Info Syiah

Ringan, Segar dan Mencerahkan

Sayyid Hasan Nasrullah Bercerita Tentang Dirinya

Posted by infosyiah pada 1, Maret 17, 2008

Sayyid Hasan Nasrullah Bercerita Tentang Dirinya

tiga-serangkai.jpg

Menurut laporan Fars, Hamid Davoud Abadi seorang periset mengenai pembelaan tanah air melakukan penelitian yang cukup luas mengenai gerakan perlawanan di Lebanon menghadapi Rezim Zionis Israel. Penelitiannya itu kemudian dibukukannya dengan judul “Pareh-haye Poulad” (lempengan-lempengan baja). Dalam karya terbarunya ia menulis biografi Sayyid Hasan Nasrullah yang juga telah dibukukan dan akan segera diterbitkan. Buku ini adalah hasil dari wawancaranya dengan Sayyid Hasan Nasrullah.

Sebagian dari wawancara itu dikutip oleh situs Sajed seperti berikut ini:

Nama saya adalah Hasan Nasrullah anak dari pasangan Abdul Karim dan Mahdiyah Shafiyuddin. Saya dilahirkan pada tahun 1962. Aslinya saya orang al-Bazuriyah di daerah Shur yang terletak di Lebanon Selatan, namun saya dilahirkan di sebuah daerah pinggiran timur kota Beirut. Kondisi kehidupan keluargaku termasuk keluarga miskin, sama dengan kebanyakan keluarga-keluarga Syiah lainnya yang pindah dari selatan Lebanon menuju Beirut untuk mencari pekerjaan dan makanan. Masih teringat sebuah sekolah bernama an-Najah atau al-Kifah, saya tidak ingat persis namanya, adalah tempat di mana saya dilahirkan di daerah itu dan menjadi sekolah SD saya waktu itu.

Setelah menyelesaikan sekolah SD, saya masuk sekolah SMP, di Lebanon kami menyebutnya takmili (penyempurna) dan menamatkannya. Tepat di masa-masa itulah terjadi perang saudara antara tahun 1974-1975. Saat perang terjadi, sekolah-sekolah diliburkan dan pinggiran timur kota Beirut yang mayoritasnya ditinggali oleh orang-orang Syiah dikuasai oleh tentara Lebanon dan Partai Kataib, yang kalian sebut Phalangist. Akibatnya kami meninggalkan daerah itu dan kembali lagi ke al-Bazuriyah di Lebanon Selatan.

Sejak kecil saya punya kecenderungan yang luar biasa untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan saya sangat mengharapkan dapat belajar di hawzah ilmiah (pesantren Syiah). Setiap kali memandang orang yang ber’amamah (sorban khas ulama Syiah), saya pasti menatap wajah mereka, mungkin lebih tepat dikatakan melotot. Sejak kecil pula, setiap kali saya duduk bersama-sama dengan mereka yang ber’amamah, saya pasti memandang ‘amamahnya dengan seksama bagaimana cara melipatnya sehingga terbentuk seperti itu. Pada waktu itu, ‘amamah yang saya lihat itu dari sebuah kain hitam yang dipilin sedemikian rupa di luar sorban biasa yang dipakai.

Saya mengambil sorban ayah lalu melilitnya dengan sebuah kain dan kemudian menambahkan ‘amamah di atasnya lalu saya meletakkannya di kepala. Begitulah, betapa masa kecil saya selalu punya keinginan untuk menuntut ilmu dan memakai pakaian itu. Sejak itu pula saya memutuskan untuk menuntut ilmu di Najaf, Irak.

Kami ada 9 bersaudara dan selisih umur adalah satu tahun. Saya adalah anak tertua dan memiliki tiga orang saudara laki; Husein setahun lebih kecil dari saya dan setelah Husein kami punya seorang adik perempuan bernama Zainab. Setelah dia adalah Fathimah, Muhammad, Ja’far, Zakiyah, Aminah dan Sa’aad. Bila dikelompokkan, saya punya tiga orang saudara laki dan lima orang perempuan.

Keluarga kami tidak ada yang berasal dari kalangan rohaniwan, tidak di keluarga kami bahkan keluarga paman, anak-anak paman, kakek, saudara-saudara kakek, anak-anak dari saudara-saudara kakek dan kakek buyut. Artinya saya yakin tiga sampai empat keturunan ayah, kakek, kakek buyut dan ayahnya kakek buyut tidak ada satu pun yang rohaniwan.

Hakikatnya, pendidikan agama yang membawa saya menjadi talabeh (sebutan bagi santri Syiah) buat saya adalah taufik ilahi. Saya ingin menekankan betapa kehidupan keberagaman kami di rumah sangat biasa. Artinya, ayah dan ibu saya di rumah dalam kehidupan kerberagamaannya adalah dengan melakukan salat 5 waktu dan ketika memasuki bulan Ramadhan, mereka melakukan puasa, sampai sebatas itu.

Saya sangat berterima kasih kepada Allah, karena pilihan saya menjadi seorang rohaniwan tidak pernah ada orang yang mendorong dan mengantarkan saya ke sana. Sejauh ingatan saya, waktu itu saya masih kecil dan kami punya al-Quran. Saya mengambilnya dan kemudian membacanya. Saya tidak mengerti apa yang saya baca, namun surga dan neraka tertanam dalam pikiran saya sejak saat itu.

Suatu hari saya mendekati penjual buku keliling. Setelah membuka-buka buku apa saja yang dimilikinya, saya menemukan buku “Irsyadul Qulub” (penuntun hati). Pada waktu itu saya berumur 8 atau 9 tahun. Saya mengambil buku tersebut dan membeli darinya. Buku Irsyadul Qulub karangan al-Dailami ini berisikan nasehat-nasehat dan cerita-cerita yang sangat mempengaruhi saya. Kalau boleh saya katakan bahwa buku ini punya pengaruh besar dalam kehidupan saya. Sejak itu saya punya keasikan lain yaitu mencari buku-buku Islam, karena saya juga tidak tahu mengenai perpustakaan Islam. Saya masih ingat, suatu hari saya mendekati seorang penjual loakan dan saya menemukan sebuah buku kecil berujudul “Qadha Amirul Mukminin” (putusan hukum Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as). Saya membawanya pulang ke rumah dan mulai membacanya dan setiap kali buku itu hampir selesai dibaca, saya mengulangi membacanya dari awal lagi. Hal itu saya lakukan karena keingintahuan yang sangat.

Beberapa tahun kondisi yang seperti ini terjadi dalam kehidupan saya. Di tempat kami tidak ada seorang yang betul-betul dapat disebut agamis. Saya tidak pernah bertemu dengan rohaniwan dan seorang yang agamis. Di daerah kami, ada seorang tua yang telah pergi haji, punya janggut panjang dan dia biasa melakukan salat di tokonya. Saya menanggapnya sebagai orang agamis. Saya sering ke tokonya hanya untuk melihat janggutnya dan bagaimana dia melakukan salat. Saya sangat menyukainya.

Ayah saya sangat mencintai Sayyid Imam Musa Shadr. Suatu hari ayah saya membawa foto-foto Imam Musa Shadr. Saya duduk cukup lama sambil memandang foto Sayyid Imam Musa Shadr yang memakai ‘amamah. Itu adalah masa-masa di mana saya tengah mencari seorang rohaniwan, orang agamis atau siapa saja yang dapat memberikan manfaat buat saya. Hal itu berlanjut sampai saya menyelesaikan sekolah SD. Umur saya waktu itu antara 10 atau 11 tahun dan untuk melanjutkan sekolah SMP, sekolahnya berada di luar daerah kami. Sekolah SMp itu berada di dekat masjid. Di masjid itu, Sayyid Husein Fadhlullah melaksanakan salatnya di sana. Di masjid itulah saya mulai berkenalan dengan para pemuda mukmin. Sejak saat itu saya lebih sering pergi ke masjid itu. Namun di tahun-tahun pertama, sebelum berumur 10 tahun, kira-kira beberapa tahun saja dengan taufik ilahi dan bersandarkan pada kemampuanku yang tidak seberapa saya melakukan pencarian itu.

Sejak SMP itu, saya membaca al-Quran dan buku-buku agama di malam hari dan tidur saya bermimpi api neraka dan saya betul-betul sangat ketakutan. Pada masa itu, kondisi rohani saya lebih baik dari sekarang. Saya masih ingat bagaiman saya tidak pernah melalaikan salat malam. Namun setelah menjabat dan punya tanggung jawab, saya sulit menjadi seperti dahulu lagi. (Sambil tertawa dan bercanda) Yakni, masa itu ketika saya membaca al-Quran atau menunaikan salat, saya punya perhatian dengan masalah kehadiran hati dan khusyu’. Artinya, lembaran nafas saya masih bersih dan belum terikat dengan dunia ini. Itu adalah masa kecil saya.

Ada kondisi yang di tengah keluar kami yang sangat mengganggu dan membuat saya menyesalinya. Sampai waktu sebelum saya berangkat melanjutkan pendidikan di Najaf, Irak, keluarga kami belum pernah duduk dan makan bersama. Gambarannya demikian, saya dan saudara laki serta perempuan makan bersama di rumah, sementara ayah dan ibu makan di kios, atau kami makan bersama ibu saja atau ayah saja. Namun kami sekeluarga… saya cukupkan dengan mengatakan bahwa kami belum pernah berkumpul semua untuk makan bareng. Karena ayah setelah salat subuh dia pasti pergi ke kios dan kembalinya jam 12 malam. Ibuku juga pergi ke kios untuk membantu ayah agar ayah dapat istirahat dan menunaikan salat. Ini adalah pengalaman pahit yang sangat menyiksa di masa kecilku.[infosyiah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: