Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Jubah Sayyid Hasan Nasrullah dan Seorang Wanita Lebanon

Posted by infosyiah pada 1, Maret 16, 2008

Jubah Sayyid Hasan Nasrullah dan Seorang Wanita Lebanon

a_lebanese_c_hezbollah_hassan_nasrallah_200610191319144841_afp.jpg

Tulisan ini menggambarkan sebuah kisah dari seorang wanita Libanon yang bernama Rim Haidar dan bagaimana kehidupannya berubah setelah menerima hadiah jubah dari pemimpin Hizbullah dan kemudian di juluki sebagai Ummu Aba’ah.

Berdasarkan laporan yang dinukil oleh koresponden Baztab, stasiun TV al Mannar (milik Hizbullah) di awal perang 33 hari yang lalu menampilkan sebuah acara talk show, sebuah acara yang kemudian mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi rakyat Libanon, yang diwawancarai adalah seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan. Ia telah berpisah dengan suaminya, dan tinggal bersama dengan putri semata wayangnya Sarah yang berumur 8 tahun.

Kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya setelah wawancara itu berkisar tentang apakah ia sebelumnya diajari bagaimana cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di wawancara itu. Rim menjawab : “hari itu layaknya hari-hari yang lain, benar-benar apa adanya dan tidak dibuat-buat”.

Kronologi peristiwa wawancara itu kira-kira seperti ini : hari itu setelah membeli koran Rim berjalan ke arah sebuah restoran yang terletak di jalan Hamra, ketika ia berjalan secara tidak sengaja berpapasan dengan kru TV al Mannar yang sedang sibuk mewawancarai masyarakat sekitar di trotoar jalan tersebut. Tiba-tiba sutradara acara wawancara ini memanggilnya dan ia pun melangkah ke arah orang yang memanggilnya tersebut yang berada di sebuah trotoar jalan dimana kamera TV al Mannar terletak. Sutradara ini tentu saja sebelumnya tidak memiliki informasi tentang pandangan politik Rim waktu itu, dan ia pun tidak mengetahui apakah Rim dari kelompok yang mendukung Hizbullah atau dari kelompok yang menentangnya, dan apakah ia akan menghindar dan mengelak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya atau malah akan menjawabnya. Pertama sebuah pertanyaan diajukan untuk Rim, apakah anda bersedia untuk mengatakan sepatah dua patah kata di acara kami ? Rim menjawab : “tidak”.

Rim mengatakan bahwa ia tidak mengetahui alasan sutradara itu mengapa memilihnya untuk diwawancarai, mereka bahkan sedikitpun tidak bertanya tentang Hizbullah.

Kemudian Rim balik bertanya : “kalian bekerja untuk stasiun televisi mana?”. Sutradara acara ini dengan segala kerendahan hatinya menjawab : “kami bekerja untuk saluran al Mannar”. Rim berkata pada dirinya sendiri, mendengar jawaban itu saya menjadi sangat gelisah dan ribuan kata-kata luar biasa berkecamuk di hati saya dan seolah-olah saya ingin keluarkan semuanya. Di dalam hati saya, saya berkata : “benteng perlindungan abadi kami orang-orang Libanon, berawal dari medan perang para syuhada”.

Selepas itu sutradara acara wawancara ini meminta Rim untuk menyampaikan pesan kepada rakyat Libanon, pesan terkenal dan masyhur Rim inilah yang kemudian oleh stasiun TV al Mannar selama masa perang 33 hari selalu ditayangkan. Perlu diketahui pula bahwa wawancara ini dilakukan pada awal-awal perang, yaitu ketika pertempuran-pertempuran sengit Hizbullah melawan Israel dan pembunuhan-pembunuhan tanpa belas kasihan yang dilakukan Israel belum terjadi.

Rim dengan sangat bersemangat berkata : “jika wawancara itu dilakukan setelah pembunuhan-pembunuhan dan kejahatan-kejahatan yang dilakukan Israel itu terjadi, saat itu Tuhan tahu hal-hal apa yang akan saya sampaikan”.

Di akhir wawancara ini reporter al Mannar menanyakan tentang Sayyid Hasan Nasrullah kepada Rim, reporter itu bertanya : “ada yang ingin anda sampaikan tentang beliau “?. Ketika menjawab pertanyaan tersebut Rim berkata : “tidak ada yang saya dambakan setelah kemenangan rakyat Libanon nanti kecuali saya bisa mendapatkan jubah yang penuh berkah karena dibasahi oleh keringat Sayyid Hasan Nasrullah dan jubah itu akan saya potong-potong dan akan saya bagikan kepada seluruh rakyat Libanon sehingga mereka pun dapat merasakan keajaiban, kebanggaan dan kemuliaannya juga”. Lampu kamera selepas perkataan terakhir Rim ini mati,dan Rim pun melanjutkan langkahnya menuju restoran yang ditujunya dan berada di wilayah Hamra itu untuk minum kopi dan memulai obrolan hangatnya bersama teman-teman, seperti kebiasaannya setiap hari, dan hari itupun seperti itu ia lewati.

Rim juga mengingatkan : “sebelum wawancara itu, saya sama sekali tidak pernah memperhatikan Sayyid Hasan Nasrullah. Keadaan yang sebenarnya adalah saya tidak seperti layaknya para pendukung Hizbullah yang begitu mencurahkan perhatiannya kepada Sayyid Hasan Nasrullah, saya tidak begitu perhatian kepada beliau. Saya mencintai figur-figur yang mempunyai kepribadian yang humanis, terserah dia mau bernama hasan atau George, nama bagi saya tidak penting yang terpenting adalah kepribadian dan figur yang humanis”.

Rim dalam penjelasannya mengenai permintaannya untuk memperoleh jubah milik Sayyid Hasan Nasrullah mengatakan : “saya memang ingin memperoleh jubah beliau itu tetapi jubah dalam makna kiasan, dan saya sebelumnya tidak pernah berharap untuk memiliki jubah ini dalam bentuk fisiknya. Maksud saya adalah harapan untuk memperoleh pakaian Sayyid Hasan Nasrullah yang tidak lain adalah pakaian kehormatan, kemuliaan dan keberanian…!!”.

Penjelasan Rim mengenai ia akan memotong-motong jubah itu dan membagikannya kepada seluruh rakyat Libanon pun adalah bentuk majas dan metaporis saja. Rim sendiri mengatakan bahwa apa yang saya katakan itu adalah pesan untuk pihak-pihak yang tidak sepakat dan tidak sependapat dengan kami.

Ketika Rim melihat dan mendengar pidato-pidato Sayyid Hasan Nasrullah, perhatiannya sama sekali tidak tertuju pada jubahnya, tetapi semua perhatiannya ia curahkan pada apa yang dikatakan oleh beliau, dan Rim selalu terpesona dengan perubahan mimik muka, gaya bicara dan gerak-gerik beliau di depan podium.

Lantas sejak kapan seluruh perhatian Rim mulai tertuju pada jubah Sayyid Hasan Nasrullah?

Sudah pasti setelah acara wawancara itu. Karena setelah acara itu masyarakat menjulukinya sebagai Ummu Aba’ah (Ibunya Jubah) dan mereka bertanya kepada Rim, jubah yang mana yang akan diberikan Sayyid Hasan Nasrullah kepadanya, yang berwarna biru tua atau yang berwarna coklat ? sampai ketika kabar tentang kepastian diterimanya jubah itu sampai, Rim sama sekali tidak pernah menunggu-nunggu kedatangannya.Tapi pada akhirnya Rim bisa memperoleh jubah Sayyid Hasan Nasrullah itu dalam bentuk fisiknya, sebuah jubah yang khusus dipakai Sayyid Hasan Nasrullah pada acara-acara perayaan dan di hari-hari gembira saja.

Tepatnya pada hari ketika tragedi Qana terjadi, salah satu dari petinggi Hizbullah menghubungi Rim dan mengatakan bahwa apa yang anda inginkan akan segera anda peroleh dan Rim pun berterimakasih kepada mereka dan mengatakan bahwa ia tidak berharap apa-apa selain dari keselamatan Sayyid Hasan Nasrullah. Ini adalah kontak pertama Hizbullah dengan Rim, dan kontak-kontak berikutnya berlangsung sampai akhirnya pada tanggal 18 September 2006 apa yang di idam-idamkan Rim menjadi kenyataan dan ia menerima jubah Sayyid Hasan Nasrullah tersebut.

Walaupun Rim menjadi terkenal gara-gara wawancara yang dilakukannya dengan al Mannar, dan menjadi pusat perhatian masyarakat, sampai-sampai suatu ketika sopir-sopir taksi di sekitar tempat tinggalnya memaksanya untuk menaiki taksi mereka dan mengantarkannya sampai ke tujuan tanpa memungut biaya alias gratis, tetapi kondisi Rim setelah melewati hari itu sangat di luar dugaannya dan jauh dari apa yang dibayangkannya, pada saat ia begitu dibanjiri oleh pertanyaan-pertanyaan lewat telepon yang terpaksa harus ia jawab semua, pada saat yang sama 4 kali ia mendapat ancaman telepon, yang mengancamnya akan mengambil secara paksa jubah tersebut dari tangannya, sehingga ia pun terpaksa menandatangani perjanjian dengan sebuah perusahaan asuransi untuk melindungi “hartanya” tersebut. Harta yang sebenar-benarnya harta, sesuai dengan makna yang dikandungnya, dan ini adalah jubah pertama di dunia yang di asuransikan.

Ada juga orang yang mencoba menawarkan diri untuk membeli jubah tersebut seharga 1 juta dollar Amerika, bahkan ia bersedia menaikan tawarannya dan mau membelinya dengan harga yang sangat tinggi, tapi Rim menolak mentah-mentah tawarannya itu, dan ia tidak bersedia untuk menukar hadiah dari Sayyid Hasan Nasrullah itu dengan segala perhiasan dunia yang ditawarkan padanya.

Di buku catatan Rim tertulis banyak jadwal-jadwal rencana acara yang harus ia tepati dan setelah wawancara dengan harian as Safir, dia harus segera mempersiapkan diri untuk diwawancarai oleh media-media massa dan saluran-saluran televisi lainnya di beberapa wilayah Libanon. Rim juga pernah bertatap muka dengan sebuah delegasi dari Jordania.

Sebuah acara pun telah dipersiapkan untuk merayakan kesuksesan Rim, acara ini sedianya akan dilaksanakan di sebuah kampung bernama Badnail yang adalah tempat kelahiran Rim dengan dihadiri oleh undangan-undangan dan orang-orang penting lainnya.

Rim yang setiap hari semakin sibuk saja ini, ternyata tidak melupakan jadwal pertemuannya dengan Ibu Kamilah, seorang ibu tua yang berdiri di depan kamera al Mannar tepat di atas reruntuhan rumahnya berkata : “semoga rumah ini menjadi pengorbanan saya bagi debu di telapak kaki perlawanan Hizbullah…..”

Ridha Qashmar, seorang sutradara film yang mempunyai track record bagus dalam film-film tentang wanita dan juga pemimpin beberapa asosiasi film rekanannya yang tergabung dalam sebuah perusahaan yang bernama “Rekayasa Mitos Perlawanan” mengatakan : “Rim dan Kamilah akan menjadi dua bintang di film saya”.

Perlu dicatat bahwa Rim tidak mempunyai pekerjaan, tetapi tawaran bekerja seperti menjadi pembawa acara di sebuah saluran televisi berbahasa Arab datang padanya, yang pada akhirnya ia tolak, dengan alasan bahwa ia tidak ingin meninggalkan Libanon walaupun itu untuk sebuah pekerjaan.

Oleh karena itu apakah orang yang menawarkan pekerjaan itu bukanlah orang yang sama yang pada masa perang menyarankan Rim untuk meninggalkan rumahnya dan segera keluar dari Libanon ? Pada waktu itu Rim berkata kepada putrinya : dengan mengosongkan rumah, berarti kita mempermudah pekerjaan Israel untuk mengalahkan kita.

Apakah sekarang Rim mempunyai keinginan untuk bertemu dengan Sayyid Hasan Nasrullah? mengenai hal ini Rim menjawab : “saya bahkan tidak pernah bermimpi untuk bertemu dengan beliau, satu-satunya harapan saya adalah semoga beliau selalu berada dalam keselamatan, itu adalah harapan saya yang paling besar”.

Rim menutup wawancara ini dengan mengatakan bahwa Sayyid Hasan Nasrullah itu seperti bapak saya sendiri yang meninggal 15 tahun yang lalu. Pada waktu ketika 2 prajurit Israel berhasil di tawan Hizbullah, waktu itu saya merasakan seakan-akan saya tidak yatim lagi dan ada orang yang bisa membalaskan dendam saya.[Herry s]

Sumber: baztab 3 November 2006[infosyiah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: