Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Efek Susulan Pasca Kemerdekaan Kosovo

Posted by infosyiah pada 1, Februari 29, 2008

Efek Susulan Pasca Kemerdekaan Kosovo

Tanggal 17 Februari lalu, Kosovo memproklamasikan kemerdekaannya secara sepihak tanpa pensahan PBB. Tak ayal, pemerintahan Serbia pun langsung berang mereaksi langkah Pristina. Rusia dan sejumlah negara-negara Eropa lainnya pun turut menentang aksi sepihak tersebut. Namun AS dan sekutu terdekatnya di Eropa menyatakan dukungan terbukanya atas kemerdekaan Kosovo dari Serbia. Tentu saja kasus ini memunculkan beragam efek susulan.

Kosovo merupakan salah satu propinsi di selatan Serbia. 90 persen penduduknya adalah warga muslim keturunan Albania. Di penghujung tahun 1999, propinsi tersebut berada di bawah pengawasan PBB dan NATO. Situasi ini, secara praktis menunjukkan bahwa selama hampir 9 tahun Kosovo lepas dari kendali Serbia. Proklamasi kemerdekaan Kosovo tak lain adalah upaya simbolik untuk menegaskan lepasnya Pristina dari Beograd. Pemberian status otonomi khusus oleh Marshal Tito, PM Yugoslavia di pertengahan dekade 40-an, tak juga memadamkan hasrat rakyat Kosovo untuk memerdekakan diri. Pasca tragedi genosid yang dilancarkan Slobodan Milosevic untuk menghapus etnis albania di Kosovo pada tahun 1988, semangat rakyat Kosovo untuk memerdekakan diri dari Serbia kian berkobar.

Dengan dicetuskannya kemerdekaan Kosovo, Serbia kehilangan 15 persen wilayahnya. Kosovo juga dikenal sebagai pusat budaya dan agama di Serbia. Tentu saja lepasnya Pristina, membuat marah besar Beograd. Presiden Serbia, Boris Tadic menegaskan, Beograd tidak akan mengakui kemerdekaan Kosovo. Begitu juga dengan PM Serbia, Vojislav Kostunica. Ia menyebut Kosovo sebagai pemerintahan palsu dan memprotes keras sikap mendukung AS. Pemerintah Beograd pun menarik para duta besarnya di AS, Perancis, dan Turki sebagai bentuk protes Serbia atas dukungan negara-negara tersebut terhadap kemerdekaan Kosovo.

Pasca diumumkannya kemerdekaan Kosovo, sejumlah kantor kedutaan besar milik AS, Perancis, Jerman, dan Slovenia, selaku negara pemimpin periodik Uni Eropa , menjadi sasaran amukan para demonstran Serbia di Beograd. Rangkaian aksi unjuk rasa anti-etnis Albania di berbagai wilayah lainnya Serbia, menyulut kembali pertikaian antar etnis di Semenanjung Balkan. Namun dengan kehadiran tentara NATO dan PBB di Kosovo, pemerintah Serbia pun tak kuasa menentang kemerdekaan salah satu propinsinya ini. pernyataan Presiden Serbia yang menginginkan diselesaikannya masalah kemerdekaan Kosovo lewat jalur diplomatik dan konstitusional, patut diapresiasi. Para pengamat menilai, kemenangan Boris Tadic dalam pemilu presiden Serbia baru-baru ini, mengindikasikan bahwa di masa depan, Beograd lebih memilih untuk bergabung dengan Uni Eropa. Karena itu, Serbia tak punya jalan lain kecuali menahan diri dan menerima situasi yang berkembang di Kosovo saat ini.

Namun, paling tidak ketegangan Beograd dengan Pristina, minimal dalam jangka pendek bakal terus berlanjut. Serangan sekelompok warga Serbia di pos perbatasan Kosovo, dan upaya gagal ratusan bekas tentara cadangan Serbia untuk menyusup ke Kosovo merupakan beberapa contoh persoalan yang muncul pasca kemerdekaan Pristina. Kemungkinan, Beograd juga akan menutup perbatasannya dengan Kosovo sehingga warga Kosovo tak bisa lagi bepergian ke wilayah lain Serbia. Sebelum ini pun, Beograd sempat mengancam menerapkan embargo ekonomi terhadap Pristina. Namun ancaman itu disambut dingin oleh rakyat Kosovo. Sebagai catatan, meski Kosovo memiliki cadangan bahan tambang yang kaya, seperti batu bara, namun wilayah ini tergolong sebagai daerah termiskin di Eropa.

Mundurnya 10 wakil etnis Serbia dari Parlemen Kosovo, saat disahkannya deklarasi kemerdekaan, harus dicatat sebagai gempa susulan pertama pasca proklamasi kemerdekaan Kosovo. Sementara itu, meski parlemen Kosovo berjanji melindungi hak-hak kaum minoritas Serbia di wilayahnya, namun pada jam-jam pertama pasca proklamasi kemerdekaan, sejumlah serangan granat terjadi di utara Kosovo, di dekat gedung perwakilan PBB dan kantor Lembaga Keamanan dan Kerjasama Eropa. Sekitar 100 ribu dari 2,2 juta penduduk Kosovo, merupakan warga keturunan Serbia. Sebagian besar mereka tinggal di kawasan utara Kosovo. Mereka juga meneriakkan untuk memisahkan diri dari Kosovo dan bergabung dengan Serbia.

Masih di kawasan Balkan, pasca deklarasi kemerdekaan sepihak Kosovo, warga etnis Serbia di Bosnia juga menuntut kemerdekaan dari Bosnia-Herzegovina. Para analis politik meramalkan, warga etnis Albania di Macedonia kemungkinan bakal meniru langkah saudaranya di Kosovo. Sementara itu di kawasan Eropa lainnya, para pemimpin Skotalandia mencangkan digelarnya referendum untuk melepaskan diri dari Inggris. Ini semua adalah merupakan bagian dari rangkaian guncangan susulan pasca gempa besar kemerdekaan Kosovo. Gempa susulan tersebut bahkan merambah hingga ke kawasan Kaukasia selatan. Para pemimpin gerakan separatis Abkhazia dan Ossetia di Georgia mengumumkan bakal segera menyerahkan tuntutan kemerdekaannya kepada kepada Rusia dan PBB supaya diakui sebagai dua negara yang independen.

Sesungguhnya, pernyataan kemerdekaan secara sepihak oleh Kosovo merupakan preseden buruk bagi dunia. AS mengakui kemerdekaan Kosovo sebagai cara untuk memantapkan pengaruhnya di Balkan. Minimal 20 negara dari 27 anggota Uni Eropa mengakui kemerdekaan Kosovo, seperti Perancis, Inggris, Jerman, dan Italia. Namun negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol, Yunani, Cyprus, Romania, Slowakia, dan Bulgaria mengungkapkan kekhawatirannya atas kemerdekaan sepihak Kosovo. Negara-negara tersebut khawatir, kelompok-kelompok minoritas bakal menjadikan Kosovo sebagai proyek percontohan. Terpecahnya suara Eropa menyangkut masalah ini, memaksa Uni Eropa menyeru anggota-anggotanya mengambil sikap masing-masing. Meski demikian, negara-negara Uni Eropa sepakat untuk menempatkan 2 ribu polisi dan praktisi hukum di Kosovo. Upaya ini bisa dianggap sebagai dukungan secara tidak langsung Uni Eropa atas kemerdekaan Kosovo. Wajar, jika Serbia dan Rusia menilai langkah Uni Eropa sebagai aksi ilegal.

Rusia sebagai sekutu klasik Serbia, menentang keras kemerdekaan Kosovo. Moskow menganggap kemerdekaan Pristina bisa kian memperluas pengaruh AS di Balkan yang bisa mengancam posisi Rusia di kawasan ini. Sudah lama Rusia menganggap isu Kosovo sebagai garis merah, hingga memaksanya berhadapan langsung dengan Barat di DK PBB terkait masalah ini. Namun, dalil utama penolakan Moskow terhadap kemerdekaan Kosovo, adalah pernyataan kemerdekaan sepihak Pristina tanpa restu Beograd dan PBB. Moskow menilai kasus ini sebagai bid’ah yang berbahaya bagi kawasan dunia lainnya yang terancam oleh gerakan separatisme, termasuk Rusia. Moskow menilai kemerdekaan sepihak yang diproklamasikan Kosovo merupakan bentuk pelanggaran nyata atas kedaulatan Serbia, Piagam PBB, Resolusi DK PBB dan kesepakatan kelompok-kelompok yang pernah bertikai di Kosovo. Rusia mendesak DK PBB segera membatalkan kemerdekaan Pristina. Namun negara-negara Barat anggota DK lainnya menolak tuntutan tersebut.[infosyiah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: