjadi saling mencari kesamaan dan tonjolkan kesamaan tadi…pasti deh akur.
    Gimana mau melawan tentara Amerika, kalo di medan perang antara Sunni dan Syiah sendiri saling bunuh membunuh….mudah-mudahan di medan perang sama-sama melawan tentara Amerika…
    Selamat berjuang saudara-saudaraku…

  19. pangeran said

    assalam
    buat sehhab dan musseng anda jangan membuat fitnah murahaan, mengatakan mashab syiah sesat kalau mashab anda dikatakan sesat marah ngak…jangan2 loe tuu yang sesat ngak beriman (kafir)

  20. pangeran said

    assalam
    buat shehab anda jangan membuat fitnah murahaan, mengatakan mashab syiah sesat kalau mashab anda dikatakan sesat marah ngak..kok.. bisa ajaran dari kakek imam husein dibilang sesat, makanya pelajari sejarah jangan hanya mencemooh atau jangan2 anda itu yang sesat,….dasarrrrr wahabbi…

  21. Abdul Rahman Riza said

    sebelum ngtain syi’ah sesat coba ngaca dulu pelototin shahih bukhari berikut… heuheuheu

    http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/053.sbt.html#004.053.336

    Volume 4, Book 53, Number 336:

    Narrated ‘Abdullah:
    The Prophet stood up and delivered a sermon, and pointing to ‘Aisha’s house (i.e. eastwards), he said thrice, “Affliction (will appear from) here,” and, “from where the side of the Satan’s head comes out (i.e. from the East).”

  22. Bagir said

    Asslamu’alaikum…

    Gw cm mo numpang ketawa disisni abs bc komen Huseng ma Shehab,,,

    Hahahhahahahahahahahahahahahahahahah….!!!!
    kelas teri…hahahahahaha…teri…teri…hahahahahahah..klo mo menghujat syi’ah belajar dl dooong..Btw, di artikel “asal usul lukisan Nabi” ud byk komen ky gini, bc aja gmn mereka beragumen ttg syiah, ga ky huseng ma shehab,,,,kelas teri dech..hahahahahahahaha…

    uuuh…legaa….
    Wassalam

  23. Ali said

    Semoga sdr huseng mendapat ampunan dari Allah swt., kekacauan timbul karena orang2 macam beliau, Kalau kita terus saling menghujat, kapan perdamaian Sunni-syiah yg didambakan semua orang akan tercapai?

  24. adhy said

    syiah tidak mungkin sesat lah wong jaman nabi sudah si nobatkan baca hadis n tafsir surah al bayyinah. sunni mana dasarnya wong 250 tahun baru muncul eeehh nyelonong lagi salapi seribu taon baru nongol dari jaman nabi, sekutu inggris lagi. anta muslim anta akhiy anti muslimah anti ukhtiy. almautu israil almautu amirikiyah.

  25. nilam said

    waduh, waduh… buat yang nulis syi’ah sesat, hati-hati! kuwalat lo. beneran!

  26. Rendy Azar said

    Sdr husseng dll berdialoglah dengan sopan seperti yang diajarkan oleh Rasullullah SAW, manamungkin kita akan medapatkan kebenaran bilamana hati dan otak kita telah di set untuk menista bagaimana caranya anda dan yang sefaham dengan anda mengkafirkan 250 juta lebih kaum Syiah?.

    Cobalah berbicara yang jernih dan santun sebagaimana Nabi Muhammad SAW memberikan contoh atau anda datangi ulama ulama Syaih dan berdiskusilah Insya Allah akan ada pencerahan.

  27. aly said

    hey gir, lo teri-terian mandang orang lain, katanya mo akhlak irfan dsb. udah jawab aja yang perlu di jawab. liat tuh temen lu hasan dalil berani ngafirin orang lain yang jelas2 dah ngucapin dan membenarkan 2 kalimat syhadat. sy dah ketemu koq yang namnya hasn dalil, semoga dia insyaf…

  28. haydarroh said

    huseng n sehab….kaum syiah tidak pernah melaknat ato membuat cerita palsu…kami malah menganggap mereka berkata jujur n apa adanya, cuman orang2 sekarang aja yg belum bisa menerima kejujuran…keaslian sejarah yg adaa…n lebih suka dibodohi oleh cerita-cerita bohong, pemutar balikkan fakta…coba sudara pelajari lagi tarikh islam… baik versi sunni, syiah, ato wahabi…buka mata hati saudara…insya Allah saudara akan mendapat suatu pencerahan…Amien…!!!

  29. haydarroh said

    Kita selaku kaum muslimin yg baik, tidaklah sopan bila kita mengkafirkan suatu paham atau golongan tertentu.. hanya kerana mereka tidak sefaham dgn kita, dan setahu kami kaum syiah masih mengakui Tiada Tuhan selain Allah, Dan Muhammad Adalah Utusannya, itu menjadi dasar seorang Muslimin, terus yang saudara Huseng jelaskan tadi APA BISA menjadi TOLOK UKUR KAFIRnya suatu golongan…kalau dilihat dari pemaparan Anda…Saudara Huseng seperti golongan Sunni yg cerdik Pandai, tapi sebenarnya saya yakin dengan keimanan Saya..anda Adalah Golongan orang Yahudi yg berilmu CETEK..!!

  30. bagir said

    Hei ALy topan, gw kaga peduli ngadepin Nashibi ky elo..lo ktmu Hasan Dalil, kahn blm ktmu gw, dtg ke semarang, ane tunggu..ok.. Btw Tohir Alkaff albayyinat bayaran wahabi ud kaya tikus kecebur bak kamar mandi waktu dicariin Bapak ane dirumah sepupunya di semarang setelah mengompori warga jatim dan mengkafirkan syiah…rencana die di semarang di masjid Agung GAGAL TOTAL..! ketakutan…Hahhhhaaaaaaaaahaha…
    cari dikomen2 di info syiah yg ada nmr Hp gw, gw tunggu Kedatangan Nashibi ky elo..OK..!!

  31. bagir said

    Assalamu’alaikum

    Buat Pembaca Blog ini, sekedar pemberitahuan,Tohir Alkaf yg ana Maksud bukan “Tohir Alkaff” yg mengomentari di blog ini, Tapi Si Tohir asal tegal, kerjaannya ngumpet klo di cariin, pindah2 mulu.

    Wassalam.

  32. bagir said

    @ aly topan
    Lu baca jg komen2 dari sdra2 lo Huseng yg Pake ucapan ulama2 elo alias ulama suni, mrk mengkafirkan syiah, berati lo juga HARUS LIAT N BACA MEREKA BAHWA MRK JG MENGKAFIRKAN ORANG2 SYIAH YG MNGUCPKN SYAHADAT..!! Jgn cuma srh liat, tp LURUSIN tuh TMN2 ELO..!! N ini gw liat sendiri di komen2 itu, klo ente bilang Hasan Dalil Mengkafirkan Sahabat khan ana Kaga Liat n cm baca dr komen elo..! Kalo yg ente maksud “Hasan Dalil” yg nulis komentar no. 11 apa ane mau lgsng Percaya itu HASAN DALIL AL IDRUS yg udah dikenal sbg syiah??? bisa jd itu wahabi yg mau mecah belah Syiah Sunni yg nulis pk Nama “Hasan Dalil”…!! Lagian orang seperti HASAN DALIL AL IDRUS sangat tau bahwa hadis kulaini maslh Al Qur’an syiah beda dg sunni atu dirubah adalh DHAIF..!!! jd ANA GA SEGAMPANG ITU PERCAYA MA ELO..!! emng lo py hak otoritas apa untuk dipercya ucapan2 elo sama org2 termasuk Ane???..soriiiii la yauuuu…HAHAHAHA..!!

  33. bagir said

    Assalamualaikum

    untuk Huseng dan yg asal ngom, termasuk Aly topan :

    Apa Arti Syi’ah ?

    Arti Syi’ah

    Syi’ah berarti pengikut atau pembela.
    Al-Fairuzabadi di dalam al-Qamus dalam kata Sya’a mengatakan, “ Syi’atur rajul” adalah para pengikut dan pembela seseorang dalam konteks tertentu berarti kelompok. Hal ini berlaku untuk satu orang, dua orang, sekelompok orang, laki-laki dan perempuan. Namun, pada umumnya kata ini kata ini digunakan dalam arti setiap orang yang setia kepada Ali bin Abi Thalib as dan Ahlul Baitnya sehingga menjadi julukan khusus bagi mereka. Bentuk jamaknya adalah Asyya’ dan Syiya’ ” Inilah arti kata “Syi’ah”.

    Banyak yang mengartikan bahwa syi’ah adalah pengikut Ali bin Abi Thalib dan kawan-kawan setianya, yang muncul pada masa kekhalifahan Ustman bin Affan dan dibuat oleh Abdullah bin Saba’ si Yahudi.

    Padahal kata syi’ah dalam pengertian istilah berarti pengikut Ali bin Abi Thalib dan para pembelanya sejak zaman Rasulullah saw. Allah swt berfirman : “ Dan tiadalah dia (Muhammad) berbicara menurut kemauan nafsunya. Ucapannya itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS al-Najm [53]: 3-4).
    Rasulullah saww bersabda, “ Syiah Ali adlah orang-orang yang beroleh kemenangan”

    Al-Hafizh Abu Na’im, seorang ulama terkemuka dan ahli hadis dikalangan Ahlu Sunnah, yang dikatakan oleh Ibn Khalkan dalam kitabnya Wafiyat al-A’yan bahwa ia ( Abu Na’im) adalah termasuk para perawi hadis yang terpercaya dan ahli hadis yang handal. Kitabnya Hilyah al-Awliya’ yang mencapai 10 jilid merupakan kitab terbaik.

    Shalahuddin al-Shafadi dalam kitabnya al-Wafi bi al-Wafiyat menyebutkan, “ Mahkota ahli hadis adalah al-Hafizh Abu Na’im”.

    Muhammad bin Abdullah al-Khatib dalam kitabnya Misykat al-Mashabih mengatakan “Ia (Abu Na’im) termasuk para guru hadis tsiqat yang hadis-hadis mereka diterima, dan pendapat-pendapat mereka menjadi rujukan. Usianya mencapai 96 tahun”

    Al Hafizh Abu Na’im meriwayatkan dalam kitabnya Hilyah al-Awliya dengan sanad dari Ibn ‘Abbas : Ketika turun ayat yang mulia :

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal saleh itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS al-Bayyinah [98]: 7), Rasulullah bersabda kepada Ali as,” itu adalah engkau dan Syi’ahmu. Engkau dan Syi’ahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai.”

    Hadis diatas banyak diriwayatkan oleh ulama-ulama dari kalangan Ahlu Sunnah, antara lain : Abu Mu’ayyid, Mawfiq bin Ahmad al-Khawwarizmi dalam pasal 17 kitab al-Manaqib dalam kitab Tadzkirah Khawwash al-Ummah hal. 56. Disitu ia menyebutkan dengan sanad yang disebutkan dari Abu Sa’id al-Khudri :

    “Nabi saww memandang kepada Ali bin Abi Thalib, lalu bersabda, ‘Orang ini dan para pengikutnya (syi’ah) adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat.”

    Jalaludin al-Suyyuthi adalah seorang ulama terkemuka yang dikalangannya disebut sebagai pembaharu jalan ahlusunnah wal jama’ah abad ke-9 H, seperti disebutkan dalam kitab Fath al-Maqal. Dalam tafsirnya al-Durr al-Mantsur, beliau meriwayatkan hadis dari Ibn ‘Asakir al-Dimasyqi yang meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari bahwa ia berkata:

    Kami berada bersama Rasulullah sawa, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib dating. Maka Nabi saw bersabda, “Demi yang diriku dalam kekuasaan-Nya, orang ini dan syi’ahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat.” Kemudian turun ayat: “Seseungguhnya orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk.(QS al-Bayyinah [98]: 7).

    Demikian pula dalam al-Durr al-Mantsur dalam tafsir ayat tersebut, diriwayatkan hadis dari Ibn ‘Abbas, bahwa ia meriwayatkan: Ketika turun ayat tersebut, Nabi saww bersabda kepada Ali, “Engkau dan syi’ahmu datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai.”

    Masih banyak para ulama-ulama dari ahlussunah yang meriwaytkan hadis tersebut mengenai tafsir ayat diatas yang berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib as dan Syi’ahnya.
    Ulama-ulama tersebut antara lain :

    1.Ibn al-Shabagh al-Maliki dalam kitabnya al-Fushul al-Muhimmah halaman 122.

    2.Ibn Hajar dalam al-Shawa’iq, bab 11, meriwayatkan dari al-Hafizh jamaliddin, Muhammad bin Yusuf la-Zarandi. Disitu ia menambahkan : Maka Ali bertanya, “Siapakah musuhku?” Beliau saw menjawab “ Orang-orang yang berlepas darimu dan suka melaknatmu.”

    3.Mir Sayid Ali al-Hamdani al-syafi’i. dalam kitabnya Mawaddah al-Qubra meriwayatkan hadis dari umul mukminin dan istri Nabi saww, Ummu Salamah, bahwa ia berkata : Rasulullah saw bersabda, “ Wahai Ali, engkau dan sahabat-sahabatmu berada di surga. Engkau dan Syia’ahmu berada di surga.”

    4.Allamah al-Mashudi dalam Jawahir al-‘Uqdayn juga meriwayatkan dari al- Hafizh Jamaluddin al-Zarandi.

    Sebenarnya masih banyak hadis semacam itu yang menjelaskan mengenai syi’ah Ali as, jika saya tuliskan disini maka akan memakan banyak halaman, namun menurut saya semua itu sudah cukup bagi para pembaca yang budiman untuk berfikir sendiri dalam menaggapinya. Syi’ah adalah para pengikut Muhammad saww, bukan pengikut Yahudi seperti yg digembor2kan..!!, dan bahwa penamaan syi’ah kepada orang-orang yang setia, pecinta, pengikut, dan pembela Ali as datang dari Nabi Islam dan pemberi petunjuk manusia, Muhammad saww. Hal itu telah dikemukakan berulang kali ditengah para sahabat Nabi saww sehingga menjadi julukan bagi kawan-kawan setia dan pembela Ali as, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh para ulama-ulama ahlussunah maupun syi’ah.

    Dalam kitab al-Zinah karya Abu Hatim al-Razi, salah seorang ulama Ahlussunah, disebutkan bahwa nama pertama yang diberikan Islam sebagai julukan bagi sekelompok pada zaman Rasulullah saw adalah nama Syi’ah. Ada empat orang dari kalangan sahabat yang mendapat julukan ini ketika Nabi saww masih hidup. Mereka adalah : Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi, al-Migdad bin Aswad al-Kindi, dan Ammar bin Yasir.

    Dan keempat orang itu memiliki kemuliaan masing-masing yang sering disebut oleh Rasulullah saww.

    Jadi Kalo mau mengkafirkan Syiah Imam Ali as silahkaaaan..khan mereka sendiri yg berarti menentang ucapan2 Rasul tersebut yg ada dalam kitab2 mereka (sunni) sendiri..!

    Wasalam

  34. bagir said

    Tambahan buat Aly Topan :

    Lo baca tuh komen 21 sampe akhir, Oo iya..btw bisa bhs Linggis ga..?? eh mksdnye inggris ding..hehehehe..
    itu Hadis di kitab sunni Lhooo…hehehehehe..baca beng Ly..khan katenye ente ud dari Qum..hehehehehe..masa kaga belajar kitab2 sunni disana..? hehehehe….

  35. alhadiboy said

    wah.. most wanted person : Tohir Alkaff << alkaffnya dapet darimana nich 😉 nama Tohir juga g’ cocok sepertinya buat dia. mulutnya berisi fitnah, fitnah, dan fitnah.

    rasa hasud dan hal buruk lainnya berkecamuk dalam dirinya hingga dia seakan antek sang durjana, amerika, wayang yang didalangi israel.

    “klo Syi’ah dinisbatkan sebagai pengikut Abdullah bin Saba’..”

    orang seperti Tohir Alkaff ini sepertinya memiliki sifat yang rada mirip seperti cerita fiktif yang di gembor2kan ke khalayak umum..

    na’udzubillah min dzalik. semoga Allah menjauhkanku darinya sang durjana (amerika-israel beserta koloni2nya)

  36. sheva said

    wahai saudaraku
    kita kan sesama islam, jangan suka saling mengkafirkan deh , dan ngga` boleh mencaci habib thohir alkaff yaa , mendingan kita berdoa kepada Allah semoga hati nya dan lisannya agar di THOHIRkan dari segala fitnah fitnahnya kepada para pecinta nabi dan keluarga Nya
    oke,,,,,,,,,,,,,

  37. maleek said

    dan untuk mas HUSSENg,aku sudah membaca tanggaapan anda pada no yang ke 12.

    1.tolong bawakan bukti bahwasannya orang syiah telah menganggap Alquran telah mengalami perubahan,trus ayat apa yang dirubah,sebelum dirubah bunyi ayatnya seperti apa dan setelah di rubah ayatnya seperti apa????? tolong sebutkan ya mas huseng

    jangan asal ngomong yaa coba buktikan kalau ello emang laki laki jantan plus tulen…. dan seanainya orang orang syiah tidak taqiyyah mungkin bakal ello bunuh

  38. maleek said

    semoga orang seperti saudara huseng yang hanya omong kosong mendapatkan ampunan dari Allah swt karena dengan adanya orang seperti ini islam bisa cepat untuk terpecah belah….( itu sih kalao Allah mengampuni

  39. maleek said

    dan untuk husseng pula. coba usul pada saudaramu di situs AL BAYYINAT agar di situs mereka dikasih tanggapan seperti di blog ini agar lebih terbuka,,,, OKEY

  40. Anwar sanusi said

    Assalamu’alaikum. For all. My Ustadz, para sayid, habaib. Ada yg punya referensi mngenai suni x syiah yg netral gak wasalam

  41. mahdiyin said

    MENGENALI SEJARAH SYIAH DI IRAN LEBIH DEKAT

    •antara RINGKASAN TEKS:

    ”…Setelah berpuas hati dengan peristiwa Perang Jamal dan Perang Siffin, mereka beralih mengangkat ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang diiktiraf. Sebabnya, Husain bin ‘Ali telah berkahwin dengan Syahr Banu, puteri Raja Yazdajird bin Syah Rayar bin Kisra daripada Empayar Sasanid Parsi. Puteri Syahr Banu telah melahirkan ‘Ali bin Husain maka dengan itu mereka mengangkat beliau sebagai khalifah yang baru kerana memiliki darah kesultanan Parsi.[9]

    • Kepimpinan yang baru ini digelar “Imam”
    • “…. Akan tetapi penetapan dan pewasiatan ini mereka hadkan hanya kepada keturunan ‘Ali bin Husain bin ‘Ali yang dilahirkan oleh Puteri Syahr Banu. ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dimasukkan sama .[11] Keturunan-keturunan lain daripada para isteri Hasan dan Husain tidak mereka masukkan dalam “penetapan dan pewasiatan” ini kerana mereka tidak memiliki darah Parsi.[12]

    Sila BACA (Teks penuh): Siapakah Syiah Rafidhah

    Siapakah Syiah al-Rafidhah

    Perkataan Syi‘ah dari sudut bahasa.
    Dari sudut bahasa, Syi‘ah (شيعة) disebut sebagai Syi‘ah seseorang (شيعة الرجل), bererti pengikutnya (أتباعه), pendokongnya (أنصاره) dan puaknya sahaja (الفرقة على حدة). Ia diungkap untuk seorang atau dua orang atau ramai, lelaki dan wanita.[1]
    Penggunaan istilah ini di dalam al-Qur’an antara lain boleh dirujuk dalam ayat 15 surah al-Qasas:
    Dan masuklah ia (Musa) ke bandar (Mesir) dalam masa penduduknya tidak menyedarinya, lalu didapatinya di situ dua orang lelaki sedang berkelahi, – seorang dari golongannya sendiri (Syi‘ah) dan yang seorang lagi dari pihak musuhnya. Maka orang yang dari golongannya (Syi‘ah) meminta tolong kepadanya melawan orang yang dari pihak musuhnya; Musa pun menumbuknya lalu menyebabkan orang itu mati. (pada saat itu) Musa berkata: “Ini adalah dari kerja Syaitan, sesungguhnya Syaitan itu musuh yang menyesatkan, yang nyata (angkaranya).” [al-Qasas 28:15]

    Maksud Syi‘ah dari sudut istilah.
    Gelaran Syi‘ah lazimnya ditujukan kepada setiap orang yang setia (wala’) kepada ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahl al-Baitnya radhiallahu ‘anhum, sehingga ia menjadi nama gelaran yang khusus bagi mereka.[2]

    Pembahagian Syi‘ah kepada 3 golongan:
    Mazhab Syi‘ah boleh dibahagikan kepada beberapa kumpulan berdasarkan beberapa kategori seperti akidah, politik, fiqh dan sebagainya.[3] Yang penting dalam perbahasan buku ini ialah pendirian atau mazhab Syi‘ah apabila berinteraksi dengan kedudukan para sahabat dan persoalan khalifah (الإمامة), di mana ia dapat dibahagikan kepada 3 kumpulan:

    Pertama: al-Tasyaiyu’ (التشيع).
    Kumpulan ini adalah mereka yang bersimpati lalu menyebelahi pasukan ‘Ali bin Abi Thalib dalam peristiwa peperangan antara pasukan ‘Ali dan Mu‘awiyyah, radhiallahu ‘anhuma. Mereka juga mengambil berat, merasa sedih dan simpati ke atas nasib yang menimpa ‘Ali dan keluarganya: Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhum sebagaimana yang tercatit di dalam sejarah Islam.

    Kedua: al-Mufadhdhilah (المفضلة)
    Kumpulan ini adalah mereka yang berpendapat bahawa ‘Ali bin Abi Thalib dan keluarganya adalah lebih mulia, lebih utama dan lebih tinggi kedudukannya berbanding lain-lain sahabat.
    Walaubagaimanapun kedua-dua kumpulan yang pertama ini mengiktiraf jawatan khalifah Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman serta tidak mencela para sahabat yang lainnya. Pilihan mereka kepada apa yang mereka cenderungi tidak menyebabkan mereka berlaku tidak adil dan berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap apa yang tidak mereka cenderungi.

    Ketiga: al-Rafidhah (الرافضة)
    al-Rafidhah bermaksud kumpulan yang menolak. Syi‘ah al-Rafidhah adalah mereka yang menolak kekhalifahan dan keutamaan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman. Mereka juga menolak para imam daripada keturunan Ahl al-Bait Rasulullah kerana mereka (para imam daripada keturunan Ahl al-Bait) juga mengiktiraf kekhalifahan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman serta mengutamakan mereka bertiga di atas ‘Ali bin Abi Thalib.[4]

    Bertitik tolak daripada penolakan di atas maka terbentuk 4 asas berikut yang menjadi iktikad Syi‘ah al-Rafidhah:

    1. Bahawa khalifah pertama yang hak selepas kewafatan Rasulullah ialah ‘Ali diikuti dengan Husain dan keturunannya.

    2. Bahawa para sahabat sehinggalah ke umat Islam masa kini dari kalangan Ahl al-Sunnah telah membelakangi nas al-Qur’an dan al-Sunnah yang menetapkan jawatan khalifah mereka (‘Ali, Husain dan keturunannya).

    3. Bahawa kerana sikap Ahl al-Sunnah yang membelakangi al-Qur’an dan al-Sunnah sepertimana poin 2 di atas, maka mereka, sejak dari Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan para sahabat seluruhnya sehingga ke umat Islam hari ini berada di dalam kesesatan.

    4. Bahawa mazhab yang benar di dalam Islam ialah Mazhab Syi‘ah manakala Mazhab Ahl al-Sunnah adalah mazhab yang salah.

    Buku ini insya-Allah akan memberi tumpuan kepada membahas dan menjawab nas-nas al-Qur’an dan al-Sunnah serta kisah sejarah yang digunakan oleh Syi‘ah al-Rafidhah untuk membentuk 4 asas di atas. Atas tujuan singkatan perkataan, Syi‘ah al-Rafidhah akan disebut sebagai “Syi‘ah” sahaja di dalam buku ini.

    Pengenalan ringkas kepada sejarah kelahiran Syi‘ah.
    Faktor yang masyhur disebut sebagai sebab kelahiran Syi‘ah ialah peranan ‘Abd Allah bin Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam tetapi sebenarnya memiliki tujuan ingin menghancurkan Islam dari dalam.[5]
    Akan tetapi pada penelitian penulis, wujud faktor kedua atau sebuah lagi tenaga penggerak yang melahirkan Syi‘ah. Hal ini wajar kerana faktor yang memecahkan Islam kepada dua aliran besar: Ahl al-Sunnah dan Syi‘ah perlu terdiri daripada sesuatu yang jauh lebih besar, lebih kuat, lebih berazam, lebih berpengaruh dan lebih efektif daripada ‘Abd Allah bin Saba’ seorang sahaja.
    Malah keselesaan kita (Ahl al-Sunnah) memfokuskan faktor kelahiran Syi‘ah kepada peranan ‘Abd Allah bin Saba’ sahaja menyebabkan kita leka daripada faktor kedua yang masih memainkan peranan aktif mengembangluaskan Mazhab Syi‘ah sehingga ke hari ini. Lebih berat, kelekaan ini menyebabkan usaha memantau gerakan Syi‘ah menjadi tidak berkesan kerana sasaran yang dipantau (peranan Ibn Saba’) bukan lagi merupakan tenaga penggerak kepada dakwah Syi‘ah di hari ini.
    Faktor kedua yang penulis maksudkan ialah peranan Bangsa Parsi. Peranan mereka dapat diringkaskan kepada peringkat-peringkat berikut ini:
    • Sejak sejarah mula ditulis, telah wujud persaingan antara Bangsa Parsi dan Bangsa Arab dari sudut kebudayaan, tamadun, kepercayaan agama dan sebagainya. Persaingan ini sering kali bertukar menjadi peperangan dengan kemenangan selalunya berada di pihak Parsi.[6]

    • Zaman kegemilangan Parsi berakhir apabila pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anh, negara Parsi telah diambil alih oleh pemerintahan Islam. Empayar Sasanid dan sistem Istana yang menjadi kaedah beragama turun temurun bangsa Parsi diruntuhkan.

    • Ini merupakan satu tragedi yang amat buruk bagi bangsa Parsi. Sebahagian mereka ada yang memeluk Islam dengan ikhlas. Namun sebahagian lagi, khasnya mereka yang memiliki semangat kebangsaan yang amat kuat serta kesetiaan yang tinggi kepada dinasti kesultanan, pura-pura memeluk Islam dengan objektif ingin membalas dendam dari jalan dalam.[7]

    • Kejayaan mereka yang pertama ialah menggerakkan operasi membunuh Umar bin al-Khaththab. Seterusnya mereka dengan kerja sama ‘Abd Allah bin Saba’ menggerakkan operasi menabur benih-benih kedengkian yang akhirnya berjaya menghasilkan pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan.

    • Setelah terbunuhnya ‘Utsman, ‘Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah umat Islam. Ketika itu para sahabat berbeza pendapat untuk menghukum para pembunuh ‘Utsman. ‘Ali bin Abi Thalib mewakili kelompok pertama yang berpendapat yang utama ialah menyatukan semula umat Islam dan meredakan kekecohan yang wujud pada saat itu, kemudian barulah dijatuhkan hukuman kepada para pembunuh ‘Utsman. Kelompok kedua pula berpendapat yang utama ialah menjatuhkan hukuman kerana hanya ini akan dapat menyatukan semula umat Islam dan meredakan kekecohan.

    • Perbezaan pendapat ini dimanfaatkan sepenuhnya oleh bangsa Parsi dengan mencetuskan fitnah bahawa kelompok pertama dan kedua sedang bersiap sedia untuk saling memerangi antara satu sama lain. Akhirnya berlakulah Perang Jamal dan Perang Siffin di kalangan para sahabat.[8]

    • Setelah berpuas hati dengan peristiwa Perang Jamal dan Perang Siffin, mereka beralih mengangkat ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang diiktiraf. Sebabnya, Husain bin ‘Ali telah berkahwin dengan Syahr Banu, puteri Raja Yazdajird bin Syah Rayar bin Kisra daripada Empayar Sasanid Parsi. Puteri Syahr Banu telah melahirkan ‘Ali bin Husain maka dengan itu mereka mengangkat beliau sebagai khalifah yang baru kerana memiliki darah kesultanan Parsi.[9]

    • Kepimpinan yang baru ini mereka gelar “Imam” agar lebih sesuai dengan imej Islam. Akan tetapi diterapkan beberapa ciri yang tidak berasal daripada Islam seperti penetapan waris tahta (konsep dinasti), suci (sifat maksum – terpelihara dari dosa dan kesilapan) dan memiliki kekuasaan dalam penentuan syari‘at agama (dijadikan sumber syari‘at). Mengikut sebahagian pengkaji, 3 ciri ini adalah sesuatu yang berasal daripada tradisi Empayar Sasanid.[10]

    • Demi membenarkan kedudukan “Imam” mereka yang baru ini, mereka mencipta teori bahawa al-Qur’an dan al-Sunnah telah menetap dan mewasiatkan jawatan khalifah kepada ‘Ali dan keturunannya, menetapkan kesucian mereka dan mengangkat mereka sebagai penentu syari‘at agama.

    • Akan tetapi penetapan dan pewasiatan ini mereka hadkan hanya kepada keturunan ‘Ali bin Husain bin ‘Ali yang dilahirkan oleh Puteri Syahr Banu. ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dimasukkan sama semata-mata untuk melengkapkan teori ini.[11] Keturunan-keturunan lain daripada para isteri Hasan dan Husain tidak mereka masukkan dalam “penetapan dan pewasiatan” ini kerana mereka tidak memiliki darah Parsi.[12]

    • Untuk mengunggulkan teori ini, mereka menghukum dan mencela sesiapa yang tidak mengiktiraf kekhalifahan ‘Ali dan keturunannya.

    • Berkat hidayah dan ilmu yang Allah kurniakan kepada ‘Ali bin Husain bin ‘Ali dan keturunannya, mereka semua menolak pengangkatan diri mereka sebagai “Imam”. Mereka beriktikad bahawa sistem khalifah bercirikan pewarisan, maksum dan penentu syari‘at agama tidak pernah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, bahawa Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman adalah 3 khalifah pertama umat Islam yang sah. Mereka bertiga memiliki keutamaan dan kemuliaan yang melebihi semua orang manakala mereka (‘Ali bin Husain dan keturunannya) hanyalah manusia biasa.[13]

    • Mereka (bangsa Parsi) menolak iktikad ‘Ali bin Husain dan keturunannya. Akan tetapi demi menjaga kebenaran teori “penetapan dan pewasiatan” dan menjaga maruah bangsa, mereka meneruskan konsep “Imam” dengan mencipta pelbagai dusta ke atas ‘Ali bin Husain dan keturunannya dan menyembunyikan iktikad mereka yang sebenar.

    • Keturunan ‘Ali bin Husain terhenti pada al-Hasan bin ‘Ali bin Muhammad bin Ja’far al-Askari (260H) rahimahullah kerana beliau tidak memiliki anak.[14] Untuk menyelesaikan masalah ini mereka mencipta teori baru, iaitu teori Imam pengganti yang ghaib. Imam pengganti ini mereka namakan Imam Mahdi, meminjam daripada iktikad Ahl al-Sunnah tentang kedatangan Imam Mahdi pada akhir zaman nanti sebagaimana yang dikhabarkan oleh hadis-hadis yang mutawatir sifatnya. Sejak tahun 260H sehingga ke hari ini, mereka meneruskan teori baru ini sebagai kesinambungan daripada teori pertama yang mereka dirikan sejak awal lagi.[15]

    • Sehingga hari ini teori-teori di atas masih diperjuangkan oleh bangsa Parsi, pertama sebagai mempertahankan maruah bangsa dan kedua untuk menjauhkan umat Islam daripada agama mereka yang tulen sebagai balasan kepada tindakan umat Islam yang telah memusnahkan “Dinasti” mereka 1400 tahun yang lalu. Oleh itu bukanlah merupakan satu keasingan bahawa satu-satunya negara yang memainkan peranan aktif dalam mengembangkan dakwah Syi‘ah sehingga hari ini ialah negara asal bangsa Parsi, iaitu Iran.

    • Aliran Syi‘ah di Iran dikenali sebagai al-Itsna ‘Asyariyyah, bermaksud “12 Imamah”, namun ciri-ciri aliran 12 Imamah ini tidak jauh daripada ciri-ciri Syi‘ah al-Rafidhah.[16] Negara Iran merupakan pusat sumber ilmu ajaran Syi‘ah, kebanyakan tokoh besar Syi‘ah semuanya berasal dari Iran manakala misi-misi dakwah dijalankan oleh wakil-wakil Iran seperti pihak kedutaan,[17] pertubuhan bebas, syarikat perindustrian yang datang melabur sehinggalah kepada para pensyarah yang mengajar di pusat pengajian tinggi negara-negara Ahl al-Sunnah. Antara misi dakwah mereka ialah:
    1. Melantik dan melatih juru dakwah yang terdiri daripada bangsa negara itu sendiri.
    2. Menterjemah dan meluaskan penerbitan buku-buku pro-Syi‘ah yang asalnya dalam bahasa Parsi.
    3. Menjalankan projek kebajikan ke atas orang-orang miskin untuk “membeli” keyakinan mereka. Ini umpama strategi dakwah da‘i Kristian.
    4. Mendirikan laman-laman web dalam bahasa ibunda negara tersebut bagi meluaskan jangkauan dakwah tanpa pantauan daripada pihak berwajib.

    Demikian ringkasan sejarah kelahiran Syi‘ah sehingga ke hari ini.[18] Sekalipun Mazhab Syi‘ah dalam bentuknya yang umum, yakni dengan pelbagai alirannya, tersebar di beberapa negara, akan tetapi satu-satunya negara yang memainkan peranan aktif menyebar luaskan secara khusus Mazhab Syi‘ah al-Rafidhah ialah Iran. Ini jelas menunjukkan bahawa ia, Mazhab Syi‘ah al-Rafidhah, adalah sesuatu yang berkaitan dengan bangsa Parsi.[19] Ini berbeza dengan Mazhab Ahl al-Sunnah yang disebar luaskan oleh semua negara Islam, menunjukkan ia bukan sesuatu yang terikat kerana bangsa. Hakikat ini perlu diperhatikan oleh semua pihak agar mereka dapat menyusun semula strategi memantau gerakan Syi‘ah di negara masing-masing.

    C: Benarkah Syi‘ah ialah pengikut Ahl al-Bait Rasulullah ?

    [1] al-Fairuzabadi (817H) – al-Qamus al-Muhith, ms. 735 (Bab al-‘Ain, Fasal al-Syin).
    [2] al-Fairuzabadi – al-Qamus al-Muhith, ms. 735.
    [3] Atas hakikat ini penulis tidak setuju dengan tindakan beberapa pihak yang mengeneralisasikan Syi‘ah kepada satu kumpulan sahaja dan sekali gus menghukum seluruhnya sebagai tidak benar, sesat dan sebagainya. Yang benar Syi‘ah terbahagi kepada pelbagai kumpulan dan kategori. Kita perlu menelitinya satu persatu dan menghukumnya secara berasingan (case by case basis).
    [4] Lebih lanjut tentang hakikat ini, sila rujuk:
    1. Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani (1252H) – Irsyad al-Ghabi ila Mazhab Ahl al-Bait fi Shabi al-Nabi (edisi terj. oleh A.M. Basalamah atas judul Sikap Ahlul Bait Terhadap Para Sahabat Nabi; Lembaga Penelitian & Pengkajian Islam (LPPI), Jakarta tp.thn.).
    2. Ihsan Ilahi Dhahir – al-Syi‘ah wa Ahl al-Bait (edisi terj. oleh Mustafa Mahdamy atas judul Tikaman Syi‘ah Terhadap Para Sahabat Nabi; Pustaka Mantiq, Solo 1986).
    3. Mamduh Farhan al-Buhairi – al-Syi‘ah Minhum ‘Alaihim, ms. 12 dan seterusnya.
    [5] Syi‘ah berusaha keras untuk menafikan kewujudan ‘Abd Allah bin Saba’ mahupun peranannya. Akan tetapi seperti biasa, usaha mereka tidak terlepas daripada pendustaan dan penyelewengan ilmiah. Sebagai contoh, mereka cuba melemahkan sebahagian jalan periwayatan (sanad) tentang Ibn Saba’, namun pada waktu yang sama mendiamkan jalan-jalan periwayatan yang lain.
    Malah mereka juga mendakwa bahawa kononnya al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852H) menolak riwayat-riwayat berkenaan Ibn Saba’ sebagai “tidak bernilai.” M. Hashem di dalam bukunya ‘Abd Allah bin Saba’ Dalam Polemik (Penerbitan YAPI, Jakarta 1989), ms. 24 telah menukil kata-kata Ibn Hajar yang beliau terjemahkan sebagai:
    Berita-berita tentang ‘Abdullah bin Saba’ dalam sejarah sangat terkenal tetapi tidak (satupun) bernilai riwayat. Dan segala puji bagi Allah…
    Akan tetapi apabila dirujuk di dalam kitab Ibn Hajar – Lisan al-Mizan, jld. 4, ms. 24, biografi no: 4618 (‘Abd Allah bin Saba’), Ibn Hajar berkata:
    وأخبار عبد الله بن سبأ شهيرة في التواريخ, وليست له رواية ولله الحمد…
    Kata-kata Ibn Hajar yang ringkas ini sebenarnya memiliki 2 pecahan:
    1. وأخبار عبد الله بن سبأ شهيرة في التواريخ bermaksud: “Khabar-khabar ‘Abd Allah bin Saba’ masyhur di dalam kitab-kitab sejarah.” Ini bererti Ibn Hajar mengiktiraf dan membenarkan kewujudan dan peranan Ibn Saba’ sebagaimana yang tercatit di dalam kitab-kitab sejarah.
    2. وليست له رواية ولله الحمد bererti: “Namun bagi dia tidak satu pun riwayat, dan bagi Allah segala puji-pujian.” Maksud Ibn Hajar, Ibn Saba’ tidak meriwayatkan apa-apa hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sama ada dengan sanad yang sahih atau dha‘if atau maudhu’. Ringkasnya Ibn Saba’ bukan seorang perawi hadis. Ibn Hajar mengakhiri dengan memuji Allah sebagai tanda kesyukuran. Ini kerana jika Ibn Saba’ seorang perawi hadis, pasti akan wujud banyak hadis lemah dan palsu yang diriwayatkan olehnya sehingga mencemari ketulenan sumber al-Sunnah bagi umat Islam.
    Kata-kata Ibn Hajar ini tidak sedikitpun bererti: “…tetapi tidak (satupun) bernilai riwayat…” sebagaimana yang diterjemahkan oleh M. Hashem. Inilah yang penulis maksudkan sebagai pendustaan dan penyelewengan ilmiah.
    [6] Lebih lanjut rujuk: Syi‘ah, Imam Mahdi dan Duruz: Sejarah dan Fakta oleh ‘Abd al-Mun‘im al-Nimr (edisi terjemahan oleh ‘Ali Mustafa Ya’qub; Qisthi Press, Jakarta 2003), ms. 26 dan seterusnya.
    [7] Syi‘ah, Imam Mahdi dan Duruz: Sejarah dan Fakta, ms. 31 dan seterusnya.
    [8] Kisah-kisah sejarah dalam peristiwa-peristiwa di atas banyak yang tidak benar sekalipun yang tertulis dalam rujukan formal seperti silibus sejarah persekolahan dan buku-buku di pasaran. Kisah di atas sebenarnya patut diterima berdasarkan manhaj Ahl al-Hadis (metode kajian sanad) dan bukannya manhaj Ahl al-Tarikh (metode meriwayatkan semua cerita). Oleh itu disyorkan beberapa rujukan berikut sebagai sumber sahih dalam menilai peristiwa-peristiwa di atas:
    1. Abu Bakar Ibn al-‘Arabi (543H) – al-‘Awasim min al-Qawasim fi Tahqiq Mawaqif al-Shahabah ba’da Wafat al-Nabi dengan tahqiq Muhib al-Din al-Khatib (1389H) (Dar al-Jail, Beirut 1994). Telahpun diterjemahkan dengan lengkap oleh Abu Mazaya & ‘Ali Mahfuz atas judul Benteng-Benteng Penahan Kehancuran: Satu Upaya dalam Membela Para Sahabat Nabi s.a.w. (Darul Iman, Sri Gombak 2002).
    2. Muhammad bin Yahya al-Andalusi (741H) – al-Tamhid wa al-Bayan fi Maqatil al-Syahid ‘Utsman bin ‘Affan dengan tahqiq Karam Hilmi Farhat Ahmad (كرم حلمى فرحات أحمد) (Dar al-‘Arabiyyah, Kaherah 2002).
    3. Muhammad Amahzun (محمد أمحزون) – Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fi al-Fitnah min Riwayat al-Imam al-Tabari wa al-Muhadditsin (Dar al-Thayyibah, Riyadh 1999). Telah diterjemahkan secara ringkas oleh Rosihon Anwar atas judul Meluruskan Sejarah Islam – Studi Kritis Peristiwa Tahkim (Pustaka Setia, Bandung 1999).
    4. Muhammad Asri Zainul Abidin – Pertelingkahan Para Sahabat Nabi (s.a.w): Antara Ketulenan Fakta dan Pembohongan Sejarah (Edisi Kedua) (Pustaka Yamien, Gombak 2003).
    5. Ibrahim ‘Ali Sya’wat – Kesalahan-Kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah yang Perlu Diperbetulkan Semula (edisi terjemahan oleh Basri bin Ibrahim; Jahabersa, Johor Bahru 2003).
    [9] Mamduh Farhan al-Buhairi – al-Syi‘ah Minhum ‘Alaihim, ms. 124. Perkahwinan ini diakui oleh sumber Syi‘ah sendiri, antaranya rujuk buku 14 Manusia Suci oleh Dewan Ulama Organisasi Dakwah Islam, Tehran (edisi terjemahan oleh Yudi Nur Rahman; Pustaka Hidayah, Bandung 2000), ms. 117.
    [10] Sila rujuk:
    1. Muhammad al-Bandadi – al-Tasyaiyu’ baina Mafhum al-Aimmah wa al-Mafhum al-Farisi (Dar ‘Ammar, Amman 1988).
    2. Muhammad Amahzun – Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fi al-Fitan, jld. 2, ms. 267. Bagi edisi terjemahan, lihat ms. 81-82.
    3. Muhammad Abu Zahrah – Tarikh al-Mazahib al-Islamiyyah (Dar al-Fikir al-‘Arabi, Kaherah tp. thn.), ms. 35. Bahagian pertama buku ini telah diterjemahkan oleh Abd Rahman Dahlan & Ahmad Qarib atas judul Aliran Politik dan ‘Akidah dalam Islam (Logos, Jakarta 1996), lihat ms. 38-39.
    4. Ehsan Yarshater (editor) – The Cambridge History of Iran (Cambridge Univ. Press 1983), jld 3: The Seleucid, Parthian and Sasanid Periods.
    [11] Memasukkan nama ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain hanya atas tujuan melengkapkan teori mereka. Jika dikaji dalam riwayat-riwayat yang sahih, mereka berempat, radhiallahu ‘anhum, tidak pernah menuntut hak khalifah, tidak pernah mendakwa diri mereka sebagai yang telah diwasiatkan untuk menjawat kedudukan khalifah dan tidak pernah mencela lain-lain sahabat kerana tidak membai‘ah mereka. Malah mereka berempat sentiasa bergandingan bahu dengan lain-lain sahabat demi kebaikan Islam dan umatnya.
    [12] Untuk mengetahui salasilah anak-anak ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain, lihat buku Ibnu Umar yang berjudul Hukum Ulamak Islam Terhadap Shiah: Dahulu dan Sekarang (Virtue Publications, Kuala Lumpur 1987), ms. 13.
    Ringkasnya kita semua mengetahui bahawa terdapat ramai umat Islam masa kini yang memiliki salasilah keturunan yang berpangkal kepada Hasan dan Husain. Akan tetapi hanya satu daripada salasilah ini yang diambil oleh Syi‘ah untuk dinobatkan sebagai “Imam”, iaitu salasilah yang memiliki darah kesultanan Parsi sahaja.
    [13] Rujukannya telah disebut dalam notakaki nombor 15.
    [14] Walaubagaimanapun sebahagian tokoh Syi‘ah berpendapat beliau memiliki anak yang dilahirkan pada 256H dan dia masih hidup di kalangan manusia sehingga hari ini, hanya menunggu masa untuk menonjol keluar sebagai Imam Mahdi. Lihat buku Ibrahim Amini – al-Imam al-Mahdi: The Just Leader of Humanity (Ansariyan Publication, Tehran 1997).
    Yang benar di atas hanyalah satu teori daripada pelbagai teori demi membela kebenaran teori sebelumnya. Sumber-sumber rujukan Syi‘ah menerangkan bahawa mereka sendiri, selepas kewafatan al-Hasan bin ‘Ali, telah berpecah antara 14 hingga 20 kumpulan. Lihat kajian Moojan Momen dalam bukunya – An Introduction to Shi‘i Islam (Yale Univ. Press, 1985), ms. 59.
    [15] Lebih lanjut tentang teori “Imam” yang ghaib ini di sisi Syi‘ah, lihat buku Mamduh Farhan – al-Syi‘ah Minhum ‘Alaihim, ms. 128 dan seterusnya.
    Bagi kajian ilmiah terhadap konsep Imam Mahdi antara Ahl al-Sunnah dan Syi‘ah, lihat buku ‘Adab Mahmud al-Hamsy – al-Mahdi al-Muntazhor fi Riwayat Ahl al-Sunnah wa al-Syi‘ah al-Imamah: Dirasat Haditsiyyah Naqdiyyah (Dar al-Fath, Amman 2001).
    Kisah Imam Mahdi ini sendiri kini menjadi satu cerita yang masyhur di kalangan para ustaz dan da‘i. Banyak hadis-hadis yang tertolak disampaikan bagi memberangsang dan menaikkan semangat para pembaca dan pendengar mereka. ‘Abd al-‘Alim ‘Abd al-‘Azhim al-Bastawi telah menulis dua buku yang khas dalam subjek ini:
    1. al-Mahdi al-Muntazhor fi Dhaw’a al-Ahadits wa al-Atsar al-Shahihah (Dar Ibn Hazm, Beirut 1999).
    2. al-Mausu‘ah fi Ahadits al-Mahdi al-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah (Dar Ibn Hazm, Beirut 1999).
    [16] Bahkan mengikut kajian Muhammad Asri Yusuf, Syi‘ah 12 Imamah dan al-Rafidhah adalah sama. Lihat buku beliau Syi‘ah Rafidhah: Di Antara Kecuaian ‘Ulama’ dan Kebingungan Ummah (Pustaka Bisyaarah, Kubang Kerian 1992). Namun perlu dibezakan, Syi‘ah 12 Imamah ialah nama yang berkaitan dengan manhaj politik manakala Syi‘ah al-Rafidhah ialah nama yang berkaitan dengan manhaj terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum.
    [17] Peranan Kedutaan Iran di negara-negara Ahl al-Sunnah dalam mendokong dan menyebarkan ajaran Syi‘ah secara aktif bukanlah sesuatu yang baru. Yang terdekat adalah di negara jiran kita, Indonesia. Ini sebagaimana jelas Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya Aliran dan Paham Sesat di Indonesia (Pustaka al-Kautsar, Jakarta 2002), ms. 92 dan seterusnya.
    [18] Syi‘ah pula memiliki teori yang berbeza. Mereka mendakwa Mazhab Syi‘ah telah wujud sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk membenarkan teori ini mereka telah mengemukakan sejumlah dalil daripada al-Qur’an, al-Sunnah dan sejarah. Dalil-dalil ini tidak ada yang menepati dakwaan mereka. Ini kerana pada hakikatnya Mazhab Syi‘ah muncul beberapa dekad selepas dalil-dalil tersebut dan mereka hanya menarik serta memaksa kefahaman daripada dalil tersebut ke arah membenarkan teori mereka. Pendek kata Mazhab Syi‘ah wujud terlebih dahulu kemudian barulah dalil-dalilnya. Ini berbeza dengan Mazhab Ahl al-Sunnah, dalil-dalil wujud terlebih dahulu kemudian barulah “nama” Mazhab Ahl al-Sunnah. Dalil-dalil yang dikemukakan oleh Syi‘ah akan kita bahas dan jawab dalam siri seterusnya insya-Allah.
    [19] Sekali lagi penulis tegaskan bahawa tidak semua bangsa Parsi bermazhab Syi‘ah al-Rafidhah. Sebahagian mereka ada yang mengkaji secara mendalam sehingga akhirnya berpegang teguh kepada Mazhab Ahl al-Sunnah. Oleh itu sekalipun penulis sebut secara umum “Bangsa Parsi” dalam penerangan di atas, ia sebenarnya hanya terbatas kepada mereka yang berpegang teguh kepada Mazhab Syi‘ah al-Rafidhah.

  42. Bagir said

    Salam..

    Buat Mas Anwar Sanusi, byk bngt refrensi Syiah Sunni yg netral,,,slh satunya Murojoa’at(dialog Syaikh Mahmud Syaltut dr Al Azhar Mesir dg Syarafudin Almusawi) ada jg Peshawar Nights..dll. Coba anda cari infonya lewat internet,,,klo anda jeli anda bahkan bisa mendownload bukunya.

    Wassalam

  43. denjaka syiah said

    To neighbour mahdiyin, tolong ganti aja namanya, jangan pakai itu. syiah, menetapkan imam Baqir as, imam Ja’far as, dan para imam yang lainnya, sebagai pemimpin, guru, figur dan sabda-sabdanya adalah sumber rujukan, teks sabda-sabda beliau masih ada sampai sekarang dan menjadi kumpulan hadis-hadis syiah. juga ada biografi sejarah imam yang kita punya. Tapi kok tidak ada dalam periwayatan dalam sejarah maupun pernyataan/sabda para imam yang mengatakan bahwa beliau2 ini pernah berguru pada Abdullah bin Saba, kalau ada tolong sebutkan sumberny

  44. Denny Noor said

    Kalau Syiah bukan yang tertindas, tentunya Arab Saudi bakalan tidak ada di muka bumi ini. Arab Saudi itu kerajaan. Kenapa raja-raja suka menindas? Apa tujuannya mencari-cari kesalaha Syiah? Mau jadi Raja?

    Yang tidak suka (benci) sama Ahl-Bayt as, sejarah telah mencatat, adalah para penguasa yang zalim, mereka ketakutan kalau para pengikut Ali bin Abu Thalib as menjadi kuat. Makanya mereka tidak pernah habis-habisnya cari akal untuk bisa memusnahkan Ahl-Bayt. Nyatanya sampai sekarang para pengikut Ali as terus semakin berkembang. Malah sudah ada yang punya negara (Iran). Apa tidak semakin ketakutan saja mereka.

    Kalau mengerti falsafah Islam, dengan mazhab pemikiran, yang dasarnya Al-Quran, sunnah dan akal. Tidak semestinya untuk terus terusan menyerang Syiah.

    Kalau tidak pernah terjadi perampasan kehalifahan Ali oleh Abu Bakar, tidak akan ada yang namanya Mazhab Syiah, dan tidak akan muncul yang namanya Mazhab Suni. Yang ada hanya satu, Islam.

    Mikirlah, mikir. Kapan lagi kita mau bersatu. Mikir… dong… mikir. Kalau tahu Islam itu agama satu-satunya yang telah dibenarkan oleh Allah. Berjuanglah atas nama Islam, bukan atas nama mazhab, bukan atas nama raja-raja.

    Wassalam

  45. sulaiman said

    kalau dipelajari betul syiah dan ahlu sunnah, keduanya hanya sedikit perbedaan. sedangkan wahabi……..itu aliran biang kerok. aliran ini diciptakan bani saud untuk mempertahankan kerajaan mereka, sehingga apa pun dalil di ada adakan. kalau kita lihat kebelakang, al saud ini sama persis menggunakan system yang dipakai bani umayah (muawiyah cs). kedua duanya mempunyai persamaan yang sangat mutlak……..MEMUSUHI KELUARGA MUHAMMAD SAW.
    benar hadis rasulallah yang mengatakan ; “kebencian kaum jahiliyah kepadaku, akan terus dilakukan kepada anak keturunanku”
    abu sofyan ibn harb memusuhi rasulallah………
    muawiyah memerangi Ali ibn abi Thalib, Kw dan meracun Hasan ibn Ali ra………….
    yazid membantai Husein ibn Ali ra…..
    dan seterusnya………

    zaman sekarang………….sama juga…………wahabi (titisan muawiyah) melakukan hal yang sama……

  46. www

  47. syiah adalah kekuatan inti umat islam sekarang. Kekuatan itu jugalah yang ada pada tasawuf dan tarekat. musuh melihat bahwa inilah yang menjadikan islam kuat. oleh karena itu disebarkanlah FITNAH. Ada orang-orang yang mengatasnamakan dirinya syiah dan tasawuf membuat hal-hal yang bertentangan dengan agama islam. Orang-orang tadi sengaja disusupkan dan mengkaliam dirinya syiah. KEmudian di sisi lain para Kafirin menyediakan dana untuk menyebarluaskan berita itu secara membabi buta. dan memonopoli media…sehingga yang sampai ke kita Semua Syiah sesat.

    Hati-hati umat muslim, Imam Mahdi adalah Ahlul Bait. Dan sekarang siapa yang dekat dengan golongan Ahlul bait?

    Ingat mungkin musuh lebih tahu kekuatan utama umat islam… Dan kekuatan itulah yang diserangnya…difitnahnya…

  48. Waduuh said

    H@NYA SATU YANG KUINGINKAN :

    APAPUN YANG TERJADI….
    AKU….
    WAJIB TETAP BERADA DI….
    ISLAM….
    YANG SEBENAR-BENARNYA ISLAM….

    Semoga Allah swt. menampakkan ke kita mana yang HAQ dan mana yang BATHIL,serta memberikan kita kekuatan untuk menetapi yang Haq dan menolak yang Bathil.

    Wassalam

  49. dipvir said

    hiihihihihihihihihihhihihihihhihihihihihihi.
    ………coment nye pada lucu-lucu…….
    ada yang bener ada yang kagak…bagi yang kagak tobat dehh….siapa yah yang kagak,…mikir yee,jangan saling menjelek jelekkan….baca surat al hujurat ayat 11-13…

  50. hoshi said

    hay.. buat smua umat muslim udahan dong ribut-ributnya!!
    cape’ nih tiap hari org g’ ada bosen”nya bhas ttg perbedaan
    syiah ma sunni… buat semua org yg bca ni coment
    gw mau nanya dong persamaannya syiah ma sunni tu apa aja sih??
    oya khusus buat husseng,aly en bagir ky’nya wajib deh
    dijwab soalnya kan lw ber3 yg paling gmnaaa…gtu !!!
    buat shva stuju bgt gw ma pendapat lw!!

  51. lu'lu' said

    salamun alaik
    saudaraku perhatikan ucapan khomeini berikut dan telaah dengan bijak…..
    Karena sesungguhnya dia mengatakan dalam kitabnya Al-Hukumat : “Sesungguhnya imam-imam kami (Imam-imam Syia’h) kedudukannya tidak ada yang bias mencapainya walaupun oleh seorang nabi yang diutus Allah atau malaikat yang memiliki kedekatan dengan Allah”
    berfikir dan berhati2lah wahai saudaraku….

  52. Ali husen said

    Dialog Ja’far al-Shiddiq dengan seorang Syi‘ah.[3]

    Seorang rawi[4] menuturkan bahawa ada seorang Syi‘ah mendatangi Ja’far bin Muhammad al-Shiddiq[5] Karramallah Wajha lalu segera mengucap salam: “Assalamu‘alaikum waRahmatullahi waBarakatuhu.” Ja’far terus menjawab salam tersebut.

    (Dialog pertama):

    Syi‘ah tadi bertanya: Wahai putra Rasulullah, siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

    Ja’far al-Shiddiq menjawab: Abu Bakar (radhiallahu ‘anh).

    Syi‘ah bertanya: Mana hujahnya dalam hal itu?

    Ja’far menjawab: Firman Allah Ta‘ala:

    Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya Allah telahpun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Makkah) mengeluarkannya (dari negerinya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya. [al-Taubah 9:40]

    Ja’far melanjutkan: Cuba fikirkan, apakah ada orang yang lebih baik dari dua orang yang nombor ketiganya adalah Allah ? Tidak ada seorang pun yang lebih afdhal daripada Abu Bakar selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Maka Syi‘ah berkata: Sesungguhnya ‘Ali bin Abu Thalib ‘alaihi salam telah tidur di tikar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (demi menggantikannya dalam peristiwa hijrah) tanpa mengeluh (jaza’, ertinya tabah) dan tidak takut (faza’, ertinya ia tegar).

    Maka Ja’far menjawab: Dan begitu pula Abu Bakar, dia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa jaza’ dan faza’.

    Syi‘ah menyanggah: Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah menyatakan berbeza dengan apa yang anda katakan !

    Ja’far bertanya: Apa yang difirmankan oleh Allah?

    Syi‘ah menjawab: …ketika ia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita” bukankah ketakutan tadi adalah jaza’ ?

    Ja’far menjelaskan: Tidak kerana Huzn (sedih) itu bukan jaza’ dan faza’. Sedihnya Abu Bakar adalah khuatir jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dan agama Allah tidak lagi ditaati. Jadi kesedihannya adalah terhadap agama Allah dan terhadap Rasul Allah, bukan sedih terhadap dirinya. Bagaimana (dapat dikatakan dia sedih untuk dirinya sendiri padahal) dia disengat lebih dari seratus sengatan dan tidak pernah mengatakan “His” juga (tidak pernah) mengatakan “Uh” (tidak mengerang kesakitan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: