Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Perambahan Militerisme ke Luar Angkasa

Posted by infosyiah pada 1, Maret 9, 2008

Perambahan Militerisme ke Luar Angkasa

Militerisme dan peningkatan bujet militer di dunia termasuk salah satu sumber kecemasan umat manusia di masa ini. Menyusul berakhirnya perang dingin antara blok Barat dan bekas blok Timur, diharapkan kehidupan dunia ini akan menuju ke arah perdamaian dan kerukunan serta berkurangnya persaingan senjata. Akan tetapi saat ini kita semua menyaksikan meningkat pesatnya bujet-bujet militer dan melonjaknya volume jual beli senjata di dunia. Tak diragukan bahwa di bidang militerisme, AS tampil sebagai pemegang saham terbesar di dunia. Berdasarkan data-data yang diberikan oleh yayasan Stockholm di Swedia, AS memegang separuh dari seluruh bujet militer di dunia pada tahun 2006. Sedangkan pada tahun 2008, bujet militer negara ini memecahkan rekor ketika mencapai angka 696 miliar Dolar. Dengan uang sebesar ini, kemiskinan di dunia akan dapat ditangani dalam tingkat yang mencolok, berbagai penyakit kelas berat akan dapat dibasmi, dan kesehatan di negara-negara miskin akan dapat ditingkatkan.

Bujet militer AS yang mencapai hampir 700 miliar dolar ini menunjukkan bahwa negara ini berniat menguasai dunia dengan kekuatan senjata. Di tahun-tahun setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2, AS menyerang sejumlah negara, mengakibatkan sejumlah besar manusia mati bergelimpangan darah. Saat ini pun pasukan militer AS menjajah Irak dan Afganistan, dan mengancam negara-negara merdeka yang tidak bersedia mengekor kepada politik-politiknya. Dalam bujet tahun ini, Pentagon meminta biaya sebesar 190 miliar Dolar, dengan alasan pembasmian terorisme, mencakup biaya agresi dan perang di Irak dan Afganistan.

Dalam perhitungan pertama oleh pemerintah AS, biaya agresi militer ke Irak tidak akan melebihi 50 miliar dolar. Akan tetapi ternyata sekarang bahwa selama lima tahun terakhir, 700 miliar dolar telah dikeluarkan untuk membiayai perang ini. Dengan demikian, dari satu sisi, rakyat dunia harus menanggung dampak-dampak mengerikan watak militerisme Gedung Putih, dan dari sisi lain, rakyat AS harus membayar pajak berlipat untuk membiayai agresi-agresi militer semacam ini. Dengan politik militernya ini AS juga telah menyebarkan perang dan semangat permusuhan di dunia, yaitu dengan menjual peralatan perang ke berbagai negara dan kelompk-kelompok yang tengah berperang. Sejumlah besar orang yang tewas dalam berbagai peperangan selama 50 tahun terakhir, baik warga sipil maupun militer, tewas oleh senjata-senjata buatan AS.

Washington mempersenjatai kelompok-kelompok penentang pemerintahan independen dan membuka peluang untuk meletusnya perang internal atau semakin memperhebat perang-perang yang sudah ada. Pemerintah AS mengeruk keuntungan amat besar dari penjualan senjata-senjata ringan dan berat kepada para perusuh di berbagai pelosok dunia. Untuk itulah AS adalah satu-satunya negara yang menentang rancangan PBB untuk mencegah penyelundupan senjata-senjata ringan. Akan tetapi keuntungan asli bagi pabrik-pabrik peralatan militer AS, berasal dari penjualan peralatan perang ini ke negara-negara lain. Hanya di tahun 2006, AS telah meneken perjanjian jual beli senjata senilai 21 miliar dolar dengan negara lain, yang berarti dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Dengan berbagai cara, Gedung Putih mendorong negara-negara lain untuk membeli senjata buatannya.

Cara terpenting dalam hal ini ialah menciptakan hubungan tegang dan sikap saling curiga diantara berbagai negara, untuk mendorong mereka berlomba membeli senjata, dimana AS adalah negara produsennya yang paling besar. Tentu saja para pejabat Washington mengklaim bahwa pihaknya menjual senjata dalam rangka membela HAM dan melindungi dasar-dasar demokrasi. Sementara menurut laporan Yayasan Politik Internasional (WPI), di tahun 2005 lebih dari 70 persen senjata telah diekspor dari AS ke negara-negara yang tidak menegakkan demokrasi dan pelanggar HAM. Diantara pasar senjata yang paling disukai oleh AS ialah negara-negara Arab Timur Tengah. Sejak berdirinya rezim zionis pada 60 tahun lalu hingga kini, kawasan ini selalu dirundung ketegangan dan krisis. Selain itu sebagian besar negara kawasan ini memiliki sumber minyak yang sangat besar, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan untuk membeli senjata semahal apa pun.

Selama lima tahun sejak peristiwa 11 September 2001, AS telah menjual senjatanya senilai 1 miliar dolar, hanya ke sebuah negara kecil seperti Bahrain, di Teluk Persia. Dalam dua tahun terakhir, sejajar dengan naiknya harga minyak, upaya AS untuk menjual senjata ke negara-negara Timur Tengah juga naik. Hasilnya, sekitar lima bulan lalu, George Bush, Presiden AS, mengumumkan bahwa ia berniat mengekspor senjata senilai 63 miliar dolar dalam waktu 10 tahun, ke Timur Tengah. Timur Tengah yang dimaksud oleh Bush, mencakup rezim zionis, dan sudah barang tentu, rezim ini menerima bagian yang sangat besar. Dalam program penjualan senjata yang terakhir ini, rezim zionis menerima bagian hampir 50 persen, sedangkan 50 persen lainnya dibagi ke beberapa negara Arab.

Wiliam Hartung, anggota senior Yayasan Politik Internasional dan Direktur Organisasi Pusat Perdagangan Senjata, berkenaan dengan klaim AS tentang penjualan senjata kepada negara-negara demokratik dan penentang terorisme, menulis, “Sumber-sumber keuangan Arab Saudi bukan hanya disalurkan untuk membantu para perusuh di Irak, bahkan mereka mendukung sepenuhnya para ekstrimis muslimin di seluruh dunia.” Selanjutnya Hartung menyinggung laporan terbaru Deplu AS berkenaan dengan kondisi HAM di Arab Saudi, dan mengatakan, “Polisi Arab Saudi menimpakan berbagai macam siksaan kepada warga negaranya dan warga asing lelaki dan perempuan di dalam penjara-penjara. Mereka memukul, mengumpat dan melakukan berbagai penyimpangan terhadap para tahanan.”

Berkenaan dengan Mesir, pasar empuk lain bagi senjata-senjata made in AS, Hartung menulis, “Setelah lewatnya beberapa dekade dari pemberian bantuan-bantuan AS kepada Mesir, kita tidak menyaksikan adanya perubahan berarti pada kondisi HAM dan Demokrasi di negara ini.” Dalam hal ini, dengan bersandar kepada laporan Deplu AS, Hartung menilai tingkat pemeliharaan HAM di Mesir rendah. Dalam perjalanan politik militerismenya, selain memproduksi dan menjual senjata-senjata konvensional, AS juga memproduksi peralatan perang yang inkonvensional, baik bom-bom kimia maupun nuklir. Saat ini AS adalah pemilik gudang senjata nuklir dan kimia terbesar di dunia. Sejak beberapa tahun lalu Pentagon diketahui tengah memproduksi bom-bom atom kecil yang disebut “bom-bom miniatur”, untuk dimanfaatkan dalam perang.

AS yang pernah menggunakan bom atom dalam perang melawan Jepang di akhir Perang Dunia ke-2, kini berniat menggunakan pula bom-bom atom mini, untuk menciptakan tragedi kemanusiaan baru. Selain itu para spesialis senjata AS, selalu saja menciptakan senjata-senjata baru yang memiliki daya rusak dan daya bunuh yang semakin besar. Diantaranya, pada tahun 2005, jaringan berita BBC memberitakan bahwa AS telah memproduksi suatu bom yang akan membuat korbannya tertimpa gangguan dan penyimpangan perilaku dan akan terdorong kepada homoseksual. Penggunaan senjata-senjata tak manusiawi dan tak bermoral seperti ini, pasti akan menimbulkan dampak-dampak negatif yang sangat luas.

Belum lama berselang, dengan alasan bahwa satelit-satelitnya telah keluar dari peredarannya, dan dengan tujuan mencegahnya terjatuh ke bumi, AS menghancurkan satelitnya itu di ruang angkasa dengan tembakan rudal balistik. Saat itu banyak pengamat militer mengeluarkan pendapatnya bahwa langkah AS ini tak lain adalah sebah uji coba militer, dan AS berniat membuktikan kekuatan rudalnya untuk menghancurkan satelit-satelit di ruang angkasa. Padahal berdasarkan perjanjian yang dibuat pada dekade 60, oleh sejumlah negara besar, segala macam usaha militerisasi ruang angkasa, telah dinyatakan terlarang. Untuk itu Rusia merilis stetmen keras, mengecam operasi rudal AS yang menjadikan satelit sebagai sasarannya.

Langkah AS dalam membentangkan kekuatan militernya hingga ke ruang angkasa, mengingatkan program Perang Bintang Ronald Reagan, Presiden AS yang hobi perang, di dekade 80. Berdasarkan program tersebut AS akan menempatkan pos-pos di ruang angkasa yang akan menghancurkan rudal-rudal musuh di udara. Akan tetapi program Perang bintang ini, terpaksa dipeti-es-kan, karena biayanya yang sangat tinggi dan berbagai kerumitan teknisnya. Kini tampaknya, George Bush ingin merealisasikan program tersebut dengan cara lain dan secara bertahap.

Pentagon berencana, pada 5 tahun mendatang akan mempersiapkan minimal 50 miliar dolar untuk membangun sebuah sistim pertahanan beberapa lapis untuk bertahan dari serangan rudal musuh, dan telah mengalokasikan bujet untuk penelitian pembangunan tiga pos peluncur rudal di ruang angkasa. Sebagaimana dikatakan oleh Jim Wolf, pakar masalah politik dan militer, di dunia ini tidak ada negara yang memberikan perhatian sedemikian besar kepada ruang angkasa dan satelit, yang berperan bagaikan mata dan telinga, sebagaimana AS. Karena tanpa satelit-satelit intelijen dan informasi ini, maka AS tidak akan memiliki kekuatan untuk mengontrol aktifitas negara-negara lain dan tidak akan mampu menguasai dunia. Berdasarkan data-data dari Agen Ruang Angkasa Perancis, AS telah mengalokasikan 95 persen dari seluruh biaya yang telah dikeluarkan oleh negara-negara di dunia, di bidang militerisasi ruang angkasa.[infosyiah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: